Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Cerpen Lelaki Pencari Surga

Nur Wachid • Sabtu, 29 Maret 2025 | 02:17 WIB

Ilustrasi Cerpen Lelaki Pencari Surga.
Ilustrasi Cerpen Lelaki Pencari Surga.

Tak ada lagi kegagahan dalam jiwanya, tak ada lagi. Hanya ketakutan yang melanda sekujur tubuh gagahnya. Dirinya dilanda ketakutan yang luar biasa. 

Karya Rusmin Sopian

SUARA azan subuh terdengar sangat merdu, merelegiuskan jaga raya, menerobos masuk ke dalam telinga orang-orang yang masih terlelap dalam mimpi.

Suara azan subuh yang merdu lewat pengeras suara Masjid mengetuk gendang telinga Matgagah dengan keras.

Lelaki tua itu terbangun dan langsung menyegerahkan diri mendatangi masjid Kampung dengan langkah kaki yang tergopoh-gopoh, seolah takut tertinggal.

Melihat kehadiran Matgagah di masjid, membuat para jemaah Masjid terperangah. Namun sejuta kebahagian terselip dalam jiwa mereka.

“Alhamdulillah. Subuh yang indah ini, kita kedatangan jemaah istimewa. Sebuah hidayah dari Allah buat masjid kita,” sapa Pak Imam masjid saat melihat Matgagah tergopoh-gopoh masuk masjid.

Pertemuan secara tak terduga dengan seorang lelaki setengah baya, seumuran dengannya di warung kopi di ujung Kampung membuat Matgagah berubah seribu derajat.

Pertemuan tiba-tiba itu telah mengecutkan jiwa raganya. Bagaimana tidak takut, ketika lelaki itu menyebutnya sebagai orang yang akan masuk neraka.

“Bapak akan masuk neraka,” sebut lelaki setengah baya itu sembari tangannya menunjuk ke arah Matgagah.

Tentu saja sebutan itu membuat lelaki yang terkenal sebagai tukang pembuat onar di kampung itu terkaget-kaget. Kopi yang baru masuk masuk kerongkongannya hampir tersembur keluar.

“Bapak jangan bicara seenak perut. Bapak belum tahu siapa Matgagah ini?,” terang seorang pengunjung warung kopi

“Saya sangat tahu siapa lelaki itu, lelaki yang akan masuk neraka,” ulang lelaki setengah baya itu dengan nada suara tenang.

Ucapan lelaki setengah baya itu tentu saja membuat suasana hening melanda sekujur tubuh para pengunjung warung kopi.

Mereka semua membisu, tak ada yang menjawab dan memenggal ucapannya. Tak ada pembelaan untuk Matgagah, warga kampung yang terkenal sangat garang dan beringas.

Warga Kampung yang terkenal bernyali besar. Warga Kampung yang dikenal dengan keberandalannya itu.

Tak ada pengunjung warung kopi yang membantah ucapan lelaki setengah baya itu yang menelanjangi Matgagah dengan narasinya yang sangat kejam.

Membuat Matgagah hanya terdiam. Membuat lelaki setengah baya itu malu. Wajahnya memerah. Bak tersiram air panas yang mendidih.

“Sudah Mat, Tidak usah diambil hati omongan Bapak tua tadi,” kata seorang warga.
“Benar sekali, memangnya dia Tuhan yang bisa memutuskan seseorang masuk neraka atau surga,” sambung warga yang lain.

“Siapapun dia, apakah dia terkategori manusia sakti sekalipun, dia tak berhak untuk memvonis seorang manusia masuk surga atau neraka,” celetuk seorang warga yang lain.

Semenjak di vonis sebagai orang yang akan masuk neraka, kegelisahan melanda sekujur tubuh Matgagah.

lelaki yang paling ditakuti warga kampung itu, kini menjadi layu bak bunga yang tak disiram air.

Tak ada lagi kegagahan dalam jiwanya, tak ada lagi. Hanya ketakutan yang melanda sekujur tubuh gagahnya. Dirinya dilanda ketakutan yang luar biasa. Nyalinya tiba-tiba menipis bak balon yang kempes.

Usai sholat subuh berjemaah di masjid , Matgagah melangkahkan kakinya ke sebuah rumah di ujung Kampung.

