Merangsang Jiwa Wirausaha

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 22 November 2024 | 17:24 WIB

Merangsang Jiwa Wirausaha.
Merangsang Jiwa Wirausaha.

Merangsang Jiwa Wirausaha

Oleh: Dr. Sutejo, M.Hum*

ADA banyak hal yang paradoks dalam kehidupan ini. Ada pengusaha sukses tidak memiliki latar pendidikan formal bidang ekonomi, sebaliknya banyak sarjana ekonomi tidak mampu berbisbis.

Bisnis bagi saya itu bersifat naluriah, instingtif, dan habituatif.

Mengapa? Semua orang ingin mendapatkan hasil dalam hidup, inilah yang saya katakan bersifat naluriah dan instingtif.

Sementara, berbisnis itu hanya soal kebiasaan yang melekat ke dalam jiwa seseorang kemudian dipraktikkan. Kini, istilah kerennya disebut: literasi kewirausaan.

Saya memiliki dua mahasiswa unggulan yang kemudian menjadi pengusaha sukses di Wonogiri dan Ponorogo: Loso dan Andry.

Saya, saksi hidup bagaimana mereka merintis usaha jatuh bangun hingga sukses sebagaimana sekarang.

Keduanya bukan dari jurusan ekonomi (syariah) tetapi jurusan bahasa Indonesia dan Inggris.

Khusus, Mas Loso, hakikat bisnis yang dibangunkembangkan adalah bisnis syariah.

Tumbuhkan Jiwa Usaha

Apa yang menarik? Berikut sejumlah logika diri agar kita memiliki jiwa kewirausahaan sehingga mampu hidup dan memenangkan kompetisi bisnis.

Pertama, pentingnya memiliki jiwa pembelajar dalam kehidupan, khususnya bidang usaha.

Seorang pengusaha adalah mereka yang tidak pernah berhenti belajar.

Sebab, persaingan usaha terjadi setiap waktu dan faktornya pengganggu dan pendukungnya bisa sangat variatif, tergantung konteks dan jenis usaha yang dirintis.

Belajar kepada orang yang telah berjalan bisnisnya, bagi saya, merupakan cara yang paling mudah.

Kedua, mau mempraktikan pengetahuan usaha. Setelah memiliki pengetahuan, belajar dari pengalaman pengusaha lain, tugas kita adalah menemukan tip atau cara praktis berbisnis orang lain, kemudian memodifikasi dengan gaya personal untuk memulai merintis usaha.

Ingat, jenis usaha bisa memiliki risiko dan peluang yang berbeda-beda, jangan digeneralisasi.

Meskipun secara nilai, bisa digeneralisasikan. Tetapi, masing-masing jenis usaha memiliki keunikannya masing-masing.

Ketiga, peka membaca peluang bisnis. Semakin kecil sesuatu bisnis usaha dilakukan oleh orang lain, maka akan semakin sukses kemungkinan kita merintisnya.

Saya pernah membaca tulisan yang mengejutkan saya, di pantat mobil tanki tertulis begini, “Hidupku tergantung pada pantatmu!”

Mulanya saya tertawa, tetapi kemudian sadar, bahwa usaha yang dijalankannya adalah bisnis sedot WC.

Sedot tinja, yang tidak banyak dilakukan, atau bahkan dijauhi oleh pengusaha lain.

Keempat, jangan banyak berpikir, praktikkan! Almarhum Bob Sadino pernah berpesan, dalam bisnis letakkan otak/pikiranmu di dengkul, kemudian silakan melangkah.

Jatuh, bangun lagi begitu seterusnya. Dalam bisnis jangan terlalu banyak berpikir tetapi eksekusi dan mulailah. Belajar sambil “berjalan”, jangan belajar sambil “duduk”. Menarik? Pasti!

Kelima, teruslah belajar dalam praktik. Ingat, pengalaman usaha itu lebih penting dari pada teori tentang wirausaha.

