Cerita Misteri Ritual di Vila Angker Gunung Lawu
PIRING-piring bekas sarapan nyaris selesai Wati bersihkan. Sayup suara percakapan ringan keluarga Cokro dari ruang makan terdengar.
Anehnya, mereka tidak menghalangi Wati.
Mereka membiarkan Wati membereskan piring-piring kotor.
“Atau jangan-jangan hanya saat makan malam,” tanya Wati dalam hati.
Tak berani menanyakannya pada Bu Sinta, apalagi Pak Cokro.
Pak Cokro. Semenjak liburan di Villa namanya mengganggu.
Mirip batu kerikil di dalam sepatu. Kecil, tapi mengganggu sepanjang waktu.
Apalagi senyumnya tadi sebelum sarapan yang terus berputar-putar di kepala Wati
Sama. Terlalu sama. Saat meletakkan piring bersih, Wati menangkap sesuatu lewat ekor matanya.
Seorang pria berdiri membelakangi rumah, membungkuk di bawah pohon pinus.
Pakaiannya, rompi abu-abu dan topi rajut milik Pak Cokro.
Seseorang yang merenggut perhatian Wati sepenuhnya.
Wati menyipitkan mata, menajamkan pandangannya. “Pak Cokro?” bisiknya. “Nga-ngapain?”
Tangan Pak Cokro menggenggam sesuatu. Daun? Ranting? Entah.
Tangannya digerakkan naik turun, sesekali melingkar, mulutnya komat-kamit.
Satu tangan lagi memegang cobek tanah liat. Ada semacam kepulan asap putih pekat muncul dari sana.
Wati termangu lama. Tak berkedip.
Pak Cokro yang biasanya sibuk dengan dokumen, menelepon sana sini, mengurus usahanya yang menggurita, kini terlihat sangat kontras.
Ia seperti tengah menyembah sesuatu yang tak kasat mata.
‘Klekk...’ “Wati.” Panggil seseorang yang langsung memecahkan lamunan Wati.
Pak Cokro melongak ke dapur dari pintu dapur.
“Ayo ngeteh dulu. Udah nanti lagi aja nyuci piringnya. Kamu juga harus ikut merasakan liburan dong,” ajaknya dengan nada hangat.
Wati berdiri membeku di hadapan jendela. Mengangguk ragu.
Saat menoleh ke arah hutan, Pak Cokro yang tadinya di hutan sudah lenyap.
Angin yang tadi semilir mendadak berhenti. Paru-parunya seakan dikuras habis. Sesak.
Darah berdesir membangunkan bulu kuduk.
“Barusan dia di sana.” Wati menelan ludah. “Barusan banget.”
Wati membatu di ambang kebingungan.
“Aku tunggu ya,” lanjut Pak Cokro lagi, lantas menyeringai. “Tehnya keburu dingin.”
Senyum itu lagi. Senyum yang terus menghantui Wati. (bersambung)
Editor : Nur Wachid