Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

TENGSOE TJAHJONO: NGELMU PUISI, LELAKU DAN LELAKON

Redaksi • Jumat, 29 November 2024 | 16:52 WIB
Tjahjono Widijanto.
Tjahjono Widijanto.

TENGSOE TJAHJONO: NGELMU PUISI, LELAKU DAN LELAKON
Oleh: Tjahjono Widijanto

Serasa ikut tergelincir
Bergulir di daratan pipi
Membayangkan rumah luka
Di batinmu yang teduh

“Tetaplah berjalan,
jangan tengok ke belakang.”

Tinggallah air mata di sel terkunci
tidak perlu dibuka-buka lagi

(“Air Mata Puisi”, Tengsoe Tjahjono, 2022)

Prolog: Ngelmu dan Lelaku

36 tahun lalu, saya mengenal Tengsoe Tjahjono, penyarir flamboyant, yang selalu langsing, rambut agak gondrong dan berkaca mata ini.

Di Malang saat itu ada tiga sastrawan atau penulis kesohor, Tengsoe Tjahjono,Wahyu Prasetya (alm) dan Ratna Indraswari Ibrahim (alm).

Dibandingkan dua sastrawan yang disebut terahir, Tengsoe Tjahjono lebih populis dan akrab dengan para penyuka sastra dan penyair pemula. Hal ini karena ia juga seorang dosen sastra di Unesa (saat itu masih bernama IKIP Surabaya).

Sebagai pengajar tentulah ia memiliki kewajiban harus mampu menjalin komunikasi yang intens dan akrab dengan para mahasiswa yang tentunya mempengaruhi pula cara berinteraksi dan berkomunikasinya dengan para peminat sastra di luar para mahasiswanya.

Sebagai penyair sekaligus dosen dan penggiat sastra, Tengsoe cukup “mesra” dan happy bergaul bersama para komunitas sastra yang mulai bermunculan. Ini berbeda dengan Wahyu Prasetya.

Mas Wahyu tidak percaya dengan komunitas penyair/penulis yang waktu itu mulai marak bermunculan.

Bagi Wahyu Prasetya, dunia kepenyairan dibangun mutlak secara personal. Penulis dan penyair tidak akan lahir dari sebuah komunitas.

Ketika saya menyerangnya dengan sebuah retoris ungkapan; “Tapi Sam, bukankah beras akan lebih putih bila beras itu berada dalam tampah yang memungkinkan beras itu akan saling bergesekan sehingga lebih putih?”

Mas Wahyu membalasnya dengan sangat serius dengan ungkapan yang garang nan cerdas, “Wid, ngerti koen, yang melenggang dan mengaum sendirian itu harimau, yang berjalan dan menyalak bergerombolan itu serigala!”.

Ini beda dengan Tengsoe Tjahjono, seperti layaknya dosen yang dianggap bijaksana, penyair berambut agak panjang tapi rapid an berwajah bintang film Korea ini berujar, “Setiap orang, setiap ruang dan setiap kelompok adalah kawah candradimuka yang dapat melahirkan seorang penyair, meski bukan berarti setiap komunitas pasti dapat melahirkan seorang penyair!”

Dari ujung perkenalan hingga pergaulan dengan Tengsoe Tjahjono yang terbilang lumayan lama, dari sekian ribu perbincagan mengenai puisi bersamanya, sikap dan pandangan Tengsoe Tjahjono tentang sastra dan puisi sangat jelas dan tegas: puisi (sastra) adalah ngelmu bukan sekedar ilmu.

Sebagai ngelmu, puisi tercapainya melalui perjalanan, proses secara lahir maupun batin. Ngelmu adalah keyakinan dan proses menjadikan ilmu sebagai perilaku.

Penghayatan pribadi, dan bukan soal aktivitas otak atau pikiran belaka.

Konsekuensi logis dari pandangan puisi sebagai ngelmu, maka puisi, menulis puisi dan berpuisi bagi Tengsoe Tjahjono juga sebagai sebuah jalan hidup dan jalan “perjuangan”, sebagai lelaku.

Dalam konteks estetika kepenyairan, lelaku juga menjadi sebuah kewajiban untuk selalu berproses, selalu mencari dan menjaga produktivitas.

Laku atau lelaku dapat dimaknai sebagai sebuah tindakan ketekunan untuk selalu mempelajari ‘guna kasantikan’ perpuisian dan kepenyairan.

Lelaku juga menyiratkan kewajiban untuk tapa ngramae, berbagi, sekaligus tepa slira kepada masyarakat pecinta sastra dan puisi baik, baik yang pemula ataupun yang bukan pemula.

