Namaku Raka. Sejak duduk di bangku SMA, aku mulai menyukai olahraga biliar. Awalnya cuma ikut teman karena penasaran. Tapi setelah beberapa kali bermain, aku merasa billiard bukan sekadar memukul bola dengan stik. Ada strategi, konsentrasi, kesabaran, dan ketelitian yang harus dimiliki.
Setiap pulang sekolah, kalau ada waktu luang, aku biasanya mampir ke tempat billiard dekat rumah. Tidak selalu bermain lama. Kadang aku cuma satu atau dua jam, lalu pulang.
Sayangnya, ayah tidak pernah suka dengan hobiku itu.
"Ngapain kamu buang-buang waktu buat main begituan?" tanya Ayah suatu sore.
"Ini bukan cuma main, Yah. Aku suka billiard. Aku juga pengin serius belajar," jawabku.
Ayah hanya menghela napas.
"Serius? Memangnya billiard bisa menjamin masa depanmu?"
Aku diam. Pertanyaan itu sebenarnya sederhana, tapi aku tidak tahu harus menjawab apa.
Bagi Ayah, masa depan berarti kuliah, mendapatkan pekerjaan yang bagus, lalu hidup dengan baik. Menurutnya, hobi seharusnya tidak mengganggu pendidikan.
Sejak saat itu, Ayah semakin sering mengingatkanku untuk berhenti bermain billiard.
"Kalau waktumu dipakai belajar, hasilnya mungkin lebih bagus."
"Jangan sampai gara-gara billiard nilai kamu turun."
"Ayah nggak mau kamu salah pergaulan."
Aku tahu Ayah sebenarnya khawatir. Tapi semakin sering mendengar perkataan itu, aku justru merasa Ayah tidak pernah mencoba memahami apa yang aku sukai.
Suatu hari, aku mengikuti pertandingan billiard antarsekolah. Aku sengaja tidak memberi tahu Ayah karena takut dilarang. Aku hanya bilang kepada Ibu kalau ada kegiatan sekolah.
Hari itu aku berhasil masuk final.
Untuk pertama kalinya, aku merasa apa yang selama ini kulakukan ternyata tidak sia-sia. Aku memang belum menjadi pemain hebat, tetapi aku mulai percaya bahwa aku bisa berkembang kalau terus berlatih.
Sayangnya, aku kalah di pertandingan final.
Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Sedih karena kalah, tetapi juga bangga karena bisa sampai sejauh itu.
Saat membuka pintu rumah, ternyata Ayah sudah duduk di ruang tamu.
"Kamu dari mana?" tanya Ayah.
Aku terdiam beberapa detik.
"Pertandingan billiard, Yah."
Wajah Ayah langsung berubah.
"Jadi selama ini kamu diam-diam ikut pertandingan?"
Aku menunduk.
"Iya."
Ayah tidak langsung marah. Ia hanya diam cukup lama.
"Ayah kecewa kamu bohong," katanya pelan.
Aku memberanikan diri menjawab.
"Aku juga kecewa, Yah."
Ayah menatapku.
"Aku kecewa karena Ayah nggak pernah mau lihat kenapa aku suka billiard. Ayah selalu menganggap billiard itu cuma buang-buang waktu."
Suasana ruang tamu mendadak hening.
"Aku nggak minta Ayah langsung suka sama billiard. Aku cuma pengin Ayah percaya kalau aku bisa bertanggung jawab."
Ayah masih diam.
Aku kemudian mengambil sebuah medali dari tas dan meletakkannya di meja.
"Ini dari pertandingan tadi. Aku memang kalah di final. Tapi aku bisa sampai final karena latihan."
Ayah melihat medali itu cukup lama.
"Kalau Ayah kasih kamu kesempatan, apa kamu bisa tetap fokus sekolah?" tanyanya.
Aku langsung mengangguk.
"Bisa, Yah. Aku janji."
"Nilai sekolah tetap harus dijaga."
"Iya."
"Dan jangan sampai billiard membuat kamu lupa kewajiban."
"Iya, Yah."
Untuk pertama kalinya, Ayah tidak menyuruhku berhenti.
Sejak hari itu, Ayah memang belum sepenuhnya mendukung hobiku. Ia bahkan masih sering mengingatkan agar aku tidak terlalu sering bermain. Tetapi setidaknya sekarang Ayah mulai mencoba memahami.
Beberapa minggu kemudian, aku sedang berlatih di tempat billiard ketika seseorang berdiri di belakangku.
Aku menoleh.
Ternyata Ayah.
"Ayah ngapain ke sini?"
"Katanya kamu latihan. Ayah mau lihat."
Aku tersenyum kecil.
Ayah memperhatikan permainan beberapa saat. Setelah itu, ia berkata,
"Kalau memang kamu suka, tekuni dengan benar."
Kalimat itu sederhana. Tidak ada tepuk tangan atau pujian berlebihan. Tapi bagiku, kalimat itu terasa sangat berarti.
Aku akhirnya mengerti bahwa terkadang orang tua bukan tidak mendukung anaknya. Mereka hanya takut anaknya memilih jalan yang menurut mereka belum tentu aman.
Dan mungkin, tugasku bukan memaksa Ayah untuk langsung percaya.
Tugasku adalah membuktikan bahwa apa yang aku sukai tidak harus membuatku melupakan tanggung jawab.
Billiard bukan sekadar bola yang bergerak di atas meja.
Bagi aku, billiard mengajarkan satu hal penting: untuk mencapai tujuan, kita harus tahu ke mana harus mengarahkan langkah, lalu berani mengambil kesempatan untuk memukulnya.
(Fauzan Fulvian Faustanto Magang Universittas Negeri Yogyakarta)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Karya orisinal