Cerpen Palu yang Terhormat Karya Rusmin Sopian
GENDIS kaget setengah mati. Bagaimana tidak. Tayangan program berita di sebuah televisi hampir mencopot jantungnya dari katup.
Suara lelaki itu amat di kenal. Bahkan sangat dikenalnya. Demikian pula dengan wajah flamboyan lelaki di televisi itu amat dikenalnya. Sangat dikenalnya.
Sementara suara teman-temannya terus bergemuruh menyaksikan tayangan di televisi itu.
Maklum, yang tampil dalam program interview itu seorang hakim terkenal yang dikenal para penegak hukum sebagai hakim yang jujur dan berintegritas. Disegani kawan dan lawan.
" Duh tampannya lelaki itu. Bangga sekali kalau punya ayah seperti itu," ujar temannya.
" Gagah, awet muda. Tak kalah klas dengan aktor-aktor sinetron," timpal temannya yang lain.
Kekaguman dan decak kagum terus berhamburan dari mulut teman-temannya tentang lelaki yang ada di televisi itu.
" Dermawan
" Terkenal
" Dan alangkah sangat beruntungnya seorang anak mempunyai ayah sepert itu," seru temannya yang lain dengan nada suara kagum.
Gendis masih terdiam. Pandangan matanya berpaling ke arah jalan. Tak sama sekali menatap televisi.
Padahal teman-temannya terus mengoceh tentang lelaki di televisi itu nada suara kagum, bangga bahkan mengimpikan memiliki ayah seperti lelaki setengah baya di televisi itu.
Seorang Bapak setengah baya tampak mengulurkan tangannya.
Gendis merogoh dompetnya. Mengambil lembaran ribuan dan menjulurkannya kepada Bapak itu.
Sebuah kalimat bernada terima kasih dilontarkan Bapak tua itu yang dijawab Gendis dengan sebuah senyuman. Matahari makin meninggi. Cahayanya makin panas.
Gendis tak habis pikir bagaimana ayahnya yang dikenalnya sebagai lelaki yang tak berharga diri bisa dinobatkan sebagai hakim terbaik tahun ini di negara ini.
" Apakah dunia mau kiamat," pikirnya.
Kendati hidup dalam keluarga yang bergelimangan harta dan kuasa, Gendis tetap gadis yang sederhana.
Gadis yang tak pernah memamerkan kekayaan harta keluarganya. Gadis yang masih ke kampus naik angkot bahkan ojek. Gendis tak pernah bercerita tentang keluarganya kepada teman-temannya. Bahkan Gendis, satu-satunya teman mereka yang tak pernah mengajak mereka, teman-temannya kerumahnya,
" Aku kan kost di kota ini, Jauh dari orang tua, Jadi tak bisa mengenalkan kalian dengan keluargaku," jelasnya saat teman-temannya memintanya mengenalkan keluarganya kepada mereka.
Usai makan malam bersama ayah dan ibunya di meja makan, Gendis langsung meninggalkan meja makan keluarga. Tapi ayahnya tiba-tiba memintanya untuk tidak meninggalkan meja makan.
" Aku akan dilantik jadi Hakim Agung," ungkap sang ayah.
Wajah Gendis tak berubah. biasa saja. Tak ada istimewanya. Beda dengan wajah ibunya yang sumringah. Bahkan rona merah seolah memancar dari kerut wajah cantiknya. Sisa kecantikan yang tersisa dari seorang mantan putri Indonesia puluhan tahun silam.
" Kok kamu tak gembira?," tanya sang Ibu heran.
Gendis langsung meninggalkan meja makan tanpa menghiraukan suara ayah dan ibunya. Gendis langsung mengurung diri di kamar.
Sebagai anak tentu saja Gendis bangga dengan kerja keras ayahnya. Ayah yang bijaksana. Berpendidikan tinggi. Terkenal dan dihormati orang. Pergaulannya luas. Apalagi ayahnya berprofesi sebagai hakim yang menjadi tulang punggung bangsa ini dalam menegakkan keadilan buat pencari keadilan.
Gendis teringat dengan kisah dua tahun lalu, saat dirinya baru memulai kuliah di Kota. Seorang sahabatnya terpaksa harus berhenti kuliah karena tak mampu membayar biaya hidupnya selama kuliah.
Menurut cerita temannya iru keluarganya diperas habis-habisan oleh hakim yang menangani perkara ayahnya yang terlibat penyalahgunaan wewenang.
" Ayah saya dijadikan ATM," keluhnya.
" Mereka selalu minta uang kepada ayah saya," lanjutnya.
" Ada-ada saja alasannya. Anaknya sakit. Anaknya minta kirim uang lah," urai temannya dengan nada keluhan yang amat memilukan.
" Bahkan menurut cerita ayah saya, anaknya mau beli handphone saja minta ke orang tua saya. yah akhirnya, orangtua saya masuk penjara karena tak mampu menuruti kehendak mereka," ujar temannya sambil menutup cerita dukanya dengan suara yang amat memilukan.
Gendis hanya menarik nafas mendengar cerita itu. Dirinya seolah merasa bersalah atas kejadian itu. Gendis kesal karena tak bisa membantu temannya.
Malam semakin meninggi. Cahaya rembulan menembus rongga setiap sudut rumah dan Kota. Sinar nakal kunang-kunang yang bertebaran di hutan kecil menambah indah ornamen malam itu.
Gendis masih berada dimeja makan. Penjelasan ayahnya tentang siapa hakim yang memeras ayah temannya kini sudah terjawab sudah.
" Ayah telah memecat hakim yang melakukan pemerasan terhadap ayah temanmu. Dan ayah juga telah memerintahkan uang yang dinikmati hakim itu dikembalikan secara utuh kepada ayah temanmu," jelas sang ayah.
Gendis bahagia. Senyumnya mengembang bak bunga mawar yang sedang mekar dan tumbuh di belakang rumahnya.
Gendis merasa bersalah karena selama ini yang telah berpikiran negatif terhadap profesi ayahnya. Dan mulai detik ini dia akan mengenalkan ayah dan ibunya kepada teman-temannya. Tak ada rasa malu lagi dihatinya terhadap profesi ayahnya.
Ayahnya memang lelaki hebat dan patut dikagumi sebagaimana celotehan teman-temannya saat menyaksikan ayahnya di televisi.
" Ayah, Gendis bangga memiliki seorang ayah yang jujur," desisnya.
Toboali Mei 2025
BIODATA SINGKAT: Rusmin Sopian adalah seorang penulis dan penggiat literasi di Toboali Bangka Selatan dan telah melahirkan beberapa buku kumpulan cerpen.
Diantaranya Mereka Bilang Ayahku Koruptor dan Penjaga Makam yang diterbitkan oleh penerbit Galuh Patria Jogjakarta.
Sekarang Rusmin Sopian tinggal di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik serta kakek dari Nayyara Aghnia Yuna.
Editor : Nur Wachid