CERITA MISTERI, Jawa Pos Radar Lawu – Pak Bekti (42) disinyalir warga memiliki pesugihan kandang bubrah. Beberapa alasan mencolok yang dilihat warga di antaranya;
Pak Bekti sudah menikah 3 kali. Dan semua rumah tangganya berakhir bubrah (hancur). Hanya istri pertamanya yang bertahan lebih dari satu tahun.
Umur pernikahan kedua dan ketiganya tidak sampai setengah tahun. Ke mana sekarang perginya 2 perempuan itu juga tidak ada yang tahu.
Alasan lain adalah karena Pak Bekti sering memperbaiki rumahnya tiap beberapa bulan sekali.
Teras depan yang baik-baik saja dirusak, lalu diperbaiki lagi dengan alasan bosan warna keramiknya.
Begitu juga bagian rumah lainnya. Hanya ada satu bagian yang tidak pernah diapa-apakan.
Pohon mangga besar di depan rumahnya. Beberapa kejadian horor terjadi, salah satunya Fajar (10) dan Zaki (9).
Singkat cerita, Fajar habis dibelikan sepeda baru kedua orang tuanya. Ia mengajak Zaki bersepeda di halaman rumah Pak Bekti.
Mereka masih belum mengerti bahaya yang mengancam mereka. Dua anak kecil keasyikan main sepeda sampai lupa waktu.
Sore menjelang matahari tenggelam, orang tuanya yang mencari mereka ke mana-mana akhirnya menemukan Zaki dan Fajar di bawah pohon mangga Pak Bekti dalam keadaan linglung.
“Jelas nangis, Mas. Fajar nggak kenal saya. Nggak kenal bapaknya. Dia cuma nangis matanya terbelalak sambil menunjuk-nunjuk ke atas pohon mangga. Zaki juga begitu,” ucap Santi (36) Ibu Fajar.
Fajar dan Zaki mengerang melawan saat hendak dibawa pulang. Kejadian yang menggegerkan warga sekitar.
Sementara si Pak Bekti sedang tidak ada di rumah. Hanya ada tukang-tukang yang bekerja membangun kamar mandi di sebelah rumah.
Yang lebih aneh lagi, seorang tukang mengaku tidak melihat ada anak kecil bermain.
“Saya juga bingung. Kok tahu-tahu ada rame-rame di depan. Loh kok ada anak kecil jam segini?
Sejak kapan mereka di sana? Aneh. Aneh banget,” kata Triman (40) salah satu tukang bangunan.
Gara-gara main di dekat pohon mangga Pak Bekti, Fajar dan Zaki demam 3 hari. Kata orang pintar, mereka ketempelan penghuni pohon mangga Pak Bekti.
Lantaran kejadian mistis semakin banyak, warga mendesak Pak Bekti menebang pohon mangga di depan rumahnya.
Tapi Pak Bekti bersikeras menolak. Ia berdalih pohon mangga depan rumahnya adalah peninggalan istri keduanya.
Setelah beberapa tahun lewat, pembangunan rumah Pak Bekti berhenti.
Kabarnya, Pak Bekti sudah menikah lagi dengan seorang perempuan di luar kota.
Rumah yang tak terawat pelan-pelan rusak dimakan waktu. Terakhir, terdengar kabar Pak Bekti jadi gelandangan gila.
Warga semakin yakin, Pak Bekti jadi gila karena ia melanggar sumpah perjanjian gaib pesugihan kandang bubrah. Penganut pesugihan ini tidak boleh memiliki keluarga bahagia.
Hanya ada satu yang tersisa. Pohon mangga besar yang dari awal tidak pernah diapa-apakan. (*)
Editor : Nur Wachid