Laku atau lelaku akan bermuara pada lelakon, yaitu kewajian untuk membuat sebuah kesejarahan.

Puisi dan penyair menjadi sebuah catatan sejarah semesta yang terus berevolusi dan menjumpai siapa saja tanpa menyerah pada ruang dan waktu.

Mitologi dan Lokalitas

“Karya sastra (puisi) tidak jatuh dari langit,” menurut Sapardi Djoko Damono, “ tetapi diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dihayati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat.” Ini mengingatkan kita kepada tulisan Arif B Prasetyo, ”Mencipta Sastra, Menggubah Sejarah”, sastra memang tak pernah lahir dalam tabung vakum sejarah.

Nadine Gordimer, sepanjang yang bisa kita serap, menyatakan situasi itu sebagai ”Tak ada keadaan ada (state of being) murni, dan itu artinya tak ada teks murni, teks ’nyata’, yang sepenuhnya bergabung dengan ketidaktentuan.

Pernyataan semacam itu kian membuktikan betapa sastra bukanlah sesuatu yang tak berkait dengan apa pun yang memengaruhi keberadaannya.

Bahkan karena ia harus bersinggungan dengan yang lain, ia tidak tidak dapat lepas dari konteks. Ia tidak mungkin lagi mengusung nilai-nilai yang universal dalam dirinya sendiri. Ia bahkan sangat mungkin terpenjara oleh ruang yang menjadi media dirinya.

Membicarakan lokalitas dan globalitas sebuah karya karya sastra tak pelak harus menyinggung persoalan batas-batas kebudayaan.

Dulu kita mungkin memahami kelokalitasan dan keglobalitasan sebagai sebuah entitas yang beku, tak bergerak, statis, sehingga seakan-akan kejawaan, kelampungan, kebetawian, kemaduraan, kemelayuan, kearaban, keeropaan, atau keamerikaan, sebagai entitas yang dimaknai secara tunggal dan rigid.

Kini ketika kita tahu betapa identitas itu tidak pernah mandek, maka yang kemudian muncul, sebagaimana diungkapkan oleh Maman S Mahayana, ”Dalam konteks budaya, lokalitas bergerak dinamis, licin, dan lentur, meski kerap lokalitas budaya diandaikan tidak dapat dilepaskan dari komunitas kultural yang mendiaminya, termasuk di dalamnya persoalan etnisitas. Secara metaforis, ia merupakan sebuah wilayah yang masyarakatnya secara mandiri dan arbitrer bertindak sebagai pelaku dan pendukung kebudayaan tertentu.”

Atau jika kita hendak menggunakan pemahaman Melani Budianta, “Lokalitas adalah proses pembumian yang tidak pernah berhenti bergeser, berpindah, dan berubah.

Pendefinisian terhadap ruang yang berubah ini, harus segera kita pahami, sebab jika tidak kita akan terus-menerus menganggap “sastra lokal” dan “sastra global” sebagai sesuatu yang terberi, tak berubah, dan hanya bersandar pada batas-batas geografi.

Karena ruang senantiasa berubah, maka pembicaan tentang kelokalitasan sebuah karya sastra, sesungguhnya bisa diarahkan ke bagaimana sebuah teks bergerak dari identitas satu ke identitas lain, dari “pakaian” satu ke “pakaian” lain.

“Sastra lokal” dengan demikian adalah sastra yang senantiasa membebaskan diri dari identitas yang semula melingkupinya.

Anthony Giddens menyebut hal ini sebagai reproduction of locality, sedangkan orang Jawa mengangap pereproduksian lokalitas semacam ini sebagai gabungan antara ajur ajer (adaptif), nuting jaman kelakone (mengikuti zaman saat peristiwa itu terjadi), dan empan papan (bersandar pada tempat atau lebih tepat konteks).

Menurut Subagio Sastro Wardoyo (1989) penyair Indonesia asal etnis Jawa adalah manusia perbatasan yang sedang bertransformasi diri dengan mencoba mengikutsertakan budaya etnis-tradisi Jawa dalam negara-bangsa Indonesia yang merupakan “kampung halaman baru” yang mau tak mau harus didukung dan dikembangkan.

Hal ini bagi penyair Indonesia Jawa merupakan suatu proses panjang yang berat dan besar karena pada satu sisi mereka terikat pada kedudukan dan fungsi budaya dan sastra Jawa sebagai akar mereka, di sisi lain mereka terpaksa melakukan migrasi (perantauan) ke budaya baru bernama Indonesia.

Dalam proses ini satrawan Indonesia Jawa dalam dirinya dapat muncul berbagai persoalan, perasaan dan situasi yang bisa jadi menimbulkan rasa gamang, bimbang bahkan paradoksal.

