Kupu-Kupu di Dada Silvy
Cerpen: Warok Sutejo
“Silvy, dadamu dihinggapi kupu-kupu, gak geli?” tanya Anwar ketika melihat sejumlah kupu-kupu asyik bermain di dada wanita itu. Silvy cuek dengan pertanyaan Anwar, kiranya dia sedang menikmati jari kupu-kupu. Kupu-kupu merah di dada kiri bersama kupu-kupu biru sementara di dada kanan hinggap kupu-kupu kuning dan hijau.
Di tengah-tengah dada Silvy masih ada kupu-kupu berwarna ungu dengan sulak hitam. Anwar melihat pelangi di dada Silvy. “Alangkah indahnya dada Silvy?”
Anwar anak jakunnya naik turun, dia seakan melihat lukisan eksotis perempuan tak berpakaian dihinggapi penuh kupu-kupu di dada. Tangan dan jari-jari Anwar gemetar, digenggam kuat-kuat. Seperti menahan sesuatu.
Silvy mengamati kupu-kupu, belum pernah dia merasakan sensasi itu. Sama sekali tak ingin mengusirnya. Barangkali, itu kupu-kupu penyair. Silvy tak ingin melepaskan kesempatan itu, dia ingin menari, dan terbang bersama kupu-kupu mengitari harum wangi bunga.
“Di mana, kau tinggal wahai kupu-kupu? Di mana kau tinggal penyairku?” tanya Silvy manja. Kelima kupu-kupu itu menghadapkan wajahnya ke dagu Silvy. “Dagumu indah. Dagumu adalah energi, tidak saja dadamu. Alis dan mungil bibirmu.”
***
Silvy adalah mahasiswi jurusan sastra yang gandrung puisi, “Tak ada sesuatu yang bisa menggetarkan kecuali puisi. Puisi adalah ekstasi jiwa. Laku transendental. Melompat dari bukit satu ke bukit imajinasi lain sebagai Sisipus, tanpa lelah mendaki.”
“Rekreasi penyair?”
“Taman Seniman. Bukankah Tuhan itu Seniman tak Terbayangkan. Penuh misteri, tak terduga, dan menguras emosi jiwa dan rasa?”
Aku terpukau pada kelincahan mungil bibirnya, juga kelejatan imajinasi pikirannya. Seorang mahasiswi terluka oleh perjalanan hidup. Dendam tak selesaikan masalah. Dendam yang dia lakukan aneh, “Kalau ayah nakal, kenapa aku tidak boleh?”
Aku melihat ada pemberontakan terstruktur pada diri Silvy. Sore itu, ibunya menangis melihat Silvy, “Berhentilah bermain laki-laki. Tidak ada ruginya bagi laki-laki. Yang rugi kamu sendiri.”
Sepasang mata Silvy menjelma api. Menatap keras ke arah ibu tirinya. “Kau merusak keluarga ayah, membunuh ibuku, dan bikin gila orang, itu kebaikan. Tidak merusak dan merugikan? Seperti ocehan kamu.” Silvy berdiri menghampiri ibu, “Siapa yang pelacur? Berganti-ganti pacar itu bukan pelacur. Paham?”
“Oke,” jawab ibunya. “Aku paham kau marah. Tetapi ini berkaitan dengan masa depan perempuan yang belum menikah.”
“Salah berpacaran? Ibu berpacaran dengan suami orang. Minggat pula!”
“Tapi, kamu masih gadis, aku janda.”
“Tidak penting lagi bicara gadis atau janda. Hidup harus selaras. Laki laki tak pernah diadili, masih perjaka atau tidak? Toh, yang merusak perempuan laki-laki. Apa salahnya, yang nanggung juga laki-laki?”
“Maafkan ibu, Silvy!”
“Aku tahu laki-laki tak ada yang serius dengan aku. Mereka hanya menikmati tubuhku. Ini semua karena ayah dan ibu. Gak papa. Saya harus terima. Mereka mempermainkan aku. Ingat, aku sedang mempermainkan mereka. Tak usah terlalu dipikirin. Aku sudah tidak mikir. Hidup sendiri pun, kelak, jika ditakdirkan, aku siap.”
Ibunya merangkul Silvy. “Jangan begitu Nak! Hidup kamu masih panjang.”
