Jawa Pos Radar Lawu - Grumman F-14 Tomcat dan Boeing F/A-18E/F Super Hornet adalah kedua pesawat tempur jet yang sangat berperan dalam membentuk penerbangan angkatan laut.
Keduanya memiliki peran tersendiri, namun banyak yang berdebat kalau salah satu dari keduanya merupakan pesawat jet angkatan laut yang lebih baik.
Lalu, bagaimana fakta sebenarnya? Yuk simak di bawah ini!
Baca Juga: Fakta Unik B-2 Spirit, Pesawat Siluman Amerika yang Tak Terlihat Radar
Informasi Mengenai Kedua Pesawat
Sebelum masuk ke pembedahan spesifikasi, mari masuk dan mengenal dulu kedua pesawat jet tempur tersebut secara umum.
Grumman F-14 Tomcat adalah pesawat supersonik bermesin ganda, yang ikonik dengan konfigurasi sayapnya yang bisa diubah sesuai kebutuhan.
Sayap bervariabel tersebut menunjang perannya sebagai pesawat tempur dogfight untuk superioritas udara dan pertahanan armada.
Selain itu, F-14 juga dilengkapi dengan radar yang sangat canggih pada masanya, yaitu radar AN/AWG-9 yang dapat mengunci beberapa target jarak jauh pada waktu yang bersamaan.
Boeing F/A-18E/F Super Hornet, yang merupakan evolusi dari McDonnell Douglas F/A-18 Hornet adalah pesawat yang menggantikan F-14 setelah dipensiunkan pada tahun 2006.
Tak seperti F-14, F/A-18E/F memprioritaskan fleksibilitas yang memungkinkan pesawat tersebut dapat menjalankan misi yang beragam.
Mulai dari dogfighting, serangan ke darat dan laut, hingga penyerangan elektronik (electronic warfare) dengan varian EA-18G Growler.
Fleksibilitas itu juga tercermin oleh mampunya F/A-18E/F memenuhi misi tanpa membutuhkan bantuan pesawat lain yang terspesialisasi.
Baca Juga: Fakta Unik F-22 Raptor, Jet Tempur Amerika yang Tak Pernah Kalah di Udara
Spesifikasi Boeing F/A-18E/F Super Hornet
Dimensi
- Panjang: 18.3 m (60 ft 1 in)
- Rentang Sayap (terbetang): 13.4 m (44 ft 0 in)
- Tinggi: 4.9 m (16 ft 0 in)
Performa
- Kecepatan Maksimum: Mach 1.8 (sekitar 1,915 km/h atau 1,190 mph)
- Batas Ketinggian: 15,240 m (50,000 ft)
- Jarak Tempuh: 2,000 mil laut (3,704 km dengan tangki bahan bakar eksternal)
- Beban Lepas Landas Maksimum: 29,937 kg (66,000 lb)
Persenjataan
- Meriam Senapan: 20 mm M61 Vulcan cannon
- Titik Tumpu: 11 (untuk berbagai senjata dan tangki bahan bakar)
Spesifikasi Grumman F-14 Tomcat
Dimensi
- Panjang: 19.1 m (62 ft 9 in)
- Rentang Sayap (terbetang): 19.5 m (64 ft 1 in)
- Rentang Sayap (terlipat): 11.6 m (38 ft 0 in)
- Tinggi: 4.9 m (16 ft 0 in)
Performa
- Kecepatan Maksimum: Mach 2.34 (sekitar 2,480 km/h atau 1,544 mph)
- Batas Ketinggian: 15,240 m (50,000 ft)
- Jarak Tempuh: 1.600 mil laut (2,964 km dengan tangki bahan bakar eksternal)
- Beban Lepas Landas Maksimum: 33,500 kg (74,000 lb)
Persenjataan
- Meriam Senapan: 20 mm M61 Vulcan cannon
- Titik Tumpu: 6 (untuk berbagai senjata dan tangki bahan bakar)
Baca Juga: Pesawat Siluman F-117 Nighthawk kini Menjadi Koleksi National Air and Space di Amerika Serikat
Adu Spesifikasi, Siapa yang Menang?
Dari spesifikasi kedua pesawat di atas, terdapat perbandingan yang sangat signifikan antara F-14 dan F/A-18E/F.
F-14 lebih besar, lebih cepat, mempunyai radar yang canggih, dan mempunyai variasi konfigurasi sayap berkat fiture variable-sweep wing.
Seluruh hal itu menjadikan F-14 mendominasi di arena dogfigting dan memiliki rasio K/D yang sangat tinggi yaitu 160:3.
Namun F/A-18E/F lebih fleksibel daripada F-14, serta dapat lebih banyak membawa senjata dan dapat terbang ke jarak yang lebih jauh.
Salah satu kelebihan yang paling menonjol dari F/A-18E/F adalah biaya operasional dan perawatannya yang sangat lebih murah dibandingkan F-14.
Biaya untuk merawat dan mengoperasikan F-14 bahkan melebihi biaya untuk mengoperasikan F-35 Lightning II jika disesuaikan dengan angka inflasi.
Walaupun tak bisa dipungkiri bahwa F-14 adalah pesawat yang sangat berpengaruh di dunia penerbangan angkatan laut, F/A-18E/F adalah pesawat yang cocok dengan kebutuhan di masa sekarang.
Dengan fleksibilitas tinggi dan biaya operasional yang murah, serta adaptabilitas untuk menangani segala jenis misi, menjadikan F/A-18E/F lebih unggul di masa sekarang dibandingkan dengan F-14.(*)
*Syifa Fitria Hanifah, Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : berbagai sumber