Hal ini misalnya tergambar dalam pengakuan Goenawan Muhammad dalam tulisanya Potret Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (1973) dan Kesusastraan Pasemon (1993). GM merasa dalam situasi gamang dan bimbang ketika memasuki wilayah budaya dan sastra Indonesia sekaligus merasa durhaka kepada ibu budaya dan sastranya yakni budaya dan satra Jawa.

Penyair lain, Linus Suryadi AG yang berasal dari Kadisobo Wonosari Gunung Kidul dalam bukunya Transformasi dalam Puisi Indonesia” (1984) mengaku merasa menjadi kaum urban yang melakukan migrasi budaya dengan gerak dan orientasi melingkar.

Proses perantauan ini berarti mengolah, merekontruksi bahkan membongkar bahan-bahan budaya lama, mitos-mitos lama untuk menghasilkan mitos, pandangan dan pemikiran baru.

Tengsoe adalah sastrawan Indonesia dalam generasi yang lebih muda dibanding GM atau Linus, kemunculannya tercatat pada dekade 80-an saat perkembangan puisi dan kepenyairan Jatim seperti mengalami euphoria, banyak bermunculan kegiatan-kegiatan sastra, dan komunitas-komunitas sastra sekaligusa memunculkan penyair-penyair baru.

Yang dapat dikenang dari peristiwa sastra pada tahun-tahun ini adalah digelarnya secara rutin acara Festival Puisi PPIA, Forum Apresiasi Sastra, dan Malsasa. Komunitas yang cukup tangguh pada masa itu ialah HP3N dengan penggiatnya Aming Aminudin (Surabaya) dan Akaha Taufan (Batu).

Nama-nama penyair yang dapat dicatat adalah: Aming Aminudin, Pudwiyanto, Jil P Kalaran, Sabrot, Dick Munthalib, Roesdi Zaki, Jupriono, Wahyu Prasetyo, dan Tengsoe Tjahjono. Yang paling menonjol dari nama-nama ini ialah Aming Aminudin Wahyu Prasetya dan Tengsu Tjahjono (Surabaya) Aming Aminudin dikenang lebih karena aktivitasnya sebagai penggerak dan sayang sekali jarang meninggalkan antologi tunggal puisi.

Sajak-sajak Wahyu Prasetyo banyak bermunculan di Horison dan media massa Jakarta, bahkan beberapa sajaknya diterbitkan oleh Forum Sastra Bandung.

Adapun Tengsu Tjahjono, salah satu penyair kawakan Jawa Timur yang setia dengan persoalan-persoalan keseharian dan kesederahanaan. Penyair yang kumpulan puisi pertamanya Fenomena terbit tahun 1982 ini merupakan penyair paling prduktif di Jawa Timur hingga kini.

Ketika penyair lain seangkatannya seperti Wahyu Prasetya, Rusdi Zaki, Pudwiyanto Arisanto dan lain-lainnya menujukan penurunan produktivitas bahkan menghilang dari gegap gempita puisi, Tengsoe sejak tahun 1990-an masih menerbitkan paling tidak empat kumpulan sajak, Akulah Ranting (1991), Ning (1997), Terzina Penjarah (1998), Penunggang Lembu yang Ganjil (200), Salam Mempelai yang terdiri dari 123 sajak yang dibagi dalam tiga subjudul, Labiri8n Mata Angin, Labirin Perjalanan dan Labirin Kabut hingga yang paling anyar Pelajaran Menggambar Bentuk (2023).

Pada masa-masa awal kemunculannya, sebagai orang Jawa Tengsoe juga mengangkat dan merayakan lokalitas ke-Jawaan beserta sejarah dan miologinya. Kita cermati sajak berikut:

Kutukan Menakjingga

Telah kuusir Kebo Marcuet
Dari gelap Majapahit
Seperti janjiku padumu, Wungu
Kini mana hakku
Menikahimu

Langit menolak
Menakjingga luluh lantak
Tubuh porak poranda
Tanpa bentuk

Majapaht bercahaya
Dirinya terluka
Dicacah Marcuet
Dalam tanding hingga ujung darah

Kencana Wungu mengelak
Memandang wajah tanpa rupa
Dibayangkan orang-orang mencibir
Bersanding pemuda tak rupawan
Di singgasana
Ya, ya, Menakjingga disingkirkan
Digemakan sebagai pemberontak
Layak dipenggal kepalanya

Hanya ia tak pernah bisa mati
Kisahnya berpinak jadi legenda
Hidup di kesadaran para pendongen
Pahlawan yang dikalahkan tahta
“Majapahit, majapahit,
Kau akan selalu dilanda bencana!”
Kutuknya
(1982)

Dalam puisi lawas bertarihk tahun 1982 di atas nampak tersirat kegelisahan sekaligus kerinduan untuk terus menggenggam jagad kosmologis-mitologis sebagai orang Banyuwangi (Jawa).

