Cerita Misteri Pendakian Gunung Lawu
Langit benar-benar kehilangan warnanya saat langkah mereka terasasemakin berat. Kabut turun menyerupa tirai rapat.
Jarak pandang mereka hanya sejauh beberapa meter. “Gue nggak yakin kita di jalan yang benar,” desis Ari pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Keraguan dan firasat buruknya semakin jadi nyata. Mila menyalakan headlamp-nya, cahaya putihnya menembus kabut namun tak banyak membantu.
Semua yang ada di sekitar mereka tampak asing. Tidak ada jalur, tidak ada papan penunjuk.
Hanya perdu, pohon-pohon rapat, dan berlatar suara hewan. Andri membuka peta offline di ponsel, tapi GPS-nya hanya menampilkan titik abu-abu. “Gila... sinyal ilang semua.”
“Kenapa makin lama semaknya makin rapet ya?” Danu mengangkat ranting yang tersangkut di lehernya. Sedetik, mulai membabat lagi.
“Kayaknya kita mundur aja deh,” gumam Andri. “Udah makin malem. Bre.”
Mila menoleh cepat. “Eh yang bener aja lo, Ndri. Kita udah sampai sini loh.” Semua diam.
Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari semak di samping mereka. Serempak mereka menoleh.
Lampu diarahkan tapi tak ada apa-apa. Hanya semak yang bergoyang pelan. “Cuma hewan kali,” kata Danu, berusaha tetap logis.
Baca Juga: Cerita Misteri Vila Angker Gunung Lawu Part 29, Nyawa Dibalas Nyawa
Bagi Ari yang barusan bukan hewan. Dia bisa rasakan. Perasaan dingin mengiringi sesuatu datang.
“Udah, kita istirahat aja dulu bentar. Kalau nekat lanjut, kita bisa nyasar beneran,” ucap Mila sambil melempar tasnya ke tanah.
Mereka duduk melingkar. Danu mengeluarkan senter tambahan, meletakkannya di tengah lingkaran seperti api unggun.
Burung jalak itu kembali. Kali ini lebih dekat. Tepat di atas mereka. Diam. Menatap.
Berkicau keras.
Untuk pertama kalinya, burung itu mengeluarkan suara yang menyerupai, Tawa. (bersambung)
Editor : Nur Wachid