Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Guru Hebat, Indonesia Kuat?

Redaksi • Senin, 25 November 2024 | 15:48 WIB
Hari Guru Nasional.
Hari Guru Nasional.

Guru Hebat, Indonesia Kuat?
Oleh: Dr. Sutejo, M. Hum.

Ya, guru hebat itu investasi negeri. Bayangkan sebuah negeri yang hebat dan kuat karena memiliki guru-guru hebat.

Mereka yang mewarnai anak-anak negeri penuh dengan prestasi. Mereka yang mampu menggembalakan anak bangsa seutuh jiwa dan rasa.

Pendek kata, guru yang menjalani profesinya karena panggilan jiwa. Begitulah dulu, paradigma ini dikenal jauh sebelum tahun 2000-an.

Saya bayangkan guru hebat itu adalah mereka berjiwa penggembala, literat, berbudaya, pemikir, perenung, tulus hati, empatif, pembaca, penulis, kreator, mediator, fasilitor, inovator, penuh pengorbanan, dan "pencipta" sesuatu.

Mungkinkah sosok guru demikian terwujud? Jika mau bergerak, berbuat, berlatih, dan berkreasi, apa ada yang tidak mungkin? Apalagi guru yang sejak mula, jiwanya telah terpanggil jadi penggembala.

Karakter Guru Abad ke-21

Di Bulan Guru Nasional (BGN) 2024 dan perayaan Hari Guru Nasional (HGN)-nya, Kemendikdasmen Abdul Mu'ti, mencanangkan tema, "Guru Hebat, Indonesia Kuat". Sebelumnya, telah ditetapkan bulan November sebagai BGN oleh Kemendikdasmen.

BGN karena itu, penting disambut dengan semangat, pikiran jernih, rasa yang tulus, serta jiwa baru dan perspektif baru pula.

Pesan penting idealisme guru hebat adalah pesan hakiki yang harus disadari para pendidik negeri. Mari menjadi guru hebat dalam berbuat, bertindak, dan bercitra diri mewujudkan karakter berikut.

Pertama, guru hebat itu literat. Guru yang melek baca tulis, digital, numerik, finansial, sains, serta melek budaya dan kewarganegaraan. Pendek kata, guru yang memiliki literacy skill.

Kedua, guru hebat itu cakap berpikir. Guru yang mempunyai thingking skill. Sebab, berpikir itu modal belajar, berbahasa, dan hidup bersama.

Guru dengan kemahiran berpikir dipastikan mampu jadi pendamping berpikir dan belajar penuh makna anak didiknya.

Ketiga, guru hebat itu cakap hidup. Istilahnya, guru yang memiliki life skill. Dalam konsep cerdas hidup, paling tidak guru dalam konteks ini adalah mereka yang memiliki kecerdasan personal (pribadi), kecerdasan sosial, kecerdasan akademik, dan kecerdasan vokasional (keterampilan).

Ketiga hal di atas, merupakan tuntutan dunia pendidikan era abad ke-21, di mana kekuatan dari ketiganya merupakan sesuatu yang mutlak adanya.

Karakter Guru Hebat

Sementara itu, di samping tiga hal di atas, guru hebat bagi saya, dituntut memiliki seperangkat mental utama dan kompetensi profesional yang harus dimiliki dan dipraktikkan. Seperangkat karakter hebat itu dapat mencakup hal-hal berikut.

Pertama, guru harus punya empati penuh. Empati adalah modal besar seorang guru hebat. Memiliki kepedulian tinggi pada orang lain, sesama guru, terlebih pada anak didiknya.

Empati terhadap segala hal sejak mulai dari keinginan, kebutuhan, pengalaman, dan apa yang mereka lakukan.

Guru hebat empatif adalah mereka yang mengenal anak didik, latar sosial dan latar jiwa, bakat dan keterampilannya.

Apalagi empatif pada masalah dan kesulitan yang dihadapinya, sehingga kehadiran guru bisa menjelma "malaikat penolong" bagi anak didiknya.

Kedua, guru hebat harus mampu mendengarkan anak didik tanpa menghakimi. Guru mampu berbeda dan menghargai sudut pandang, serta memahami emosi dan jiwa siswa-siswinya.

Fungsi sebagai pendamping belajar benar-benar harus disadari oleh guru empatif. Pendamping yang pendengar adalah seorang pembimbing, yang mampu mengulik bakat dan mengembangkannya.

Guru pendengar jelas bukan guru indoktrinatif tetapi guru yang senantiasa berpikir dan bertindak konstruktif.

