Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Nenek

Nur Wachid • Minggu, 23 Februari 2025 | 21:05 WIB
Ilustrasi Nenek.
Ilustrasi Nenek.

Aku tersenyum. Seketika sekujur tubuhku dialiri kebahagiaan. Tanpa tersadar, air mata ku mengalir. " Terima kasih, Nenek."

Karya Rusmin Sopian

Wajah Nenek memerah. Bahkan terkesan menghitam menjalari wajah tuanya.

"Kamu jangan sekali-kali menerima tawaran itu. Nanti kamu dikadalin mereka. Mana harga diri keluarga kita," suara Nenek menggelegar bak petir di siang bolong.

Aku terkejut. Bahkan kaget dengan ucapan yang keluar dari mulut Nenek.

" Harga diri?," tanyaku memberanikan diri.

" Iya. Buat apa kamu ikut-ikutan bersama mereka membantu Pemerintahan Desa. Mereka itu tidak pernah sama sekali menghargai jasa nenekmu ini," suara Nenek kembali meninggi.

Aku terdiam. Mulut ku terkunci. Ada penyesalan yang menghiasi sekujur tubuhku.

Ada rasa sedih mengaliri tubuhku.

Tubuhku diliputi rasa penyesalan yang mendalam. Bahkan teramat mendalam. Sejuta penyesalan kini ku alami.

" Seandainya tidak ku sampaikan," gumamku setengah menyesal.

Aku merasa bersalah. Bahkan teramat bersalah.

Semestinya aku tidak menceritakan kisah itu kepada Nenek.

Semestinya aku tidak mengisahkan cerita itu kepada Nenek.

"Lalu buat apa kamu menceritakan itu kepada Nenekmu? Apa urusannya?," tanya temanku.

"Itu persoalannya,Bro. Aku bak buah simalakama. Ku ceritakan salah. Tidak ku kisahkan, aku salah juga," beberku.

Temanku cuma menghela nafas panjang. Demikian pula aku.

Di ufuk timur, matahari mulai menuruni langit. Tanda senja akan tiba.

Sang rembulan segera menghampiri semesta.

Nenekku memang dikenal penghuni Kampung Kami sebagai salah seorang warga yang keras.

Bahkan orang di Kampung Kami menyebutnya sebagai orang yang berkepala batu. Memegang prinsip.

" Nenekmu keras kepala," ujar seorang warga Kampung.

" Beliau wanita berkepala batu," sambung yang lain.

" Sebenarnya, nenekmu orang baik. Keadaan yang membuatnya seperti itu," ungkap warga yang lainnya.

Aku terdiam. Terpaku memandang Sang Rembulan. Seolah ingin bertanya kepada sang penerang semesta.

Di Kampung Kami, Nenek sangat dihormati warga Kampung.

Bukan hanya karena Nenek pernah menjabat sebagai Kepala Desa, tapi Ayah Nenek adalah warga yang pertama kali membuka perkampungan kami.

Membangun Kampung Kami hingga menjadi seperti sekarang.

Ada sekolahan hingga tingkat SMA. Ada Puskesmas. Ada Pasar Desa. Ada Kantor Cabang Perbankan.

Intinya Kampung Kami sangat berkemajuan. Jalanan mulus hingga ke Ibukota Kecamatan.

" Eyang mu yang membuka perkampungan kita ini," cerita Nenek kepada ku.

" Hebat Eyang. Bisa membuka perkampungan seorang diri," jawabku sekenanya.

" Maksud Nenek, orang yang menggagas pendirian Kampung ini, Eyang mu. Tentunya didukung dan dibantu orang-orang lain yang memiliki prinsip yang sama," jelas Nenek.

Perseteruan antara Nenekku dengan Pak Kades sudah berlangsung lama.

Semenjak Pak Kades memenangkan Pilkades.

Nenekku mengasumsikan bahwa kemenangan Pak Kades dalam kontestasi politik di Desa Kami dipenuhi dengan kecurangan.

" Buat apa menjadi pemenang kalau dengan cara yang curang. Buat apa jadi pemimpin kalau diraih dengan cara-cara yang tidak terhormat," ungkap

Nenekku saat mendengar Pak Kades memenangi perhelatan demokrasi di Kampung Kami.

" Apa Nenek mempunyai bukti bahwa Pak Kades berlaku curang?," tanyaku saat itu.

" Ala. Aku tahu siapa Pak Kades itu. Saat aku masih menjabat Kades, dia sudah punya niat untuk menggulingkan aku sebagai Kades," ungkap Nenek dengan nada suara berapi-api.

Aku terdiam. Mematung di sudut ruang tamu rumah Nenek.

Perseteruan antara Nenekku dengan Pak Kades sudah bukan rahasia umum lagi bagi masyarakat Kampung Kami.

Semua warga Kampung sudah tahu.

Silahturahmi keduanya sudah lama hambar. Bak makanan tanpa garam.

Tidak pernah saling bersapa saat bertemu. Tidak pernah bersalaman saat berjumpa.

Bahkan saling menghindari. Terutama Nenekku.

" Buat apa ketemu dengan orang munafik. Tidak ada gunanya," jawab Nenek saat ku tanya.

Hari itu, aku menerima surat dari Kecamatan yang menugaskan aku sebagai Sekretaris Desa.

Sebagai bawahannya Pak Kades. Orang menyebutnya sebagai orang nomor dua di Pemerintahan Desa.

Sebagai warga Kampung, aku ingin berbakti kepada Kampung tempat ku dilahirkan.

Sebagai warga Kampung, aku berniat mengabdikan diri untuk kebermajuan Kampung tempat aku dibesarkan.

" Langkahmu sungguh bijaksana," ujar Pak Penghulu Kampung.

" Aku mendukung langkah mu," ungkap Pak Ketua Masjid.

" Aku bangga dengan mu," kata Seorang tokoh masyarakat Kampung.

" Insyaallah, langkahmu mendapat ridho dari Allah SWT," doa dari tokoh agama Kampung Kami.

Di sebuah ruangan serbaguna Kantor Kecamatan, aku mengucapkan sumpah sebagai seorang Sekretaris Desa.

" Demikian Allah, Aku bersumpah. Akan menjalankan amanah sebagai Sekretaris Desa untuk kepentingan masyarakat," ucapku dengan suara lantang.

Dan aku tidak tahu bagaimana pandangan Nenek ketika mendengar aku bergabung dengan Pak Kades untuk membangun kebermajuan Kampung Kami.

Seketika, tubuh ku roboh dilantai. Dan saat sadar, aku sudah berada di sebuah kamar rumah sakit.

Terlihat oleh ku, wajah Nenek. Nenek tampak sumringah. Aku terkejut.

" Langkahmu benar. Aku mendukungmu," suara Nenek menghampiri gendang telinga ku.

Aku tersenyum. Seketika sekujur tubuhku dialiri kebahagiaan. Tanpa tersadar, air mata ku mengalir.
" Terima kasih, Nek," gumamku.

Toboali, Februari 2025


BIODATA SINGKAT: Rusmin Sopian adalah Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca ( GPMB) Kabupaten Bangka Selatan. Cerpennya tersebar di berbagai media lokal dan luar Bangka Belitung. Saat ini tinggal di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik dan kakek seorang cucu.

Editor : Nur Wachid
#cerpen #Rusmin Sopian #nenek