Perjalanan jalur pendakian menuju pos 2 Gunung Lawu, napas Alya tersengal. Ia merasakan ada sesuatu yang mengalir dari kakinya, sadar datang bulan. Suara Jalak Lawu kian nyaring, kian merinding.
Jawa Pos Radar Lawu - Matahari yang memayungi gunung lawu semakin tinggi ketika mereka mencapai Pos 1. Napas Alya mulai memburu.
Ia harus tetap menjaga ritme langkahnya. Meski pemula, ia tak mau terlihat lemah.
"Ada yang lapar?" tanya Reno, menoleh ke belakang sambil mengusap peluh di dahinya. “Ciwi-ciwi? Masih kuat?”
"Simpan dulu, bro. Makan di Pos 2 aja," sahut Dika.
Sarah mengangkat jempol. “Setuju. Makan di pos 2 aja. Nggak enak kalau jalan perut penuh.”
Alya hanya mengangguk tanda setuju. Perutnya memang sudah mulai tidak nyaman sejak tadi.
Bukan lapar, tapi ada nyeri samar. Ia pun sebenarnya tahu pasti penyebabnya.
Namun ia tetap melangkah. Berharap rasa tak enak di perutnya cuma efek angin gunung dan tubuhnya yang tidak terbiasa.
Suara dedaunan bergesekan dengan angin jadi latar yang menghiasa perjalanan mereka menuju pos 2.
Beberapa kali kicauan burung Jalak Lawu terdengar di kejauhan. Pesona Gunung Lawu yang dirindukan pendaki.
Sayangnya entah kenapa bagi Alya, kicauannya terdengar lebih tajam. Mirip sirine kebakaran beroktaf tinggi atau raungan ambulance malam hari.
Setengah perjalanan, kaki Alya melemas. Keringatnya dingin. Ia berhenti sejenak, pura-pura merapikan tali sepatu.
"Lu gapapa, Al?" Sarah menoleh.
"Nggak apa-apa." Alya tersenyum kecil, menyembunyikan bibirnya yang sebenarnya meringis menahan nyeri.
Mereka tiba di Pos 2 saat matahari condong ke barat. Tempat itu sepi, hanya ada satu gazebo tua kosong.
Alya merasakan sesuatu mengalir di antara kakinya. Ia menahan napas.
Sial.
Ia datang bulan.
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Tidak. Ia tidak akan bilang. Kalau teman-temannya tahu, mereka pasti menyuruhnya turun.
Malam semakin dekat. Udara semakin dingin. Di kejauhan, terdengar lagi suara burung Jalak Lawu. Kali ini, kicauannya terdengar berbeda.
Lebih nyaring.
Lebih dekat.
Lebih… merinding. (bersambung)
Editor : Nur Wachid