Sebagai wong Banyuwangi, penyair memainkan mitos, lokalitas dan sejarah kampug halamannya.

Pada masa awal proses kreatifnya, nampak kegelisahan pnyair untuk menggenggam kembali sekaligus membongkar mitologi lama (dalam hal ini Banyuwangi dengan tokoh Menakjingga) merupakan sebuah kewajiban dan hutangnya sebagai penyair untuk lebih menghayati keberadaanya ditengah lingkungan semestanya tempat masa kecil dan remajanya.

Semangat lokalitas begitu Nampak tidak hanya menyerukan dan menggaungkan kembali, tetapi juga upaya membongkar sejarah dan hegomoni kekuasaan Majapahit. Tokoh Menakjingga yang dalam “sejarah resmi” diposisikan sebagai antagonis, diluruskan sebagai tokoh protagonis yang sial karena dikalahkan dengan takdir kekuasaan..

Puisi “Kutukan Menakjingga” di atas nampak bagaimana penyairnya mencoba bermain-main dengan sejarah.

Penyair mencoba memnfaatkan aspek mitologi dan sejarah dan mencoba melakukan rekontruksi ulang terhadap sejarah dan mitologi tersebut.

Tentu saja rekontruksi sejarah dan mitologi yang dilakukan penyair tidak seperti yang dilakukan oleh para ahli sejarahy dari sudut akademis ansich, tetapi lebih cenderung seperti apa yang dikatakan sejarawan Taufik Abdullah sebagai ‘nothing but story’, sejarah yang menekankan pada gaya literer. Dalam hal ini puisi dan sejarah saling mempengaruhi sebagai suatu narasi yang dapat dinikmati tapi tak terlepas sama sekali dari kenyataan empiris.

Sebagai penyair, Tengsoe memberikan referensi imajinatif ke dalam sejarah sehingga puisi tetap memiliki sifat simbolik, karena itu ketika bersinggungan dengan sejarah menyebabkan sejarah dalam puisi menjadi sesuatu yang problematik.

Karena sifat simbolis yang menyimpan “misteri” tertentu yang sarat dengan interpretasi, bagaimanapun juga puisi pada akhirnya memang tidak dapat dijadikan sumber sejarah meskipun sebenarnya ia ‘mempertanyakan’ sejarah.

Pertanyaan-pertanyaan elementer dalam disiplin ilmu sejarah tentang “apa, siapa, di mana dan apabila” memang tidfak bisa dijawab dengan menggunakan puisi sebagai sumber.

Tetapi dengan memanfaatka sejarah dan mitologi puisi di atas dapat memberikan “pantulan-pantulan” tentang perkembangan pikiran, perasaan dan orientasi masa silam yang bermanfaat untuk masa kini dan mungkin yang akan datang atau bisa jadi secara substansial dapat terulang dalam sejarah berikutnya.

Rekontruksi sejarah yang dilakukan penyair lebih pada upaya jagad ginelar jagad ginulung, menyosokan kembali “identitas” yang melatar belakanginya dan dalam skala yang lebih makro upaya mencari identis sebagai “Jawa yang samar-samar”.

Sejarah yang coba direkontruksi penyair dalam upaya menyosokan kembali identitas tersebut, penyair tidak memulai dan mencari dari disiplin sejarah akademis yang terdapat dalam buku-buku sejarah “resmi” tetapi justru memulainya dari mitologi-mitologi yang tersebar.

Karena berangkat dari mitologi inilah sejarah yang coba direkontruksi penyair menjadi sarat dengan berbagai tafsir dan pengolahan berbagai sumber atau versi yang semuanya dianggap memiliki kebenaran.

Dari berbagai versi ini penyair mencoba menghasilkan rrekontruksi sejarah “baru” yang menurut B. Lord (Sadihutomo, 200) upaya ini disebut sebagai stable skleton of narrative atau dalam susastra Jawa disebut “balungan cerita”.

Dalam puisi yang menarasikan legenda Menakjinggo ini penyair secara implicit ingin menunjukkan bahwa sejarah meski merupakan masa lampau yang terpisah dari masa kini namun bukan berati tidak berhubungan.

Pada satu pihak memang ada keterpisahan antara keduanya di mana masa lalu tidak mungkin dikembalikan atau digantikan, namun di pihak lain masa lampau sebenarnya tetap hidup dalam diri kita.

