Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Menulis yang Melindungi?

Redaksi • Kamis, 5 Desember 2024 | 18:57 WIB
Okky Madasari, Ph.D., alumnus National University of Singapore, salah seorang pemateri dalam kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.
Okky Madasari, Ph.D., alumnus National University of Singapore, salah seorang pemateri dalam kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

Menulis yang Melindungi?

Oleh: Sutejo

HARI ini, Kamis (5/12), di komunitas Sutejo Spektrum Center (SSC), diadakan pelatihan menulis bertema:  “Writing is healing, Writing is protecting”, untuk memperingati “16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan”.

Hadir sebagai pemateri Novelis kondang Okky Madasari, Ph.D., alumnus National University of Singapore dan Psikolog Illiyin Tri Mukaromah, M.Psi.

Kegiatan itu sendiri diadakan atas kerjasama Yayasan Nalar Naluri Nurani dengan  OM Institute dan Sutejo Spektrum Center. Apa yang menarik gagasan menulis untuk melindungi?

Mengintip https://komnasperempuan.go.id, tentang kampanye “16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan”, dimaksudkan agar muncul upaya penting bagi kaum perempuan terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan. Maka, yang menarik dipikirkan adalah bagaimana menulis bisa digunakan sebagai upaya perlindungan perempuan?

Sekilas Sejarah

Dikutip dari laman Komnas Perempuan, ternyata sejarah lahir Kampanye “16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan” ini mengandung pesan  pajang. Sebuah gerakan kampanye internasional dalam mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.

Di Indonesia, Komnas Perempuan adalah inisiator kegiatannya. Aktivitas gerakan internasional ini, pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute pada 1991,  disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership.

Adapun kegiatannya, biasanya dilangsungkan di rentang tanggal 25 November (Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan) sampai dengan  tanggal 10 Desember (Hari Hak Asasi Manusia) Internasional.

Rentang waktu itu dipilih, secara simbolis dikandung pesan akan pentingnya gerakan anti kekerasan  terhadap perempuan dan HAM. Pesan besarnya: perlu disadari secara luas bahwa kekerasan terhadap perempuan jadi salah satu bentuk pelanggaran HAM.

Yayasan Nalar Naluri Nurani bekerja sama dengan  OM Institute dan Sutejo Spektrum Center memandang penting gerakan menulis yang pro  gerakan demikian. Menulis dapat memahamkan, menyadarkan, dan menggerakkan semua pihak secara bersama-sama dalam melindungi dan memuliakan perempuan tanpa kekerasan.

Menulis itu Melindungi

Pertama, perlu adanya kesadaran bahwa gerakan menulis sebagai alat perjuangan perlindungan dan pemuliaan perempuan. Maka, rentang 16 hari sejak 25/11 hingga 20/12, dapat dijadikan waktu inspiratif berkampanye secara masif, menulis tema penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Kehadiran Okky Madasari dan Psikolog Illiyin Tri Mukaromah, M.Psi., adalah inspirasi penting dalam mewujudkan gerakan internasional di tingkat lokal dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan melalui aktivitas menulis.

Penting disadari, gerakan ini membutuhkan kerja sama berbagai pihak: (i) masyarakat bergerak serentak, (ii) aktivis HAM perempuan, (iii) pemerintah, (iv) masyarakat umum, serta (v) akademisi perguruan tinggi.

Gerakan bersama pelatihan menulis bertema perlindungan perempuan melalui menulis demikian, harapannya dapat dilakukan sebagai berikut.

Pertama, mampu menggalang gerakan menulis berasas solidaritas  ber-kesadaran: kekerasan terhadap perempuan sebagai pelanggaran HAM.

Kedua, gerakan menulis yang mampu mendorong berbagai pihak berkegiatan bersama, yang menjamin perlindungan lebih baik bagi para survivor (korban yang sudah mampu melampaui pengalaman kekerasan).

