Akhir dari Cerita Misteri Vila Angker Gunung Lawu
Pagi itu, kabut masih menggantung di lereng. Beberapa pendaki yang memulai dari subuh menemukannya lebih dulu.
Mereka melihat banyak burung jalak berkerumun dan berkicau di atas dahan, mencoba memberi tahu sesuatu.
Saat mendekat, mereka menemukan gadis muda tak sadarkan diri tak jauh dari jalur pendakian. Tubuhnya penuh luka, wajahnya pucat, pakaiannya berserakan seperti dicabik.
Kabar baiknya, gadis itu masih hidup Wati terbangun dua hari setelahnya, di sebuah rumah sederhana milik warga.
Ibunya menangis memeluknya, tak henti-henti memeluk dan menciumi Wati. “Bejamu, Nduk. Bejamu, (Kamu beruntung, Nak. Beruntung),” ucap ibu Wati.
Semua firasat buruknya benar-benar terjadi. Doa ibu menembus langit. Langit menepati janjinya, membawa pulang Wati.
Tak banyak yang Wati katakan. Ia hanya diam. Menatap jendela. Menatap langit yang menyuguhkan puncak Gunung Lawu.
Tak lama dari ditemukannya Wati, polisi menemukan seorang gadis seumuran Wati tak bernyata di dalam Villa Pak Cokro.
Saat diinterogasi, Wati berusaha menceritakan semua apa adanya. Tapi tak ada satu orang pun yang percaya.
Cerita Wati baru mulai masuk akal setelah seminggu kemudian jasad Pak Cokro, Istrinya, dan Pak Wiryo ditemukan. Di dasar jurang.
Wati bernapas lega. Ia pulang, tinggal berdua bersama ibunya. Tiga bulan lebih berselang, laki-laki asing berdiri di depan jalur pendakian.
Tak ada yang menyapa, tak seorang pun mengenalinya. Saat kaca mata hitamnya dibuka, bola mata bengisnya mengingatkan kita pada sesorang.
“Waktunya balas dendam,” bisik Alex pada dirinya sendiri. “Wati. Nyawa harus dibayar dengan nyawa.” (tamat)
Editor : Nur Wachid