Sesuatu yang terjadi pada masa lampau secara substansial bisa saja terjadi pada saat ini atau masa mendatang. Dengan demikian, masa lampau sebenarnya tidak pernah terpisah secara mutlak dari masa kini.

Ada benang halus yang menghubungkannya, yang benang halus ini dapat menjadi tali besar sehingga masa lampau itu berubah menjadi sesuatu yang kembali kongkret pada masa kini, menjadi semacam kompas yang bermanfaat untuk meniti masa kini dan menghadapi masa yang akan datang.

Dalam upaya merekontruksi sejarah dan mitologi, Tengsoe tidak mendekati sejarah sebagai pendekatan monumental tetapi lebih cenderung pada pendekatan antikuarian dan pendekatan kritis.

Melalui pendekatan antikurian pengarang tidak melihat sejarah semata-mata sebagai laci penyimpan peristiwa-peristiwa besar kemanusian dari masa lampau supaya tidak ditelan oleh waktu, namun lebih fokus memandang sejarah sebagai sebuah kesadaran identitas lampau yang berkesinambungan dan memberikan arah masa depan.

Sedangkan dengan pendekatan kritis, penyair membuka kemungkinan untuk menguji, mengkaji ulang dan menafsirkan kembali peristiwa masa lampau untuk kepentingan masa depan.

Sejarah diperlakukan sebagai tafsir yang berkembang dan lahir kembali atau sebagai siklus alamiah peradaban manusia yang dapat menjadi persoalan abadi bagi manusia sebagai pembentuk peradaban.

Dengan demikian secara kreatif melalui puisi perihl Menakjingga di atas, Tengsoe tidak membeberkan sejarah sebagai fakta telanjang yang memandang sejarah terbatas pada hubungan waktu dan kronologis semata.

Tidakhanya memandang sejarah sebagai past significane (hanya penting untuk peristiwa lampau) tetapi secara kreatif mecoba memandang sejarah dalam hubungannya dengan masa kini (present meaning) bahkan masa yang kelak akan datanng (future meaning).

Sejarah menjadi sebuah medan yang selain berpotensi membuka tafsir baru sekaligus juga menyimpan potensi-potensi yang signifikan untuk lahirnya sejarah baru sekaligus berfungsi sebagai tengara untuk mengingatkan manusia atas berbagai kemungkinan baik atau buruk pada masa silam dan masa datang.

Semangat menggelorakan kembali suara lokalitas ini juga terlhat pada puisi “Nawang Wulan”, “Tarub”, “Matahari dan Bulan Tentang Niwatakawaca” pada periode awal kepenyairan.

Jejak menggaungkan lokalitas ke-Jawaan muncul kembali pada puisi berjudul “SEndang” yang tertera dalam kumpulan puisi terbarunya Pelajaran Menggambar Bentuk (2023) berikut: Pancuran bambu mengguyur/ kaki kuning kutilang/ Berpayung langit pink/ Mata Tarub menyala di rimbun bambu/ Melukis perjalanan jauh/ Hanya saja gerimis pestisida/ Menendang sendang ke sejarah yang hilang.

Kalau pada puisi Kutukan Menakjingga, penyair mengumandangkan lokalitas dengan meninju sejarah yang dianggap bepihak pada kekuasaan,, pada puisi Sendang, lokalitas diangkat dengan nada teramat getir dan pesimis. Penyair menjadi tak yakin “lokalitas” akan dapat bertahan dalam gempuran zaman.

Puisi Komunikatif

Ada pendapat klasik yang nyaris melegenda bahwa inti puisi adalah kata-kata. Kata-kata lahir, tumbuh dan mati dalam sejarah. Octavio Paz pernah menulis “tiada puisi tanpa sejarah, tapi puisi tidak bisa memiliki misi lain kecuali mengubahnya”.

Dalam kerja puisi (kepenyairan) sejarah itu dapat berupa seperangkat kode, standar, kaidah, dan konvensi puitik yang bergandengan dengan imajinasi, realita dan pasang surut zaman.

Setiap puisi bila benar-benar puisi pasti mengandung paradoksal, pada satu titik ia mengusung apa yang sudah lazim, di titik lain mengandung reaksi terhadapnya.

Penyair tak cukup sebagai seorang yang membuat dan gandrung pada kata atau bahasa, namun juga sekaligus merasa terkungkung oleh bahasa karenanya harus memperluas tenaga dan ruang bahasa.

Puisi menjadi “puncak” kemampuan berbahasa, bukan kompensasi kelemahan berbahasa.