Ketiga, gerakan menulis yang mampu mengajak khalayak luas terlibat aktif sesuai dengan kapasitas dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Keempat, gerakan menulis yang mampu menginspirasi lahirnya strategi, yang dapat menginspirasi beragam kegiatan kampanye dari satu daerah ke daerah lain secara kongkret.

Kelima, gerakan menulis yang mampu meningkatkan wawasan dan pemahaman mengenai kekerasan berbasis jender sebagai isu HAM di berbagai tingkatan.

Keenam, gerakan menulis yang mampu memperkuat aktivitas nyata di tingkat lokal dalam menangani dan mendampingi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang ada.

Ketujuh, gerakan menulis yang mampu mendorong kerja sama solid dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di tingkat lokal dan nasional.

Kedelapan, gerakan menulis yang mampumengembangkan pendekatan dan metode efektif dalam peningkatan pemahaman publik terhadap penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Kesembilan, gerakan menulis yang mampu menjadikannya sebagai strategi perlawanan dalam gerakan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Kesepuluh, gerakan menulis yang mampumenunjukkan solidaritas semua pihak terhadap  perempuan sedunia, yakni penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Apa yang Ditulis?

Nah sekarang, apa yang ditulis direntang “16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan”? Karena kegiatan ini merupakan aktivitas internasional yang dilakukan di berbagai negara, maka tema perlindungan dan pemuliaan terhadap perempuan dapat dikaitkan dengan peringatan hari internasional yang ada.

Karena itu, apa yang ditulis dalam gerakan menulis untuk melindungi perempuan, penting berpijak pada sejarah kejadian di balik peringatan hari-hari internasional di rentang  25/11 hingga  10/12.

Pertama, bagaimana menulis tema perlindungan perempuan dikaitkan dengan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sebab, setiap tanggal 25 November, secara internasional telah ditetapkan sebagai "Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan".

Ulik sedikit , bagaimana sejarah tanggal itu dipilih untuk menghormati Mirabal bersaudara (Patria, Minerva & Maria Teresa), yang meninggal pada tanggal yang sama di tahun 1960. Meninggal karena dibunuh secara keji oleh kaki tangan penguasa diktator Republik Dominika,  Rafael Trujillo.

Tanggal 25/11 kemudian dipilih dan dideklarasikan sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan,  pertama kali dilakukan tahun 1981,  tepatnya di Kongres Perempuan Amerika Latin  pertama.

Kedua, bagaimana menulis tema perlindungan perempuan dikaitkan dengan perempuan pembela hak asasi manusia. Sebab, tanggal 29 November diperingati sebagai Hari Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia (HPP-HAM).

Perempuan Pembela HAM di berbagai belahan dunia, menamakan diri mereka beragam. Ada yang menamakan diri sebagai pekerja kemanusiaan, aktivis perempuan, advokat, konselor perempuan korban, pendamping korban, pekerja sosial, atau relawan HAM.

HPP-HAM sendiri, pertama kali diperingati tahun 2004. Peringatan demikian bertujuan: merayakan aktivisme perempuan pembela HAM di seluruh dunia, di semua dimensi dan konteks, baik perorangan maupun kelompok.

Ketiga, bagaimana menulis tema perlindungan perempuan dikaitkan dengan hari HIV/AIDS sedunia. Sebab, tanggal 1 Desember merupakan Hari HIV/AIDS Sedunia.

Perlindungan dan pemuliaan perempuan yang dikaitkan bagaimana perempuan sering menjadi korban dari perilaku seksual menyimpang, sehingga tak jarang perempuan menjadi korban yang tidak berdosa. Terjangkit HIV/AIDS disebabkan oleh suaminya.

Perempuan penting menulis bagaimana peran perempuan dalam melindungi diri dari ancaman penyebaran HIV/AIDS hingga ke rumah atau bagaimana perempuan berperan aktif dalam pendidikan dan penyadaran atas isu-isu seputar HIV/AIDS.

Keempat, bagaimana menulis tema perlindungan perempuan dikaitkan dengan perbudakan internasional. Sebab, tanggal 2 Desember diperingati sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Perbudakan.

