Radar Lawu: Radar Literasi?

Nur Wachid • Dipublikasikan Sabtu, 16 Desember 2023 | 21:29 WIB

Photo
Photo

Penulis: Sutejo

Dosen LLDIKTI VII Jawa Timur DPK pada STKIP PGRI Ponorogo

 

KEHADIRAN Radar Lawu melengkapi sejumlah media online yang ada. Selamat datang. Datang dengan semangat kreatif mengolah literasi kebudayaan untuk mewartakan nilai, makna, dan kecerdasan sikap hidup yang ber-kesadaran.

Tiba-tiba saya punya impian atas persalinan Radar Lawu. Sebagai budayawan, saya pikir: alangkah indahnya media ini jadi jembatan literasi sosial budaya yang menyadarkan dan menggerakkan. Alangkah indahnya, jadi media alternatif yang mengulik realitas kehidupan nan menukik. Sebagai ruang ekspresi dan refleksi hidup sosial, masyarakat, dan bernegara secara jernih dan berwibawa.

Bukan sekadar berita informatif (news) misalnya, tetapi bagaimana media ini mampu menjadi media alternatif, investigatif, humanis, dan bergaya sastrawi. Feature inspiratif bernilai gerak kehidupan penting dipikirkan, diolah, dan disuguhkan secara emotif dan sastrawi. Jadilah segesti berita-cerita yang indah. Estetik dan menggelitik.

Alangkah asyiknya kemudian Radar Lawu kelak jadi semacam "Rumah Lebah Virtual", yakni tempat terkumpulnya pemikiran, pengalaman, dan refleksi pemaknaan aktivis kehidupan, praktisi komunitas, dan akademikus luwes yang cerdas, dalam berkontribusi pada kebermaknaan realitas kehidupan. Bukan tulisan menara gading nan serba teoritis.
*

Sebagai media online yang tidak terbatasi "waktu cetak" Radar Lawu akan punya kecepatan informasi lebih karena didukung sarana dan grup media besar handal. Tentu, nilai lebih demikian penting dioptimalkan bagi eksistensi media sehingga berkarakter kuat. Sikap politik medianya diperhitungkan oleh semua pihak.

Karena itu, perlu dipikirkan media ini sekaligus sebagai "kabel komunikasi" antara penulis dan masyarakat, antara jurnalis, masyarakat, dan negara. Tentu butuh berita bernas, cepat, dan bernilai humanitas yang cerdas dan kuat.

Media pemantul aspirasi masyarakat dengan birokrat daerah di sekitar lereng Lawu. Tempat permenungan segala "soal" yang diungkapkan dengan bahasa lebih sederhana dan komunikatif. Media berkarakter kuat dalam mengusung gagasan kritis ke dalam beragam tulisan tetapi tetap "lembut" dan mencerdaskan.

Barangkali kelak Radar Lawu, bisa jadi aspirasi laten yang nilai filosofisnya menyelinap ke bawah sadar masyarakat, menggugah, dan menggerakkan. Betapa kepenatan hidup mutakhir perlu "tempat relaksasi" sehingga otot kejiwaan bisa terjaga. Radar Lawu bisa jadi "Ruang virtual" yang tak terbatas waktu bagi semua lapisan masyarakat untuk berselancar renyah dan menemukan nilai-nilai hidup yang indah.

Kekhasan "pengucapan" berita khas, esai, opini, style, puisi, dan cerpen misalnya akan jadi teman kehidupan bermakna. Sebab, Radar Lawu --si jembatan literasi-- jelas akan menawarkan pemahaman, pemaknaan, penyadaran, dan kecerdasan sintesis dalam membaca dan mengatasi pernik dan persoalan sosial budaya di masyarakat.

Akhirnya, selamat datang Radar Lawu. Semoga menjadi radar jiwa, radar rasa, radar budi, bagi masyarakat di sekitar gunung Lawu. Filosofi gunung sebagai "penyeimbang" dalam penciptaan bumi dalam ajaran agama, sungguh menarik direnungkan.

Gunung serupa paku bumi yang menguatkan. Begitulah kelak impiannya kehadiran Radar Lawu dalam kontestasi peradaban sosial, budaya, pendidikan, politik, ekonomi, dan agama bagi masyarakat yang berkeadaban. (*)

 

Editor : Nur Wachid
Sumber : Radar Lawu
literasi radar lawu