Persoalan pertama bagi penyair adalah bagaimana menyampaikan dunia dalam kepada dunia luar, dunia bersama, dunia publik yang memiliki banyak variabel dan kemungkinan. Pada saat itu penyair memerlukan bahasa.

Persoalan penyair dengan bahasa adalah persoalan bagaimana penyair memilih corak bahasa, memilih materi bahasa berupa kata, dan menata kata untuk mewadahi imajinasi dan perenungannya berkait dengan kontek sosial budaya serta motifnya dalam berkarya.

Kata dalam puisi bagaimanapun juga selalu dibebani dan dikungkung untuk menyampaikan pengertian atau makna. Tetapi di sisi lain, dalam puisi bisa jadi kata menjungkir-balikkan pengertian yang “umum” yang disandang oleh kata itu sendiri.

Pada posisi ini penyair memperhitungkan, menggempur, bahkan mengingkari semantic yang sudah lazim diemban oleh kata tersebut. Bagi penyair mengolah kata adalah pengembaraan tanpa akhir.

Suatu saat ia sampai dan berdiam pada sebuh titik, di kesempatan lain ia memporandakan titik itu untuk mencari titik-titik yang lain.

Karena pengembaraan inilah kata menjadi biang keladi dari sejarah puisi yang tidak pernah tamat dari hiruk-pikuk pencarian dan pencapaian estetis.

Kata menjadi urat nadi puisi itu sendiri, tak heran seorang Chairil Anwar pernah berujar: “Puisiku, dalamnya tiap kata akan kugali-korek sedalam-dalamnya hingga ke kernwoord ke kernbeeld !”, dan juga si Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru mengingatkan penyair-penyair muda di zamannya: “Jangan terlalu lekas melompat-lompat dari sebuah tempat ke tempat lain, jangan memakai kata yang belum resap ---sampai arti, intinya--- ke dalam tulang sungsum.”

Pada semua puisi-puisi yang ditulis Tengsoe Tjahjonoi nampak kecenderungan pilihan esteika penyairnya yang bertumpu pada “yang sederhana” dan “yang komunikatif.

Bagi Tengsoe menulis puisi berarti berbagi pengalaman melalui format puisi kepada pembaca dengan harapan terjadi sebuah komunikasi intim dengan pembacanya.

Sebagai penyair nampaknya ia tidak tertarik melakukan dekontruksi forma puisi karena puitika baku puisi sesungguhnya tidak pernah ada.

Nampaknya Tengsoe bersetuju dengan apa yang dikatakan oleh Zoetmoulder dalam bukunya yang melegenda, Kalangwan, bahwa puisi dapat berangkat dari “ilham yang memabukkan”.

Puisi yang berangkat dari “ilham puitis yang memabukkan” mencoba meletakkan segala sesuatu pada tataran keseimbangan dengan mengintegrasikan diri pada evolusi alam semesta dan sampai pada tingkat pemahaman, penghayatan, dan pengenalan pribadi dengan alam semesta untuk mencapai keselerasan semesta. Dengan demikian puisi selalu berangkat dari kosmologi alam menuju ke arah kontemplatif bahkan katarsis, seperti yang diserukan dalam sajaknya berikut ini:

Slopeng 2

bukan hanya laut berdentam ombak sebab jiwa rimbun gelisah
angina yang menebarkan pasir ke darat membangun gunung di pantai
lalu kita membacanya sebagai sejarah tentang setia
waktu membujuk angina mendaratkan pasir ke pusaran cinta

pada sebatang pohon nyiur yang melintang di pesisir
kau pandangi cakrawala, nelayan-nelayan, dan perahu
yang parkei jauh di tengah samodra
namun aku tak bisa menjadi pangeran yang keluar dari
rumah karang lalu membawamu ke istana laut untuk bercinta

(ini waktu untuk pulang sayang, katamu ketika waktu
menggulung layar dan dipanggung tinggal lampu yang perlahan padam)
gerimis kecil tak bisa menunda pergi walau dekapan
belum mencapai punggung
hanya gunung pasir itu masih tegak membentang dari
kutub-kutub yang berjauhan
mengabarkan cinta yang mengeras oleh jarak

pada pasir merah tak kutemukan darah walau nafas
kurasa mengangin pada jemari yang saling bertaut.

Dari puisi di atas nampak bahwa Tengsoe berangkat dari alam untuk ‘menjelmakan keindahan’ sekaligus memanfaatkan alam untuk berkontemplasi meletakkan manusia (penyair dan pembaca) sebagai mikrokomos dan alam sebagai makrokosmos dalam hubungannya yang seimbang bagaikan dua buah kaca yang setiap permukaannya memantulkan permukaan yang lain.

