Jalak Lawu bukan sekadar cerita misteri di Gunung Lawu.
Pohon Beringin. Sarman dan Jarwo terjebak di Gunung lawu. Kini rasanya bukan hanya burung jalak lawu yang menerornya melainkan seisi hutan.
Jawa Pos Radar Lawu - “Maaf,” ujar Jarwo lemah.
Maaf? Tangan Sarman sampai berhenti mengupas kala mendengar kata yang rasanya hampir mustahil keluar dari mulut Jarwo.
“Harusnya aku bawa ransel perbekalan tadi.”
“Husss.... Kamu ini ngomong apa sih, Wo!” Kepala Sarman menggeleng.
“Seperti yang kamu bilang. Nggak ada yang tahu ujungnya bakal kayak gini kan,” lanjutnya sambil menyerahkan mentimun kupasan pertamanya ke Jarwo.
“Eh tapi bentar.” Mendadak Jarwo ingat sesuatu, sampai tak jadi melahap timunnya. “Aku tadi kan dapat burung.”
Buru-buru Jarwo membuka tas keranjang hasil buruan. 2 burung kicau, 1 burung jalak lawu, lumayan untuk bertahan hidup di Gunung Lawu.
“Mampus! Celaka, Man!”
Mata Sarman membeliak.
Keranjang buruan dibuka Jarwo lebar-lebar.
Isinya kosong.
“Kok bisa? Hah! Aku yakin aku masukin mereka ke sini, Man!” seru Jarwo panik.
Sarman hanya bisa terpaku kosong. Dari awal ia sadar ancaman yang mereka hadapi bukan hanya perbekalan.
Ancaman lebih serius datang dari sesuatu yang tak kasat mata.
Sarman kini sadar mereka telah kelewat jauh.
“Yowis ikhlasne wae, WO. (Yaudah ikhlasin aja, Wo)” Sarman pasrah.
Satu buangan napas cepat menyusul. Sarman lanjut mengupas mentimun.
“Kamu sadar nggak? Kita menyusur sungai nggak ada 1 jam. Sementara kita puter balik 2 jam lebih nggak ketemu jalan apa-apa,” terang Sarman.
“Maksudmu?” Jarwo makin bingung. Sudah kehilangan burungnya, masih ditambah masalah lain.
Sarman menggeleng. Jangan sampai apa yang dipikirkannya terucap. Jangan sampai.
Ucapan adalah doa. Dan di tempat keramat seperti ini Sarman tidak mau pikiran buruknya terjadi.
“Kita nge-camp di sini dulu ya.”
“Gundulmu!” Jarwo ganti melotot. “Di sini? Di bawah pohon beringin besar gini? Ogah ah.”
Sarman menoleh, mengintip atap pohon yang menjulurkan akar-akar panjang mengerikan.
Sorop sebentar lagi dan tapi aroma wingit semakin pekat.
“Nggak ada pilihan lain, Wo.” Kalau ditanya, Sarman juga takut. “Nggak ada.” (bersambung)
Editor : Nur Wachid