Ketiga, guru hebat harus kompeten, pembelajar, dan mampu mengembangkan dirinya. Profesionalisme pertama-tama ditandai oleh kompetensi, baik akademis maupun didaktik metodiknya.

Untuk menuju yang demikian, guru hebat wajib seorang pembelajar. Pembelajar sepanjang hayat dan mampu jadi guru kehidupan di sembarang tempat.

Artinya, guru pembelajar akan terus mengasah diri. Terbuka dalam belajar dan mengasah kompetensi diri, serta mampu berdiskusi dan berbagi dengan sesama koleganya. Guru demikian dituntut berpikir dan bertindak open mind.

Keempat, guru hebat itu sosok yang bertanggung jawab. Guru yang berani mengaku salah dan gagal mengajar anak, bukan guru yang senantiasa menyalahkan anak didiknya.

Seorang guru hebat tentu guru disiplin, berkeladanan, menepati janji, serta mampu selesaikan tugas-tugas yang disandang dengan tepat waktu.

Kelima, guru hebat memiliki kegigihan, ketangguhan, dan ketahanan diri. Artinya, guru hebat itu bermental pemenang, tahan banting, dan tidak mudah menyerah.

Mereka yang selalu bangkit ketika terjatuh, dan selalu berguru dari pengalaman untuk memetik pelajaran dan hikmahnya. Guru hebat demikian berketahanan tinggi.

Mampu belajar dari kesulitan dan kekalahan, serta tidak mengandalkan pada kemampuan orang lain. Guru pembelajar, berpikir terbuka, dan berotot jiwa yang tangguh. Kokoh tidak tertandingi.

Keenam, guru hebat itu pendengar hebat. Seringkali kegagalan guru karena mereka gagal jadi pendengar atas suara-suara jiwa anak didik. Suara hati dan pikiran peserta didiknya.

Padahal, mendengarkan suara anak bisa menjadi pintu masuk hubungan hati dan jiwa yang menyatu dan tidak bersekat.

Guru pendengar adalah mereka yang meluangkan waktu untuk memahami perspektif anak didik dan mendorongnya mau berbagi pikiran dan pengalaman.

Ketujuh, guru hebat itu adaptif. Dalam konteks mutakhir, bayangkan jika guru tidak adaptif, tidak akomodatif, dan tidak fleksibel atas dinamika zaman.

Di sinilah, kemampuan adaptif menjadi sangat penting sebagai salah satu indikator guru hebat.

Adaptif atas perkembangan ilmu pengetahuan, dinamika perubahan sosial masyarakat, dan trend pengubah karakter Gen Z yang rapuh. Disiplin dan profesional akan menjadi tiang pembelajaran bermakna.

Kedelapan, guru hebat itu kreatif dan inovatif. Karakter guru yang paling disukai anak didik tentu mereka yang kreatif dan inovatif. Selalu ada yang baru dan berbeda, ada yang mengejutkan dan unik, dan ada yang mengundang emosi peserta didik.

Tersebab, kreasi tepat dengan materi yang dibawakannya. Apalagi ekspresi pembawaannya penuh warna dan penuh pesona.

Kesembilan, guru hebat itu berdaya komunikasi hipnotik. Daya komunikasi guru sering kali lebih dahsyat dari pada kuasa materi.

Kuasai materi dan sampaikan dengan bahasa jernih, sederhana, dan bingkai dengan kecakapan berpikir kuat. Balut dengan emosi jiwa dan penuh empati aneka warna.

Ingat, bahasa komunikasi baik seorang guru hakikatnya guru yang mampu menyampaikan ide, materi, serta pemikiran dengan benar dan baik. Bahasa yang menyentuh logika dan jiwa.

Akhirnya

Mari wujudkan sosok diri sebagai guru hebat. Guru hebat, Indonesia kuat. Terus bergerak menjadi guru hebat. Belajar itu tak kenal kata terlambat.

Guru hebat adalah guru yang melek pikiran, melek jiwa, melek hati, dan melek emosi kepada anak didiknya. Sehingga mampu menggali potensi, menumbuh-kembangkan, hingga mendidik mereka jadi generasi bermoral dan berkarakter.

Mari mewujudkan diri menjadi Guru hebat. Guru hebat adalah guru genius ala para filosof Jerman tetapi berhati "Mekah" dan "Madinah". (*)


BIODATA SINGKAT: Dr. Sutejo, M. Hum., dosen di LLDIKTI VII Jawa Timur, tinggal di Ponorogo.

Editor : Nur Wachid
#Pendekatan #indonesia #Sutejo #guru #pembelajaran