Jawa Pos Radar Lawu - Keanehan demi keanehan semakin muncul di jalur pendakian keramat Gunung Lawu.
Napas Alya tertahan, tersengal-sengal. Suara menggaruk dari luar tenda semakin jelas, berulang, mencakar-cakar kain dengan ritme tak beraturan.
Ini bukan mimpi, juga bukan halusinasi. Alya buru-buru membangunkan Sarah yang tidur di sebelahnya.
“Sar... bangun, dengar nggak?”
“Hmmm...” Sarah bergumam, malas membuka mata.
“Apaan sih, Al!” tanyanya kesal.
“Ih, dengerin dulu!” Alya mencengkram lengan sahabatnya.
Meski berat hati, Sarah akhirnya bangun. Hanya butuh beberapa detik menajamkan panca indranya, Sarah sadar ada yang salah.
“Tuh-tuh... liat-liat!” Alya menunjuk kain tenda mereka yang melengkung ke dalam mencetak cakaran ditekan dari luar.
“I-itu, Sar. Lu liat nggak sih?”
“Iya gue liat, bawel.” Sarah melotot.
“Ihhhh... i-itu apa, Sar.” Alya merapatkan tubuhnya, memeluk Sarah kencang. “Gue takut. Sar. Di luar kan nggak ada orang.”
“Hishhh... !!” Sarah mendorong tubuh Alya. Duduk merogoh ransel, menggapai senternya yang bercampur barang lain di dalamnya.
“Eh-eh-eh... lu mau ngapain?” tanya Alya.
Dengan santainya Sarah menyalakan senter. “Katanya lu mau tahu itu apa. Gimana mau tahu kalau nggak kita cari tahu?”
“Ih... lu mau keluar?”
“Iyalah!” Sarah mengambil posisi merangkak. “Sini, lu juga harus ikut biar tahu sendiri.”
“Nggak mau...” Alya bergerak mundur menjauh. “Gue takut, Sar.”
“Ada gue!” Sarah mencengkram pergelangan tangan Alya, memaksanya. “Udah lu di belakang gue aja.”
‘GLEKK!!’ Alya menelan ludah.
Orang gila mana yang ditakut-takuti malah makin tertantang. Cuma Sarah.
Suasana seram masih sangat kental. Bulu kuduk Alya berdiri.
Kalau bukan karena pergelangan tangannya diseret Sarah, ia pasti ogah merangkak keluar tenda tengah malam begini.
Sarah membuka resleting tenda dengan hati-hati.
“Sar gue takut,” ujar Alya berbisik. Mengintip keluar dari balik ketiak Sarah.
“Ciiittt-citttt-citttt.... !!!”
Seekor tupai berlari kecil di tanah, gesit melompat ke dahan terdekat setelah berhasil mencuri potongan biskuit Sarah.
Sarah mendesah, menutup wajahnya dengan tangan.
“Ya ampun, Alya. See?? tupai doang.”
Alya termangu.
Cuma seekor tupai?
Tidak-tidak.
Kalau memang hanya seekor tupai, kenapa rasa takutnya tidak hilang setelah tupai itu pergi? (bersambung)
Editor : Nur Wachid