Pada satu pihak manusia hanya terwujud dalam hubungannya dengan makrokosmos yang menentukannya, sedangkan pada pihak lain manusia memahami makrokosmos.

Ini berarti seluruh kemungkinan yang terbuka dalam diri alam semesta pada dasarnya terkandung dalam hakekat intelektual manusia, seluruh kemungkinan dunia merupakan suatu kebenaran dan pengertian dasar yang hadir dalam diri manusia.

Jadilah puisi yang berangkat dari alam merupakan representasi pencapaian yang kontemplatif yang puncaknya dapat berujung pada transedental-religius atau meminjam istilah Afrizal Malna ---sebuah antropomorfis yang teosentris---, puisi menjadi sarana katarsis bahkan ekstase dari penyairnya.

Konsekuensi logis dari kecenderungan estetika ini, puisi-puisi Tengsoe hadir dari realitas keseharian dan hal-hal yang sederhana yang dapat dipungut dari mana saja tetapi dapat dengan lamat-lamat membentuk suasana dan renungan tertentu yang membuka jendela komunikasi dengan pembacanya.

Justru dari hal-hal sederhana dan realiatas kesehariaan ini menunjukkan beta penyairnya memiliki kepekaan sentuhan puitik yang mengagumkan. Sebagai contoh nampak pada penggalan puisi berikut: …../ tanda-tanda jalan memang samar kubaca sebab malam segera merebut senja/ tapi sungguh tak mungkin aku tersesat di kota asing ini/ ada dirimu menunggu depan jendela terbuka/ mulai kuhitung jumlah tikungan, perempatan, pohonan/ mulai kucatathamparan sawah, tanah lapang.

Lading terbuka/ mulai kurasakan desir angin dari utara membawaku ke lorong telanjang/ tapaki batu-batu ke rahasia rumahmu/ ….(Peta 02).

Ketika puisi berselancar pada kosmos pada suatu ketika ia dapat menjanjikan atau paling tidak menawarkan sebuah lanskap perjalanan ruhani, mengembara pada jagat, pada makro kosmos yang meluncur diam-diam, membayangi bahkan menelikung tanpa memberi isyarat terkebih dahulu.

Dikatakan oleh Tengsoe: /1/ puisi selalu ditulis seperti hembusan angin dari tasik/ membawa kabar tentang kamu: pelaut tua yang kesepian/ mengikis gelombang dengan keriput tulang/ …/2/ puisi selalu dibaca seperti nyala api pada gelap/ bercerita tentang kamu: bidadari dari penampang pelangi/ menitipkan sayap pada jantung/ … (Puisi Berakhir Pada Jeda) dalam sajaknya yang lain dikatakannya: …./ sejengkal waktu/ rindu tercekal/ batu-batu/ (ada bayang-bayang terguling di dinding/ cahaya dari jendela menyajikan debur sempurna/…/ (Sejengkal Waktu).

Berbekal kepekaan penyair menangkap momen-moment puitik, peristiwa atau realitas dapat diangkat dalam puisi pada bingkai kontemplatif dengan nada sederhana namun cukup mampu menohok rasa kemanusiaan.

Antara takdir, realitas, krisis dan ketakberdayaan diungkapkan tidak dengan suara garang, tetapi justru mengiris dan merembes pelan-pelan.

Memang sajak-sajak dalam kumpulan Salam Mempelai ini secara wadak nampak kosmos begitu ditampilkan dan terbentang tanpa chaos, namun dibalik yang wadak itu pembaca yang lantip menangkap sasmita. dapat merasakan ada chaos mendekam begitu ngilu, seperti nampak pada sajak Segelas Kopi berikut ini:

Segelas Kopi

segelas kopi mendingin di meja, tak ada bibir
tak ada gelisah meneguknya ketika cuaca
berita di Koran menusukan pisau ke empedu
ketika kata di salib di atas bukit tengkorak
“Tuhan, kenapa kamu biarkan aku dikoyak waktu?”

sungai mengalirkan sampah dari rumah tua
kerinduan yang menggigit pada hari-hari lalu
bocah yang legam bermain gundu

jemari ini begitu sunyi

segelas kopi menggigil di ruang pendingin
makin dingin makin beku
asap tak berangin, berhenti pada sudut kelam
tak bisa lagi mencecapmu.

Kehebatan Tengsoe adalah bagaimana ia begitu piawai dan mudah tersentuh dengan pengalaman indrawi yang ditangkap dengan respon-respon puitik.

