Gunung Lawu tidak akan pernah kehilangan penjaganya, mata yang selalu mengintai dari kegelapan. Kepakan sayap jalak lawu digerakkan alam.
Jawa Pos Radar Lawu - Langit Gunung Lawu sudah gelap. Angin dingin merayapi tubuh Sarman dan Jarwo.
Mereka tidur beralaskan daun kering. Tak berani menyalakan perapian sebab takut mengundang hewan liar yang suka cahaya.
“Kalau salah satu dari kita nggak selamat gimana, Man?”
“HUSSS! JAGA MULUTMU, WO!” Sarman menyalak galak.
Malam kian pekat.
Kalau pun masih ada tenaga, jalan yang bisa mereka lewati sudah tak terlihat.
Di belakang mereka, berdiri pohon beringin tua membayangi. Batangnya besar, akarnya menjalar ke bawah seperti ular kelaparan yang siap memangsa mereka.
Mereka tak punya pilihan. Harus bertahan di sini sampai pagi.
Jarwo duduk dengan gelisah. Tangannya meraba botol air yang tinggal separuh. "Air kita tinggal sedikit, Man."
"Stttt... diam!" Sarman menajamkan telinga.
Ada sesuatu di balik gelapnya rimbun pepohonan. Matanya tak menangkap apa-apa, tapi suaranya mencokol di antara hening.
Burung jalak tiba-tiba berkicau. Suaranya panjang, menyayat, seperti seseorang yang tertawa.
Jarwo merinding. "I-itu, itu kayaknya bukan suara burung biasa."
Sarman menggenggam lututnya erat. Ia ingin menyangkal, tapi firasatnya buruknya berkata lain.
Sesekali angin bertiup makin kencang. Dedaunan berjatuhan menghujani mereka seperti tangan-tangan asing.
Lalu, terdengar langkah. Pelan. Seret.
Sarman menoleh ke kiri. Kosong.
Jarwo menoleh ke kanan. Kosong.
Wajah pucat ketakutan mereka bertatapan.
Langkah itu terus terdengar.
Bukan seperti langkah kaki manusia. Bergerak cepat seperti tanpa halangan.
“Glek...” Jarwo menelan ludah. Tenggorokannya tercekat padahal baru saja minum.
Sikutnya menyenggol-nyenggol Sarman.
Di balik jaket yang ia balik ke depan, Sarman juga sudah tak bisa berkutik. Pasrah menahan sekujur tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Suara derap langkah makin jelas.
Dekat.
Sangat dekat. (bersambung)
Editor : Nur Wachid