Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Kembang Lawu

Nur Wachid • Sabtu, 16 Desember 2023 | 04:59 WIB

(GRAFIS: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)
(GRAFIS: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)

Oleh: Nur Wachid

Jurnalis Jawa Pos Radar Madiun; Jawa Pos Radar Lawu

 

LASMINI menahan getir kehidupan setelah kehormatannya dirampas gerombolan lelaki hidung belang. Tubuhnya dihempaskan ke jurang di kawasan Gunung Lawu. Lasmini masih hidup, dia ditolong dan diselamatkan Nenek Lawu.

Penuh kasih, si nenek merawat Lasmini yang tak hanya terluka lahir dan batinnya. Lasmini bukan lagi wanita seutuhnya.

Lasmini tak ingin terjebak dalam penderitaan. Dia potret perempuan tangguh pada masanya. Nenek Lawu tak kalah tangguh. Berkat si nenek, Lasmini mampu bangkit dari keterpurukan.

Lasmini tergerak meninggalkan kelam pikiran usai Nenek Lawu mengajaknya belajar ilmu silat. Dengan telaten dan sabar si nenek menurunkan ilmu silat pada Lasmini.

Dendam positif Lasmini yang menjadi jalan mudah mempelajari seluruh ilmu silat Nenek Lawu. Dendam positif itu pula yang menyatukan jiwa dan raganya melebur dengan ilmu silat yang diwariskan Nenek Lawu.

Seluruh ilmu silat telah dikuasai. Lasmini mohon doa restu pada Nenek Lawu untuk turun gunung. Si nenek memberi berkat keselamatan.

Singkat cerita, Lasmini memburu seluruh lelaki hidung belang yang menodainya. Berkat ilmu silat mumpuni, satu-persatu musuhnya itu ditumpas.

Potongan cerita dalam film laga fiksi Saur Sepuh III: Kembang Gunung Lawu (1990) yang disutradarai Imam Tantowi itu diadaptasi dari sandiwara radio Saur Sepuh karya Niki Kosasih, populer di Indonesia era 80-an. Film itu menegaskan pada kita tentang kehebatan dan misteri Gunung Lawu.

Di tarik mundur jauh ke belakang, karya sastra kuno turut menyebutkan kehebatan Lawu. Mulai Serat Centhini, hingga Serat Manikmaya yang ditulis 1794 masehi lalu secara gamblang menyebut nama Lawu. Konon, gunung dengan ketinggian 3.265 mdpl itu merupakan bagian gunung keramat di Jawa. 

Gunung Lawu menyimpan khazanah dan kekayaan, simbol penghidupan. Orang-orang di Lawu juga menyebut gunung ini sebagai simbol ketangguhan.

Ya, simbol ketangguhan yang menghidupi seluruh penghuninya. Dari rahim Lawu pula, lahirlah kembali Jawa Pos Radar Lawu, yang dulu nama ini pernah berjaya sebagai media koran di Magetan dan Ngawi.

Kalau tidak salah 2016 lalu, hingga beberapa tahun berselang sebelum pergantian 2018 berekspansi jadi Jawa Pos Radar Ngawi dan Jawa Pos Radar Magetan. Kini keduanya tetap eksis sebagai media koran, rujukan konfirmasi terakhir informasi di Ngawi dan Magetan. Kepanjangan tangan di daerah dari Jawa Pos Radar Madiun di bawah naungan Jawa Pos.

Jawa Pos Radar Lawu juga menjadi bagian di dalamnya. Berbasis media online, radarlawu.jawapos.com, dengan cakupan wilayah dan informasi yang lebih luas. Mulai Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Kota/Kab. Madiun, Karanganyar (Jawa Tengah), dan berbagai daerah lainnya.

Jawa Pos Radar Lawu berdiri dengan pendekatan sosio-budaya. Bersama komunitas, pegiat di berbagai bidang. Bergerak bersama, menyediakan-mengisi, bisa jadi harus saling melengkapi. Semangat utamanya, tentu, melek keterbacaan, membuka tabir literasi. Kalau boleh meminjam istilah Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum-Guru Besar Antropologi Sastra Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), puncak literasi adalah melek kahanan.  

Harapannya, tentu Jawa Pos Radar Lawu tumbuh dan berkembang setangguh nama Gunung Lawu. Tangguh dalam kecepatan menyajikan informasi yang akurat. Tangguh dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Tangguh dalam menjadi pilar keempat demokrasi. Tangguh dalam menyediakan ruang komunikasi seluas-luasnya.

Ya, barangkali kebesaran Jawa Pos Radar Lawu ini belum sehebat ibunya (baca: Jawa Pos Radar Madiun Digital). Ibarat kuncup: kembang Lawu yang akan mekar pada saatnya nanti. Salam.  

Editor : Nur Wachid
#literasi #radar #jawa pos #gunung #lawu