Bagaimana perempuan dapat menulis untuk melawan beragam bentuk penindasan dan perbudakan. Penetapan hari internasional ini, sesungguhnya diadopsi dari Konvensi PBB mengenai Penindasan terhadap Orang-orang yang diperdagangkan dan eksploitasi terhadap orang lain dalam resolusi Majelis Umum PBB No 317 (IV) pada tahun 1949.

Ingat, konvensi itu adalah sebuah tonggak upaya  perlindungan korban, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak, atas kejahatan perdagangan manusia. Kita dan khususnya kaum perempuan dapat memanfaatkan momen ini melalui tulisan  yang mampu melindungi diri.

Kelima, bagaimana menulis tema perlindungan perempuan dikaitkan dengan penyandang disabilitas. Tanggal 3 Desember secara internasional telah ditetapkan sebagai Hari Internasional bagi Penyandang Disabilitas.

Ingat, aksi hari internasional ini diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1982 untuk meningkatkan pemahaman publik akan isu mengenai penyandang disabilitas. Di samping itu,   bagaimana melibatkan mereka,  mengintegrasikan mereka dalam segala aspek kehidupan masyarakat.

Keenam, bagaimana menulis tema perlindungan perempuan dikaitkan dengan hari sukarelawan dunia. Karena tanggal 5 Desember diperingati tiap tahun sebagai Hari Internasional bagi Sukarelawan sejak tahun 1985.

PBB menetapkannya untuk merangsang organisasi dan negara di seluruh dunia untuk menyelenggarakan aktivitas bersama sebagai wujud rasa terima kasih  kepada orang-orang yang berkontribusi bagi masyarakat, yang telah mengabdikan hidupnya sebagai sukarelawan.

Ketujuh, bagaimana menulis tema perlindungan perempuan dikaitkan dengan tidak ada toleransi bagi kekerasan terhadap perempuan. Mengapa? Sebab, tanggal 6 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan sejak tahun 1989.

Saat itu, telah terjadi pembunuhan massal di Universitas Montreal Kanada yang menewaskan 14 mahasiswi dan melukai 13 lainnya.

Kedelapan, bagaimana menulis tema perlindungan perempuan dikaitkan dengan pembela HAM. Sebab, tanggal 9 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Pembela HAM Sedunia sejak tahun 1998 oleh PBB.

Kesembilan, bagaimana menulis tema perlindungan perempuan dikaitkan dengan HAM. Sebagaimana umum diketahui bahwa tanggal 10 Desember oleh PBB telah ditetapkan sebagai Hari HAM Internasional Hari HAM Internasional.

Karena itu, di momen peringatan hari HAM internasional, kita bisa memanfaatkan isu-isu HAM dalam rangka menyadarkan semua pihak untuk menyadarkan bahwa setiap kekerasan yang terjadi pada perempuan adalah bentuk pelanggaran HAM.

Akhirnya

Dalam rangka pembudayaan dunia menulis yang melindungi diperlukan kesadaran semua pihak bahwa perempuan penting dilindungi  dan dimuliakan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan berbangsa.

Kemudian, diikuti oleh adanya pemberdayaan diri perempuan sehingga literat dan berkeadaban dalam payung keadilan.

Tidak saja itu, tetapi juga penting dipikirkan pelaksanaan secara kongkret dan terarah berbagai peraturan dan perundangan perlindungan perempuan dari berbagai bentuk kekerasan.

Untuk mewujudkan cita-cita perempuan yang terlindungi, pada ujungnya penting keberpihakan lembaga pemerintah dan aparat negara dalam menegakkan perlindungan anti kekerasan terhadap perempuan. 


BIODATA SINGKAT: Sutejo, dosen LLDIKTI yang tinggal di Ponorogo, dikenal sebagai sastrawan, budayawan, dan tokoh penggerak literasi. 

Editor : Nur Wachid
#16 hari anti kekerasan terhadap perempuan #penggerak literasi #Tokoh #Sutejo #sastrawan #budayawan #melindungi #okky madasari #menulis #ponorogo