CERITA MISTERI, Jawa Pos Radar Lawu – Sebuah desa di Kabupaten Magetan sudah lama terkenal wingit jauh sebelum proyek strategis nasional (PSN) dibangun.
Bukan cuma penampakan biasa, warga asli desa ini pernah dihantui wedhus kendit.
Wedus kendit sering dikaitkan dengan kisah mistis. Dia seperti penjaga, peringatan akan datangnya bencana.
Dalam beberapa upacara ritual sesembahan atau pra pembangunan proyek, wedhus kendit sering dijadikan pengganti tumbal.
Piranti pembuka antara dunia manusia dan dunia tak kasat mata.
Di tahun 2000 an desa pernah ditimpa musibah besar. Bu Minem (49) yang saat itu masih muda menceritakan kisahnya.
“Malam-malam saya nggak bisa tidur. Bapak saya jaga di pos ronda. Saya masih SMA kalau nggak salah. Iseng banget namanya anak muda, jam 2 malam saya jalan kaki. Niatnya mau nyusul bapak.”
Hawa tidak enak menyambut Minem saat membuka pintu rumahnya. Suara berbisik-bisik memanggil namanya terdengar di antara embusan angin. Suara laki-laki tua yang berat.
Bu Minem dari kecil diajari bapaknya untuk tidak takut.
“Daripada saya sendirian di rumah karena ibuk udah nggak ada, saya nekat. Jadi ceritanya blok rumah saya sama jalan ke pos kamling itu dipisahin sungai, Mas. Mau nggak mau saya harus nyebrang sungai kalau mau nyusul bapak.”
Saat berjalan di tepi sungai, Bu Minem melihat putih-putih.
“Begitu saya dekati ternyata kambing. Bulunya hitam, cuma ada corak putih melingkar di perut kayak sabuk. Dia ‘mengembik´ beberapa kali ke saya. Ya karena saya nggak paham saya lewatin gitu aja.”
Sesampainya di pos ronda, Bu Minem menceritakan kejadian tersebut pada bapaknya.
“Almarhum bapak saya syok pas saya cerita. ‘Iku wedhus kendit, nduk. (Itu wedhus kendit, Nduk). Kata bapak, wedhus kendit cuma muncul kalau ada bahaya yang akan terjadi. Loh saya makin bingung dong. Orang cuma kambing.”
Keesokan harinya, Bu Minem melihat bapaknya pulang dari kantor desa.
“Bapak diketawain. Kata mereka, zaman sekarang kok masih percaya begituan. Saya juga nggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Baru ngerti setelah seminggu kemudian.”
Desa mereka hanya diguyur hujan sehari. Tapi air bah kiriman dari wilayah pegunungan Magetan turun tumpah ruah sampai sungai tak sanggup menampung.
Desa mereka tenggelam. Air bah setinggi dada orang dewasa merendam.
“Bapak udah tahu akan terjadi sesuatu, Mas. Makanya saya sama bapak pas ada banjir udah ngungsi duluan. Orang-orang yang mengatai bapak kena batunya.”
Kesurupan Massal
Di desa tetangga pernah ada kejadian yang menggegerkan. Anak sekolah yang berkemah di lapangan desa kesurupan massal.
Sebanyak 40 orang berteriak histeris, menangis dan meronta.
Hanya ada satu orang korban kesurupan yang cuma diam duduk tenang sambil tersenyum lebar. Sesekali ‘mengembik’ menirukan suara kambing.... (*)
Editor : Nur Wachid