Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang Idola dan yang Kedaluwarsa: Belajar pada Lakon Drona dan Bambang Ekalaya 

Redaksi • Senin, 2 Desember 2024 | 02:53 WIB
Tjahjono Widijanto.
Tjahjono Widijanto.

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang Idola dan yang Kedaluwarsa: Belajar pada Lakon Drona dan Bambang Ekalaya 

Oleh: Dr. Tjahjono Widijanto, Mpd* 

GURU sebagai ujung tombak pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dan strategis dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.

Peran guru dalam mengembangkan suasana pembelajaran yang nyaman dan kondusif  bagi proses belajar mengajar melalui pengelolaan kelas dan siswa yang profesional merupakan kebutuhan utama suatu sekolah untuk meraih prestasi dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya-saing.

Guru (bahasa dan sastra Indonesia) yang ideal pada hakekatnya bukan sekedar idaman namun lebih dari itu merupakan kewajiban dan tuntutan sebagai konsekuensi profesionalisme seorang guru.

Menjadi guru ideal merupakan sebuah komitmen dan tanggungjawab profesionalisme guru yang harus senantiasa “menjadi manusia pembelajar, menjadi guru yang harus terus belajar sepanjang masa”.

Visi misi hidup dan kehidupan sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia entah itu di SMA atau bahkan dosen di sebuah PT syarat utama adalah mempunyai missi dan visi pribadi atau personal terkait dengan disiplin ilmunya.

Visi dan miisi itu  harus senantiasa berorientasi ke masa depan, mengembangkan wawasan serta sikap yang futuristic sekaligus antisipatoris.  Dengan wawasan dan orientasi futuristic (ke depan) itu seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang profesional akan mampu melahirkan generasi yang dewasa, peka serta peduli terhadap problematika  kebahasaan dan kesastraan sekaligus problematika kehidupan secara umum yang akan muncul di masa depan.

Di sisi lain guru bahasa dan sastra Indonesia, dengan wawasan futuristic dan antisipatoris akan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan kebahasaan dan kesastraan yang berakselerasi dengan sangat cepat sesuai dengan perkembangan zaman. 

Hal ini dapat diupayakan dengan jalan terus mengembangkan empat kompetensi, yakni kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan profesional seperti yang diamanatkan Permendiknas, No 16 th 2007, yang pengejawantahan ini terangkum dalam keterampilan dan wawasan 4 M, yakni mempengaruhi, mendorong, menggerakkan, dan memberdayakan anak didik atau siswa-siswinya.

Tentu saja 4 M ini pada awalnya mesti harus dimulai dari diri sang guru sendiri sebelum merambah dan didayakembangkan pada teman sejawat, siswa ataupu warga sekolah lainnya.

Sebelum melakukan 4 M ini akan lebih baik bila dilakukan analisis terlebih dahulu mengenai seberapa jauh kekuatan (strength) yang telah dimiliki guru secara pribadi maupun sekolah baik itu menyangkut peserta didik, pendidik, program-program dan sebagainya, juga seberapa jauh kelemahan (weakness) yang masih terdapat di sisi guru, siswa dan sekolah.

Perlu dianalisis pula peluang-peluang (opportunity) yang terbuka dan dapat digali maupun tantangan/ancaman (threat) yang dihadapi. 

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang Idola: Belajar pada Lakon Ekalaya

Pernahkan Anda mendengar lakon wayang Bambang Ekalaya? Tersebutlah Drona alias Kumbayana guru besar dari para ksatriya keturunan Bharata, para Pandawa dan Kurawa, merasa gelisah dan pusing tujuh keliling  saat Arjuna sang murid tersayang dan paling jempolan di antara murid-muridnya melakukan protes keras karena kemampuannya disaingi oleh seorang yang bukan keturunan dari ksatriya darah Baratha.

Dituduhlah oleh Arjuna, guru Drona berbuat khianat dengan membocorkan atau mengajarkan ilmunya kepada orang lain, padahal sang guru sudah bersumpah hanya mengajarkan ilmunya pada satriya-satriya putra kerajaan Hastina itu.

Selidik punya selidik ternyata terbongkar bagaimana Ekalaya menyerap ilmu dari  sang guru besar itu.

Ekalaya memang tidak pernah mendapatkan pelajaran langsung dari Drona. Namun karena Ekalaya sangat ngefans alias mengidolakan Drona, maka dibuatlah oleh Ekalaya  patung besar berwujud Drona.