***
“Penyair dan taman adalah dunia lain,” debat Silvy pada teman perempuannya. “Bercinta dengan penyair itu beda. Selalu memancing kecerdasan, keberanian, dan keliaran imajinasi.” tukas pemilik bintang Aquarius, si spontanitas ulung.
“Apa puisi terbaru?”
”Bibir Penyair,” sahut perempuan bermata emas. Berkilau.
“Sebelumnya?”
“Mata Batin Seniman Kata.” mata Silvy berbinar, warna warni serupa pelangi.
“Dibandingkan laki-laki umumnya?”
“Tidak level. Penyair orangnya romantis, santun, dan memanjakan wanita. Jauh berbeda dibanding laki-laki umum yang hanya mesum.”
“Tidak mesum?”
“Mesumnya beda. Ketika berkata serupa larik-larik puisi. Bikin gemuruh di dada.”
“Wow, boleh dicoba punya pacar penyair.” Keduanya berpelukan. Temannya tanya, “Ada?”
“Sama pacarku saja.”
“Maksudmu?”
“Aku akan berburu penyair lain. Sebelum dapat mangsa, cinta segitiga tidak apa-apa.”
“Bagaimana caranya?”
“Nikmati dan baca saja puisi-puisinya. Bilang kalau suka. Terus, jangan lupa, suka isi dan penyairnya. Tiap penyair punya naluri erotis.”
“Gak papa?”
“Kalau kurang jelas, bisa bertanya kemudian?”
***
“Kau tahu, di kedua puisi itu aku temukan diriku, dunia, dan harga diri. Penyair ulung itu penyembuh jiwa, perawat imajinasi, dan obat cinta unik. Sampai kapan pun, aku akan cemburu kepadamu.”
“Maksudmu gimana? Kau suruh pacaran sama pacarmu, terus cemburu?”
“Kelak, penyair kita akan tetap jadi mata air hidup meskipun kita sudah bersuami. Terlalu santun sebagai lelaki, lebih suka menyakiti diri daripada melukai wanita. Dia pemuja wanita tapi tak merusaknya. Umumnya, laki-laki mematikan wanita.”
“Aku harus bagaimana?”
“Nikmati saja proses bersama dia!”
Sesampainya di rumah, perempuan itu terbayang-bayang sosok penyair. Kekasih temannya.
“Mungkinkah dia jatuh cinta padaku? Bagaimana ya, cara memikat yang paling gampang? Dadaku beda dengan dada Silvy, bibir dan rambutku juga beda. Hidungku tak mancung, bulu mata tak setebal Silvy.”
Dalam mimpinya, Silvy berkata. “Lelaki penyairku dalam kedua puisiku adalah malaikat menjelma kupu-kupu, beraneka warna sayap, aku sering terbang menari bersama kepak sayapnya yang lembut.”
“Dia suka dadaku enggak?” temannya ragu, tidak percaya diri.
Silvy tersenyum, “Siapa laki-laki yang tidak suka? Bagi penyairku, tidak ada payudara yang tak indah. Kecuali punya nenek!”
Keduanya terbahak.
“Maksudku, punya aku beda sama kamu?”
“Waduh, kegilaan penyairku itu. Apalagi, dadamu punya tahi lalat sepasang, kanan kiri.”
“Suka tahi lalat?”
“Oh, kelak akan tahu sendiri kamu Minari.”
“Yang jelas, pacarku tak akan menyakitimu. Sebaliknya, akan memuji dan memanjakan.”
Minari menari-nari. “Aku ingin jadi inspirasi sejumlah puisi dia, boleh?”
“Tidak ada larangan kok. Nikmati saja. Kamu butuh pematangan juga, kelak ketika jadi istri tidak akan mengecewakan seorang suami.”
“Mantap.”
“Apanya, belum ketemu kok mantap.”
“Bagaimana kalau dia akhirnya lebih tertarik kepadaku?”
“Tidak masalah, selama masih ada waktu untukku.”
Aku menikmati senja dan pertemuan romantis dengan penyair perempuan, berambut panjang. Dia bilang, ingin punya pacar penyair.
