Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Seorang Kiai di Mata Dua Petani Ngawi, Cerita di Balik Kasus Tindak Pidana Asusila

Deni Kurniawan • Rabu, 26 Maret 2025 | 04:27 WIB
Ilustrasi cerita dua petani tentang kasus dugaan asusila seorang kiai ke santri di Ngawi.
Ilustrasi cerita dua petani tentang kasus dugaan asusila seorang kiai ke santri di Ngawi.

Jawa Pos Radar Lawu - Ini cerita tentang seorang kiai yang sedang jadi pergunjingan di Ngawi. Saat ini, semua kalangan masyarakat terjingkat dengan kasus tindak pidana asusila itu.

Mereka yang tidak puasa, membicarakan kiai itu di warung saat siang. Sementara malam, para ibu berbisik-bisik nggosip seusai tarawih. Bahkan, saat ceramah masih berlangsung. Ya, setiap mulut membicarakan sosok kiai fenomenal dengan kabar yang menggemparkan seluruh Ngawi itu.

Kaslan dan Sarban, juga ikut-ikutan. Padahal, dua petani itu dikenal tak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana. Di kepala keduanya, cuma tentang cara mengolah tanah agar panen melimpah. Namun, pembicaraan bertopik seorang kiai yang diduga melakukan tindak asusila ke sejumlah santri itu membuat Kaslan dan Sarban betah berlama-lama duduk berdua di pematang sawah. Keduanya terlibat debat layaknya pengamat politik dan wakil rakyat yang disiarkan di banyak stasiun televisi.

''Sungguh biadab, tak pantas lagi dia disapa kiai,'' kata Sarban.

Perkataan itu dilontarkan Sarban sembari merobohkan badan di pematang sawah.
Sebagai ekspresi kemarahan, cangkul dilemparnya begitu saja.

''Bagaimana menurutmu, Lan?'' tanya Sarban sembari menepuk pundak Kaslan yang lebih dulu beristirahat.

''Apanya?'' Kaslan balik bertanya.

''Kau tak dengar kabar seorang kiai yang membuat malu umat Islam itu?'' terang Sarban.
''Membuat malu bagaimana, maksudmu?'' Kaslan penasaran.

''Astaghfirullah, kau benar-benar tidak dengar?'' Sarban heran.

Cerita tentang seorang kiai di Ngawi yang melakukan tindak asusila segera dibeber Sarban kepada karibnya itu.

Mulai A sampai Z, diceritakan. Setidaknya, sesuai apa yang diketahui Sarban.

Seperti, tentang seorang kiai yang merupakan pengasuh pondok pesantren.

Kemudian, pernah menduduki jabatan prestisius dalam organisasi massa (ormas).

Seluk-beluk kepribadian si kiai itu diceritakan.
Tentang kasus asusilanya juga tak ketinggalan.

Perihal seorang kiai yang gelap mata terhadap santrinya. Perbuatan dilatarbelakangi nafsu nekat dilakukan kepada orang yang bukan semestinya.

''Benar-benar kelewatan, korbannya santri laki-laki. Katanya, ada juga yang masih anak-anak,'' ujar Sarban.

''Jaga mulutmu, Ban! Kiai itu orang yang putih. Hidupnya tak jauh-jauh dari agama. Jangan sembarangan kalau ngomong,'' tukas Kaslan.

''Sudah masuk koran beritanya, polisi sudah menetapkannya jadi tersangka,'' ungkap Sarban.

Kaslan terperangah mendengar perkataan Sarban. Namun, dia mencoba berpikir positif.

''Jangan buru-buru menyimpulkan. Meski koran sudah memberitakan, masih ada hukum yang membuktikan semua,'' tutur Kaslan yang mendadak bijak.

Padahal, orang sekampung mengenalnya sebagai petani yang jarang berbicara serius.
Yang keluar dari mulutnya adalah yang membuat orang lain tertawa.

Berbagai hal berubah menjadi candaan baginya. Seperti saat padinya habis dimakan tikus.

Kalau petani lain marah-marah karena lahan padi jadi ruang makan tikus, dia malah menjadikan apa yang dialami sebagai guyonan alias lelucon.

''Sebenarnya saya berniat mengantarkan padi ke tikus lewat paket, tapi tak tahu alamatnya di mana,'' begitu kiranya jawaban yang selalu dilontarkan Kaslan saat ditanya petani lain tentang bagaimana nasib padinya.

Kembali ke seorang kiai yang melakukan tindak asusila di Ngawi, Sarban sempat terdiam sejenak usai mendengar perkataan Kaslan yang terasa bijak di telinganya itu.

''Apakah pikiranmu tetap sama seperti saat ini jika santri korban kebejatan seorang kiai itu adalah anakmu?'' sahut Sarban.

''Susah-susah kau membiayai di pondok pesantren. Tapi ujungnya malah anakmu diperlakukan seperti itu, bagaimana Lan?'' Sarban menyerang psikis Kaslan.

Sejurus kemudian, urat rahang Kaslan mengencang. Dia bergegas pulang.

Isi kepalanya kini dipenuhi tanda tanya tentang nasib anak sulungnya yang memilih mondok ketimbang melanjutkan pendidikan ke SMP. (*)

*Penulis bekerja di Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#petani #pondok pesantren #ngawi #kiai #asusila #santri #Cerita