Di depan patung Drona itu, Ekalaya belajar tanpa kenal lelah. Patung Drona yang merupakan manifestasi guru Drona, guru yang bagi Ekalaya adalah sosok luar biasa yang diidolakan dan dihormati oleh Ekalaya. Patung Drona menjadi semacam media tawasul sang Ekalaya untuk memperoleh kemampuan menjadi jagoan nomer wahid.

Pendek kata, sebagai pemantik semangat, Ekalaya memanifestasikan kehadiran sosok Drona sang guru idolanya dalam bentuk patung. Secara fisik Drona tidak pernah hadir mengajar Ekalaya, namun secara spirit Drona hadir sebagai idola batin yang mampu menggelontarkan energi belajarnya.

Kita semua akhirnya tahu bagaimana lakon itu berakhir tragis. Drona yang hati kecilnya mengagumi Ekalaya, murid tiri yang tak diharapkannya itu, karena rengekan Arjuna yang tak mau disaingi, menuntut bukti bahwa Ekalaya adalah murid yang benar-benar taat dan menghormati guru idolanya itu, oleh Drona dimintalah jari jempol Ekalaya sebagai tanda bakti sang murid.

Tanpa protes Ekalaya pun memotong ibu jarinya dan diserahkan pada Drona. Karena kehilangan jempol tangannya itu Ekalaya tak lagi memiliki kemampuan memanahnya dan Arjuna tetap tampil sebagai satriya pemanah paling ulung di seluruh jagat.

Apa yang dapat dipetik dari kisah absurd itu? Tentu kisah ini tidak mengajari kita menjadi Ekalaya yang rela memotong jari kita. Tentu juga tak ingin mengajarkan kita jadi guru yangt pilih kasih atau guru yang menuntut anak murid kita memberi tanda bakti.

Namun kisah ini mengajarkan bagaimana dahsyatnya peranan guru yang menjadi idola bagi murid-muridnya. Bagimana guru yang menjadi idola dapat menjadi sumber inspirator maha dahsyat bagi keberhasilan anak didiknya.

Dalam kehidupan sehari-hari seorang murid atau siswa biasanya akan lebih manut pada gurunya daripada orang lain bahkan pada orang tuanya sekalipun.

Siswa biasanya juga merasa bangga apabila diajar oleh seorang guru yang memiliki prestasi atau integritas tinggi di masyarakat.

Psikologis inilah yang dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk dapat menjadi guru ideal di mata para siswaatau le,baga sekolah. Ketika seorang guru dianggap memiliki prestasi dan kredibilitas tinggi di mata siswa, di sekolah terlebih di masyarakat, maka siswa pun akan otomatis mengidolakannya.

Dan pada giliran selanjutnya siswa akan menjadikan guru tersebut sebagai sumber inspirasi. Jadilah guru itu menjadi idoal, menjadi inpirator, pemomong, panutan, idola dan ujung-ujungnya akan disegani oleh siswa.

Dalam perspektif yang lebih sempit,---dalam konteks pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia--, kita semua tahu bahwa pelajaran bahasa dan sastra Indonesia (terutama apresiasi), sangat erat dengan tindak kreativitas.

Pastilah dalam pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, seorang guru mengajarkan, mendorong, memotivasi siswa untuk rajin membaca dan menulis. dapatlah dibayangkan apa yang terjadi sekiranya ada seorang (dan banyak orang) guru bahasa sastra Indonesia yang tiap hari menyuruh-nyuruh anak muridnya untuk membaca dan menulis, namun si guru itu sendiri tidak pernah terlihat suka membaca.

Maka pastilah si anak murid tak akan percaya dan mustahil untuk menjadi anak gemar membaca karena tahu belaka bahwa si guru tersebut hanya omong doang. atau guru Jarkoni, isa ujar ra isa nglakoni.

Paling-paling di belakang punggung si guru itu anak-anak-anak akan menjulurkan lidahnya sambil ngedumel, “Lha wong dia sendiri nggak suka baca dan nggak pernah nulis, kok dia nyuruh-nyuruh kita baca dan nulis. Kok enak!

Sebaliknya apabila si guru atau dosen bersangkutan benar-benar menunjukkan bahwa dia juga nglakoni gemar membaca dan menulis, lebih suka membeli buka daripada baju, memiliki perpustakaan yang lengkap,dapat diajak ngomong berbagai hal (karena bacaannya banyak) dan royal pula untuk meminjami buku pada siswa-siswanya atau mempersilakan siswa-siwanya untuk meminjam bukunya, maka haqul yakin si siswa pun lambat laun akan ketularan gemar membaca.