Rambutnya adalah dendam dan harapan yang berpacu, dan penyair --kekasihku kelak-- yang mengubah dirinya jadi pualam kehidupan. Tubuhnya tak seberapa tinggi, tidak subur, tetapi liat dentum energinya meruntuhkan langit imajinasi lelaki pacarku.
Letusan kata dari puncak bibir dia, menggetarkan pepohonan, merontokkan daun-daun. Aku saksi terlama menemani dia bermain di taman Seniman.
“Setiap orang itu seniman. Hanya butuh membuka pintu taman dengan kunci tepat, biar terbuka. Di depan pintu, terbentang liuk jalan indah, kiri kanan adalah pepohonan perdu berseling bunga-bunga indah.” bibir penyair perempuan ini bercerita lewat gerak ekspresif yang menggoda.
Kau dijamin tersesat di bibirnya, sesat yang indah. Kau dibuat linglung dan tak tahu arah. Kupu-kupu akan hilir mudik beterbangan menyambut kamu: ajarkan proses hidup.
“Bukankah hidup sebuah proses? Lalat, kepompong, baru jadi kupu-kupu?” ungkapnya lugas, matanya melempar cahaya kata bernas.
“Dan, penyair itu malaikat penjaga taman. Taman kreativitas ditumbuhi percikkan cahaya warna-warni, di langit taman telungkup bulan kuning bugil bulat melumat. Siapa pun hilang akal,
tepatnya: habis akal untuk tidak mengagumi kehebatan penyair kita.”
***
Anwar bukan Chairil Anwar, dia hanya lelaki tak terdidik, pemuja hasrat. Silvy pernah tertarik, tetapi itu dulu karena hilang arah angin sosial keluarga, berhembus tak menentu.
Anwar seakan angin harapan ketika itu tetapi sebenarnya tak lebih daripada lesus yang pengurung: berputar-pusar mendebarkan. Silvy pernah merasa terbungkus kain harapan, tetapi palsu jubah harapan yang dikenakan Anwar.
Dia hanya seorang nelayan rakus. Anwar jauh dari penyair yang telah membangunkan taman Seniman yang indah bagi Silvy. Di salah sudut taman, bahkan penyair kita meminta kuburkan ruh Anwar sedalam mungkin, “Di sini terbaring seorang penjahat hasrat. Anwar bin Hasato.”
Silvy adalah kupu-kupu, pertapaan menjelmakan sepasang sayap hidup. Menjadi kupu-kupu adalah pilihan. Tentu, bukan kupu-kupu malam. Andai tidak bertemu penyair kita, entah yang terjadi kemudian.
Maka, sebagai balas budi kepada penyair kita, Silvy relakan dia bermain imajinasi dengan Minari dan penyair perempuanku. Aku mengenal betul keduanya, tak mungkin egois. Mereka pasti rela berbagi demi suami masing-masing sebagaimana mereka memliki bersama sang penyair.
***
Hingga pada suatu hari, penyair kita menghilang. Seluruh media memberitakan bahwa penyair kita pergi jauh. Dia berpesan kepada seorang sahabat yang dikenal sebagai wartawan, jika tidak ingin ditemui oleh siapa pun. Termasuk sejumlah perempuan yang pernah diselamatkan.
Ketiga wanita kupu-kupu terus mencari, di tengah pencarian itu, justru bertemu banyak perempuan yang ikut kehilangan. Tidak saja, para perempuan kota tetapi sejumlah laki-laki --baik yang bekerja atau pun mahasiswa-- ikut mencari keberadaannya.
Bulan bugil bulat telanjang di atas langit kota. Anehnya, langit kemudian meneteskan air mata. Hujan di tengah bulan purnama. “Siapa kau wahai penyairku?” Jamaah suara serupa auman harimau lapar dari berbagai penjuru, dari segala arah. Hujan terus turun.
Silvy memasuki kamarnya, telentang. Dia bayangkan lima kupu-kupu menari sufi di dadanya. Berputar-putar tiada terputus. Dia melihat wajah penyair kita, tersenyum di langit-langit. (*)
BIODATA SINGKAT: Warok Sutejo adalah cerpenis tinggal di Ponorogo, dosen sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Ketua Perwakilan YPLP PGRI Kabupaten Ponorogo 2025-2030, Koordinator Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PGRI Kabupaten Ponorogo.
Editor : Nur Wachid