Sesuatu yang nampak sedehana dan remeh temeh dapat menjelma menjadi puisi yang indah dan nges.

Sebagai contoh, dalam perjalanan rutin mengarungi selat Madura, Tengsoe dapat menangkap momen putik tentang sebotol gelas aqua yan terapung-apung di laut, lahirlah puisi “Segelas Aqua di selat Madura”.

Begitulah, ssesuatu yang teramat sepele karena kepekaan puitik yang luar biasa dapat menjelma menjadi sebuah puisi yang cukup indah.

Meski berasyik masyuk dalam “ilham puitik yan memabukkan”, bukan berarti persoalan sosial tidak mendapatkan perhatian dalam puisi puisi Tengsoe Tjahjono.

Sebaliknya momen sosial dapat diangkat kembali menjadi puisi yang sarat dengan keberpihakan pada mereka yang kalah dalam kehidupan social ekonomi. Kita lihat hal ini pada saja “Surat Terakhir” berikut ini

SURAT TERAKHIR

dua hari lalu ia menikah
kini tergantung di blandar rumah

Istriku, ini jelas bukan pilihan terbaik
Karena Tuhan amat membenci jalan ini
Tapi adakah yang lebih baik dari kematian
ketika gelombang PHK bagi laut pasang
melabrak negeri kita

Istriku, sebagai lelaki aku ingin jadi trembesi
Agar kau aman bersemayam di rindangnya;
atau tealaga agar kau bisa menyerap
sejuk airnya

Tapi aku cuma perdu kering tanpa akar
Matahari siap membakar

Dua hari lalu aku masih berjanji
andaikan anak-anak lahir dari rahimmu
anak-anak itu harus jadi pohon jati
jangan trembesi seperti bapaknya
Bahkan mereka harus jadi samodra,
karena samodra mempunyai lima benua
sedang telaga?

Tapi aku cuma perdu kering tanpa akar
Ketika PHK mencabutku dari cakrawala
Istreiku, ini jelas bukan pilihan terbaik
Karena Tuhan amat membenci jalan ini
Ini jalanku sendiri ketika melihat horizon gelap
Mengepung seluruh negeri
(Tengsu Tjahjono, Terzina Penjarah, 1998: 41)

Puisi sarat dengan empati social ini tidak berteriak dengan garang, namun persoalan social disampaikan dengan sangat sederhana, santun dan halus namun begitu mengiris.

Penyair tak berteriak lantang penuh geram, namun menggumam teramat lirih namun terasa begitu pedih.

Pembaca dengan mudah dapat menangkap perasan getir, tak berdaya, lemah dan tersiasia. Pengalaman humanistis dengan tepat mampu menhujam sanubari pembacanya.

Epilog

Pada usianya menjelang 65, sajak-sajak Tengsoe Tjahjono memperlihatkan kecenderungan semakin mudah menangkap momen puitik dari keseharian.

Mulai dari peristiwa, benda-benda keseharian yang teramati secara visual, hingga hal-hal yang ditangkan secara audio.

Sesuatu yang akrab namun dalam titik tertentu menggugah sesuatu yang tidak nyaman yang harus disuarakan menjadi puisi.

Dalam usia yang makin bertambah lansia, Tengsu mengibaratkan puisi serupa benjolan yang terdapat dalam tenggorokan penyair.

Sesuatu yang tidak nyaman yang dihadapi oleh penyair dan harus digumamkan berupa puisi. Dan sesuattu yang membuat “tidak nyaman”, bagi Tengsoe bisa muncul dari segala benda remeh temeh, peristiwa remeh temah, dan yang mampir di pendengarannya.

Semuanya memnghadirkan bentuk-bentuk yang harus dihadirkan pada orang lain, karena itu kumpulan puisi paling gresnya di usia menjelang 65 diberinya tajuk Pelajaran Menggambar Bentuk (2023).

Muara dari semua itu adalah sebuah cnta dan kesederhanaan. Hidup adalh cinta yang sederhana. Sederhana iru indah, sederhana itu puitik, dan hidup adalah aksara yang sederhana namun begitu indah, seperti sajaknya berikut ini

Aksara

Ibu semirip ubi
Energ sederhana dari cinta

Bapak serupa badak
Pelawak yang ditinggaljan sorak

Anak menjelma onak.
Berenanglah Malin di pusaran air mata emak.

Sugeng ambal warsa Suhu. Dirgahayu selalu!

******
*)Penulis adalah penyair, sahabat, dan teucu penyair Tengsoe Tjahjono.

Editor : Nur Wachid
#Tengsoe Tjahjono #TJAHJONO WIDIJANTO #ngawi #sastrawan #puisi #sastra #esai