Youtuber Berburu Konten Cerita Misteri di Gunung Lawu
Arman didengarkan. Mereka melanjutkan perjalanan dengan tenang sampai di pos 3.
Anehnya, Tak ada lagi langkah ke empat.
Malam telah sempurna turun. Langit hitam bak menatap sumur tanpa dasar.
Hutan Lawu makin rapat berlatar kabut pekat.
Raka memimpin jalan di depan mengenakan senter di kepalanya.
Arman menyusul di belakang, memanggul tas carier.
Indra tetap paling belakang. Paling diam. Paling awas.
“Pos tiga,” gumam Raka, menunjuk papan kecil bertuliskan angka 3. Mereka berhenti sejenak di sebuah bangku kayu reot.
“Gila! Makin malam makin....?” Arman tak meneruskan kalimatnya. Takut gangguan datang lagi,
“Cihh.... Ini yang katanya Gunung Lawu serem? Mana? Nggak ada apa-apanya,” dengus Raka kesal.
Mau tidak mau ia terpaksa mengarang.
“Guys,” bisiknya ke lensa. “Kita sekarang ada di pos tiga. Dan jujur aja, makin ke atas, auranya makin serem.”
Indra langsung menoleh, tajam.
“Lu ngerasa juga kan, Ndra?” Raka menyikut. “Serius, dari tadi tuh, kayak ada yang jalan di belakang.”
Indra asal mengangguk, menggesek-gesekkan telapak tangan mengusir dingin.
Indra tahu, Raka tak benar-benar ketakutan. Ia tahu, semua ini hanya sandiwara untuk konten.
Indra memejam, menajamkan semua pancra indranya.
Suara burung jalak terdengar, suara benda jatuh di kejauhan.
Samar terdengar sayup-sayup suara bergumam, seperti percakapan dari kejauhan. Ramai.
Seperti pasar.
“Lu denger itu?” tanya Indra pelan.
Arman refleks memeluk lengan Indra. “Apaan! Ndra. Jangan bikin parno deh.”
Indra menatap kosong ke arah kabut. Dadanya sesak.
Kepalanya seperti penuh gema. Dia yakin, mereka sangat dekat.
“Guys, Indra baru saja merasakan sesuatu.” Raka bicara keras, mengarahkan kamera merekam.
“Ayo dong! Tujukkan wujud kalian! Jangan cuma suara doang!”
Mendadak hawanya berubah. Dinginnya berbeda. Mencekam.
“Ada yang datang,” ucap Indra yang sepenuhnya awas.
Dari arah atas, samar-samar satu sosok hitam menampakkan diri.
Kabut menupi langkahnya. Sosok itu seperti melayang.
Dan kini, sosok itu menampakkan diri. (bersambung)
Editor : Nur Wachid