Sebuah rumah yang halaman belakangnya bertengger sebuah pohon manggis yang besar dan tinggi dengan desah dedaunannya yang kerap memainkan lagu bak sebuah simfoni.

Di bawah pohon manggis itulah Matgagah dulu mendapat kehangatan sebagai seorang manusia, terhargai dan dihargai oleh orang-orang yang berada di sana.

Di rumah itu , Matgagah dianggap sebagai pimpinan oleh mereka yang kerjaannya selalu menyusahkan warga. Membuat onar di Kampung.

Ya, mereka, sekelompok warga kampung yang menghabiskan waktunya dengan minum minuman keras, main kartu hingga mencuri hewan ternak milik warga.

Mereka yang diberi stempel para warga kampung sebagai biang keladi keonaran di kampung.

Mereka yang selalu mendapat sumpah serapah dari mulut warga kampung karena sering menyusah warga kampung dan membuat kegelisahan di hati warga kampung dengan aksi liarnya.

“Assalamualaikum, " sapa Matgagah kepada teman-temannya yang masih asyik bermain kartu.

“Waalaikumsalam, tumben Mat. Kamu pagi-pagi sekali ke markas,” jawab seorang temannya.

“Kamu habis dari masjid,ya?,” tanya seorang teman yang lain.

“Iya.Dari masjid aku langsung kesini,” kata Matgagah sembari duduk di kursi yang terbuat dari papan bekas.

Dia memperhatikan wajah-wajah para kawan-kawannya. Mereka asyik bermain kartu. Sementara beberapa kawannya yang lain tertidur di bawah pohon manggis. Mereka tidur beralaskan tanah. Beratapkan langit.

Ada kesedihan yang mendalam dari pandangan mata Matgagah. Tiba-tiba, Matgagah berujar pelan.

“Aku cuma ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua, bahwa mulai hari ini, aku bukan bagian dari kelompok ini lagi. Aku mundur sebagai bagian dari kegiatan kotor dan berdosa ini,” lanjut Matgagah dengan suara tenang.

Tentu saja penyataan Matgagah disambut dengan rasa terkejut dari para teman-temannya yang sedang asyik bermain kartu.

Ada kegelisahan yang mengucuri seluruh tubuh mereka.
" Siapa yang akan memimpin kita," desis kawan-kawan Matgagah.

Selama ini mereka mengandalkan Matgagah sebagai pemimpin meskipun tak resmi.

Selama ini mereka mengandalkan keberanian Matgagah dalam melakukan operasi nakal dan liar mereka yang menyusahkan warga Kampung.

Kalau Matgagah tak ada lagi, maka tak ada yang bisa memimpin kelompok ini. Teman-teman yang lain hanya pengikut.

“Kamu serius, Mat?,” tanya seorang temannya dengan nada suara setengah tak percaya.
“Serius sekali kawan. Di sisa usia ku yang makin menipis ini, aku ingin mencari surga. Aku ingin menjadi penghuni surga,” ucap Matgagah sembari tersenyum.

Cahaya matahari mulai menerangi alam raya. Sinar terangnya mengiringi langkah kaki Matgagah menuju rumahnya sebagai manusia baru.

Ya, sebagai manusia baru dengan catatan kehidupan yang baru pula. Lelaki yang berniat mencari surga, ingin menjadi penghuni surga.

Dikejauhan terdengar syair lagu yang sangat religi.

Ku bersujud kepadaMu memohon ampunanMu

Adakah jalan untukku tuk kembali padaMu

Akulah para pencariMu Ya Allah

Akulah yang merindukanMu Ya Rabbi

Tunjukkan ku jalan yang urus

Tuk tetapkan langkahku

Akulah para pencariMu Ya Allah

Akulah yang merindukanMu Ya Rabbi

Hanya di jalanMu ya Allah

Tempatku pasrahkan hidupku

Toboali, Minggu, 23 Maret 2025


BIODATA SINGKAT: Rusmin Sopian adalah Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca ( GPMB) Kabupaten Bangka Selatan. Cerpennya tersebar di berbagai media lokal dan luar Bangka Belitung.

Saat ini tinggal di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik dan kakek seorang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna. 

Editor : Nur Wachid
#Toboali #Cerpen Lelaki Pencari Surga #Rusmin Sopian #GPMB #Gerakan pemasyarakatan minat baca #bangka selatan