Sering kali teori itu tidak semudah kala dipraktikkan atau bahkan teori sering kali tidak selalu match ketika dipraktikkan.

Mengapa belajar sambil “berjalan” penting? Seorang teman, tepatnya mahasiswa, bilang mengapa dia berhasil mengembangkan bisnisnya?

Dia bilang, modal energi of kepepet (lihat: youtube sutejoponorogo, “Alumni kampus literasi jadi pebisnis sukses”).

Keenam, ingat, jaringan dan kerumunan itu merupakan pasar alami. Karena itu, dalam konteks mutakhir, kita bisa memanfaatkan jaringan media sosial.

Seorang mahasiswa penulis memiliki IG dengan pengikut lebih dari 180 ribu follower, dilirik oleh sebuah penerbit buku, mengumpulkan tulisan-tulisan pendek kemudian diminta mengembangkannya.

Singkat cerita, dia berhasil menerbitkan sekitar lima buku, yang kemudian memberikan income finansial yang tidak sedikit untuk ukuran seorang mahasiswa untuk tiap bulannya.

Sekarang, yang bersangkutan bisa menikmati hasil dari aktivitas menulisnya.

Padahal, sebelumnya, menulis sebagai media pembunuh mental introvetnya.

Ketujuh, kenali bahwa konsumen adalah raja. Pola komunikasi dengan konsumen penting dijaga, selalu tanyakan tentang kualitas apa yang telah dibeli berikut layanan yang telah diberikan.

Ini menjadi penting untuk pijakan usaha berbasis pelayanan di satu sisi, dan di sisi lain, benar-benar kita mendudukan konsumen sebagai raja.

Memperlakukan pembeli sebagai raja adalah teknik bawah sadar berbasis psikologi masa.

Kedelapan, lipat gandakan dengan kerja keras dengan mental tahan banting.

Seorang pengusaha sesungguhnya dia yang pekerja keras, memiliki keberanian lebih, pantang menyerah, dan berani mengambil risiko terburuk sekalipun.

Pesan kerja keras sesungguhnya, bagaimana kita bisa melalukan lebih dibandingkan apa yang telah dilakukan oleh sang kompetitor bisnis.

Kesembilan, ingat pentingnya kerja cerdas. Setelah fase usaha berbasis kerja keras, maka tiba saatnya kita berpikir kerja cerdas.

Seorang teman bisnis, wakil Apindo Jawa Timur, Tri Andhi Suprihartono, dengan kelakar mengatakan, “Tugas seorang pengusaha itu jalan-jalan dan memastikan usahanya tetap berjalan.” (lihat: youtube sutejoponorogo, “Bisnis di Ponorogo dan Tri Andhi Suprihartono”).

Artinya, kerja cerdas itu berbasis pikiran bukan lagi berbagis otot dan tenaga lagi. Dalam konteks era digital dan teknologi, hal ini, jauh lebih mudah untuk diwujudkan.

Bagaimana?

Dengan kata lain, hal di atas sesungguhnya sedikit tentang apa yang sering disebut dengan literasi kewirausahaan.

Bukan sekadar mengenali informasi, menyeleksi, tetapi mampu menggunakan informasi bisnis dalam praktik bisnis yang dirintis dan dilakukannya.

Secara teori, literasi kewirausahaan kerap diungkapkan sebagai pemahaman seseorang terhadap wirausaha dan kemampuannya dalam mengembangkan peluang usaha menjadi kesempatan yang menguntungkan. 

Tunggu apa lagi, mari merintis usaha. Mahasiswa yang hebat adalah mereka yang mampu menciptakan ruang dan peluang hidup dan usaha, bukan mengeluhkan lapangan kerja. Akhirnya, mari berbuat sebelum terlambat! 


BIODATA SINGKAT PENULIS: Dr. Sutejo, M.Hum., dosen luar biasa di FEBI IAIN Ponorogo.

Editor : Nur Wachid
Sumber : Radar Lawu
wirausaha cara tips ekonomi IAIN Ponorogo jiwa Sutejo bisnis Merangsang