Sarman dan Jarwo benar-benar terlena dengan Jalak Lawu. Keinginan dan nafsu berburu mereka di Gunung Lawu mengabaikan tanda alam yang selama dipercaya tidak hanya sebagai cerita misteri oleh warga.
Jawa Pos Radar Lawu - Sarman menampar punggung Jarwo, membuatnya tersentak dari lamunannya. “Jangan ngelamun di Gunung Lawu, Wo. Bahaya.”
Jarwo menggelem, menelan senyumnya. “Aku cuma bingung, Man. Perasaan kita semalem lari sampai capek. Kok bisa ujung-ujungnya sampai sini lagi.”
"Sudah lupain.” Suara Sarman bergetar. “Kita haru coba bergerak lagi. Pokoknya hari ini kita harus keluar, paham?"
Jarwo mengangguk. Tak ada lagi niat mendebat.
Semua kejadian yang tak masuk akal membuatnya tak punya lagi keberanian untuk menantang alam. Berburu jadi tidak penring.
Jarwo cuma ingin keluar dengan selamat.
Dan kesempatan mereka terakhir cuma hari ini.
Air mereka menipis. Sekujur badan babak belur, jika tak segera keluar dari hutan Gunung Lawu hari ini, mereka pasti tak akan selamat.
Langkah mereka berat, tubuh lelah, kaki masih terasa nyeri akibat luka semalam.
Bermodal tekad mereka terus berjalan, menelusuri jalan setapak yang samar.
Di tengah perjalanan, sesuatu hinggap di dahan rendah di depan mereka.
Burung Jalak Lawu.
Bulu hitamnya tampak berkilau di bawah sinar matahari pagi. Matanya tajam, seolah mengawasi, menilai.
Dulu, mungkin mereka akan mengacungkan senapan, menantang.
Sekarang? Tidak-tidak. Mereka tak mau cari mati.
Burung Jalak dihadapannya berkicau. Suaranya melengking menggema di antara pepohonan.
Baca Juga: Cerita Misteri Gunung Lawu: Jalak Lawu, Mata yang Mengawasi Part 13
Tidak menyeramkan, tapi juga tidak menyenangkan.
Perlahan, burung itu mengepakkan sayap, terbang rendah ke arah semak-semak di sisi kiri mereka.
“Kita ikuti dia.” Sesuatu dalam diri Sarman mendorongnya untuk mengikuti.
Jarwo tak punya pilihan lain.
Mereka menyibak dedaunan.
Di depan mereka, tersembunyi di balik akar-akar pohon yang menjulur, ada genangan kecil—air jernih, bening, berkilauan diterpa matahari.
Jarwo tercekat. “Air?”
Tanpa pikir panjang, tangan gemetaran karena lapar meraupnya.
Meneguknya perlahan, merasakan kesegarannya mengalir di tenggorokan yang kering.
Air itu terasa seperti hidup.
Mereka saling tatap, lalu melirik ke atas.
Burung Jalak Lawu masih bertengger di sana. Memerhatikan mereka.
Lalu, tanpa suara, ia terbang menjauh.
Tak bisa diikuti. Lagi. (bersambung)
Editor : Nur Wachid