Cerita Misteri Tengah Malam Menyeramkan di Vila Angket Gunung Lawu
Di tengah keheranan, suara Bu Sinta terdengar lagi.
"Ayo diminum lagi tehnya, Ti." Suara Bu Sinta terdengar pelan, halus nan sopan.
Tapi bagi Wati, rasanya seperti sengaja. Ia didesak dan tak bisa ditolak.
Wati menelan ludah. Rasa teh sebelumnya masih terngiang.
Anyir. Asin. Seperti darah basi. Sayangnya di awal ia sudah terlanjur memuji.
Teh terbaik yang pernah ia minum. Dengan tangan gemetar, Wati menyeruputnya lagi.
Berusaha menahan napas agar aromanya tidak tercium.
Baru satu seruputan kecil, perutnya seperti dikocok kasar, diaduk-aduk dari dalam.
Tak peduli sopan santun, daripada muntah di meja makan, Wati bangkit dan berlari secepat-cepatnya ke kamar mandi.
Tak ada yang bertanya kenapa. Di ruang makan, Bu Sinta dan Pak Cokro hanya saling menatap.
Keduanya tersenyum puas.
"Yang penting dia sudah minum. Sedikit juga tak masalah," bisik Pak Cokro, nyaris tak terdengar.
Di kamar mandi, Wati menahan napas. Kepalanya pening.
Mulutnya ingin memuntahkan kembali apa yang sudah ia minum beserta semua isi perutnya.
Tapi tak ada yang keluar. Mulutnya menganga, keringat dingin mengucur bersama debur detak jantung yang memburu.
Ada yang mengganjal. Sesuatu mencengkram tenggorokannya dari dalam.
Wati lemas bersandar di tembok dingin. Tangannya mencengkeram wastafel. Air mengalir, tapi dunia seperti menjauh.
Sekilas ia mendengar suara di antara gemericik air wastafel.
Lampu kamar mandi tiba-tiba berkedip. Samar. Lembut. Merintih.
Dekat, seperti berada persih di depan telinganya. Suara perempuan. "La—ri, Wati... Lari..." (bersambung)
Editor : Nur Wachid