Dalam hal tulis menulis misalnya, betapa seorang siswa/mahasiswa akan menjadi sangat bangga dengan guru/dosen  bahasa dan sastra Indonesianya jikalau sang guru-dosen tersebut dalam pelajaran puisi atau cerpen misalnya, guru tersebut menunjukkan atau membacakan karyanya itu sendiri.

Syukur-syukur karya itu sempat dipublikasikan di media massa, medsos atau media digital. Maka para siswa pun akan lebih menikmati dari pada si guru itu mengambil contoh karya orang lain.

Si murid itu akan bangga bercerita pada siwa sekolah lain bahwa gurunya tidak hanya pinter menyuruh-nyuruh menulis puisi atau cerpen namun juga dapat memberikan contoh langsung dalam hal unjuk karya.

Maka di lain kesempatan para siswa tersebut akan tertantang berlomba dengan gurunya unuk berkarya.

Namun kenyataan di lapangan guru-guru bahasa dan sastra Indonesia kita pada umumnya hanya menulis maksimal dua kali seumur-umurnya, pada saat menulis skripsi dan tesis nun dahulu kala saat mereka masih kuliah.

Dapat dibayangkan apakah manjur perintahnya untuk menyuruh siswa untuk mencoba kreatif menulis? Pastilah jauh panggang dari api.

Pada maqam yang lebih tinggi lagi apabila ada guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang mampu menunjukkan pada siswa-siswanya bahwa sang guru memiliki prestasi di bidang keilmuannya, taruhlah misalnya ada seorang guru yang berprestasi di bidang tulis menulis, lomba menulis cerpen, menulis puisi, menulis kritik atau menulis apapun dalam skala regional nasional atau bahkan internasional.

Atau guru itu jadi juara baca puisi, baca cerpen, terlibat dalam pentas drama atau kegiatan produkstif sastra lainnya.

Pastilah guru itu akan menjadi buah bibir dan kebanggaan anak didiknya. Akibatnya, ucapan perintah atau motivasi yang keluar dari mulut sang guru akan disambut dengan gembira, antusias dan dipercaya oleh siswanya.

Guru tersebut mampu menjadi soisok yang dapat ditiru dan digugu, tanpa harus memberi perintah keras dan ancaman  dari sang guru itu pastilah semua murid akan mundi dawuh untuk melaksanakannya.

Sang guru idola itu pun pada hakekatnya tampil menjadi guru yang menang tanpa ngasorake. Dia akan menjadi pujaan dan idola siswa-siwanya.

Pendek kata, guru bahasa dan sastra Indonesia yang ideal adalah guru bahasa dan sastra Indonesia yang mampu mendedikasikan 4 M (mempengaruhi, mendorong, menggerakkan dan memberdayakan) pada siswa-siswanya terkait dengan karakter bidang pelajaran yang diembannya. 4 M ini akan nampak apabila sang guru benar-benar mencintai bidang ilmunya.

Dalam 4 M tersebut guru yang ideal tidak hanya mampu menyuruh-nyuruh saja namun mampu memberikan contoh atau teladan yang nyata dalam membimbing siswa dalam melakukan tindak kreatif dalam pembelajaran bahsa dan sastra.

Guru tersebut bersedia bertungkus lumus dengan para siswa untuk secara langsung menceburkan diri pada tindak kreatiaf yang ada pada pembellajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Dalam konteks ini, sang guru tampil menjadi sosok yang diidolakan para siswa karena dia mampu membuktikan sebagai guru yang mampu memberi contoh nyata bagaimana mestinya seorang yang kreatif dalam pembelajaran bahasa dan sastra terutama yang terkait dengan tindak kreatif siswa.

Akhirnya, memang ada dua pilihan jenis mahluk guru bahasa dan sastra Indonesia. Menjadi guru bahasa sastra Indonesia idola atau kadaluwarsa. Anda pilih yang mana?


BIODATA SINGKAT: Penulis adalah Kepala SMAN 1 Ngawi, sastrawan nasional dan alumnus Program Doktoral Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNS Surakarta.

Editor : Nur Wachid
#pendidikan #Pendekatan #indonesia #TJAHJONO WIDIJANTO #bahasa dan sastra #guru #refleksi #pembelajaran #karya #esai