Jawa Pos Radar Lawu – Di bawah pohon besar jalan menuju petilasan angker Gunung Lawu, Danu (20) baru sadar kalau yang digendongnya adalah kuntilanak.
Mahasiswi kesurupan, dalam cerita misteri sebelumnya, diam tiba-tiba menangis histeris.
“Badannya Mila (20), tapi isinya bukan Mila. Andri sama saja menggendong kuntilanak,” Ari (19) memberi keterangan.
Mila adalah sahabat mereka yang kesurupan di tengah hutan Gunung Lawu gara-gara mendaki lewat jalur hutan dan mandi di petilasan angker.
Mila juga sembarangan mengambil air dari kolah petilasan tanpa izin. Ia mendapatkan karma langsung. Dia belum sadarkan diri sejak kesurupan pertama.
Tiga orang laki-laki rekannya terpaksa bergantian menggendongnya. Baru orang pertama, Mila menangis dan tertawa tiba-tiba.
“Pantes dari tadi kerasa berat.” Andri menurunkan gendongan. Semua laki-laki disibukkan memeganginya lagi.
“AKU WONG SING REKSO PANGGON IKI?HIHIHIHI! SOPO KOE WANI-WANINE LAWAN AKU! (AKU ORANG YANG MENGUASAI TEMPAT INI! HIHIHI! SIAPA KALIAN BERANI-BERANINYA LAWAN AKU!)”
Sosok kuntilanak yang merasuki Mila bicara. “Kita terlalu banyak melanggar pantangan Gunung Lawu,” ujar Ari.
Ia mengambil air dalam botol Mila, meraupi mukanya dengan air yang diambil dari petilasan angker.
Gangguan demi gangguan yang dialami mereka berempat hilang satu tumbuh seribu.
Gunung Lawu dikenal warga sebagai tempat wingit yang dijaga makhluk tak kasat mata. Menurut kakek Ari, mereka tidak boleh berbuat neko-neko kalau mau pulang selamat.
Tapi mereka terlanjur masuk dan melakukan hal yang tidak patut. Mereka pantas dihukum.
Simak kelanjutan cerita misteri part selanjutnya di Radar Lawu. (bersambung)
Editor : Nur Wachid