CERITA MISTERI, Jawa Pos Radar Lawu – Jalur kereta api memiliki rute yang berbeda tidak seperti jalan aspal yang biasa kita lewati.
Menembus belantara dan menyelinap di antara jalan kota. Meski begitu tak jarang kecelakaan kereta api tetap terjadi.
Ada yang murni karena kecelakaan. Ada yang terjadi karena seseorang berniat bunuh diri.
Apapun penyebabnya, kecelakaan selalu tidak cuma menyebabkan kerugian materi.
Namun juga menyisakan kisah misteri hingga korban bergentayangan.
Beberapa orang yang pernah dihantui korban kecelakaan kereta membagikan kisahnya.
Kisah yang tidak hanya membuat bulu kuduk berdiri tapi sekaligus bukti. Di dunia ini kita manusia tidak sendirian. Mereka ada.
Setan tanpa Kepala
Sekitar tahun 2015 pernah ada tragedi. Seorang laki-laki tiba-tiba tiduran di rel peris saat sebuah kereta hendak melintas.
Ia tewas mengenaskan. Petugas yang mengevakuasi mayatnya menjelaskan bertapa memprihantinkan kondisi korban.
Tubuhnya terbelah jadi 2 bagian. Tubuh atas hancur terpisah dari kepalanya.
TKP bunuh diri berada di perbatasan sebuah dusun dan lahan kosong milik PT. KAI yang dipenuhi rimbun pepohonan.
Baca Juga: Sukses Promosi ke Liga 3, Siapa Sosok di Balik Kebangkitan Sang Maestro FC?
Satu tahun, dua tahun, tiga tahun berjalan, masyarakat pelan-pelan mulai melupakan insiden berdarah yang pernah terjadi.
Sampai di akhir tahun 2020, warga mendapatkan teror. Mereka seolah diingatkan kembali kejadian mengerikan siang hari itu.
“Deket rel situ biasa dijadikan tempat buang sampah sama warga, Mas. Biar nggak bau. Trus bakarnya juga gampang. Nah deket tempat bakar itu dulu lokasi orang bunuh dirinya.”
Murti (43) seorang ibu-ibu yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian.
Ia termasuk warga lainnya langganan buang sampah di lokasi tragedi bunuh diri yang ditemukan mati mengenaskan.
“Ya gimana ya, Mas. Warga juga nggak kenal siapa korban? Katanya sih bukan orang Magetan. Tapi setannya gentayangan di sini.
Murti baru sempat buang sampah malam hari. Seharian ia disibukkan rewang hajatan di rumah tetangganya.
Tempat buang sampah memang tak jauh dari rumahnya. Tapi ia harus berjalan melewati pekarangan dan kebun yang rimbun nan gelap.
Angin malam membawa hawa mencekam. Murti seperti melihat sekelebat sosok di antara bayang-bayang ilalang tinggi di sekitarnya. Firasat Murti makin tidak enak saat... (*)
Editor : Nur Wachid