Kampung Halaman
Cerpen: Damay Ar Rahman
GEMURUH riuh suara angin di malam ini, membuat Icut teringat akan peristiwa tsunami dua puluh tahun yang lalu. Saat menjelang pagi, di mana harapan Icut untuk bisa berkumpul bersama ibu dan kedua kakaknya akan terwujud.
Saat itu juga, banyak harapan-harapan yang akan ia utarakan kepada mereka, terutama tentang kemenangannya sebagai pelukis klasik di Rusia. Icut, nama panjangnya adalah Icut Dara. Nama itu, dari kakek yang kini telah renta di kampung Banda.
Ingin ia pulang. Segera lalu berlari memegang kaki kakeknya, mengucap ribuan terimakasih atas dedikasinya telah bersedia berkorban untuk dirinya yang terlantar saat air laut memporak-porandakan daratan Banda.
Ia bermimpi, ibu dan kedua kakaknya sedang berada di teras depan, menunggunya, menyambut dengan tepuk tangan meriah atas segala doa serta upaya. Tetapi, itu hanya imajinasi semata.
Bayang-bayang yang melangit seketika luntur oleh suara guntur. Saat petugas menyampaikan seluruh penumpang untuk menggunakan sabuk pengaman, karena cuaca sedang tidak baik di atas udara.
Suara gemerisik memecahkan keheningan. Posisi pesawat agak miring, sehingga botol minuman yang berisi air tumpah. Melihat pemilik botol itu mengingatkannya kepada Salwa. Anak tertua yang bijak juga ceria.
Jika masih ada, pasti ia sangat cantik. Bertubuh tinggi, cerdas sehingga mungkin akan menjadi guru.
Cita-cita itu, sering Salwa ucapkan ketika ditanya guru saat di sekolah. Baginya, mengajar dapat mengeratkan dirinya dengan anak-anak. Memahami perasaan mereka, terutama yang telah ditinggal pergi orangtuanya.
Icut masih menatap sipit ke arah luar jendela. Ilusinya membuat petugas pesawat menegur , untuk segera menggunakan sabuk pengaman.
Perjalanan ini adalah pertama. Sebab sudah sepuluh tahun ia tidak melihat kampung halaman.
Saat dirinya tamat SMA, ia di sekolahkan oleh pemerintah, untung-untung dirinya juga cemerlang dan memiliki orang dalam yaitu kakeknya.
Karena Icut terlihat belum melaksanakan aturan, terlihat petugas lain datang kembali menegur.
"Mohon untuk mengikuti arahan kami " Tutur lembut seorang pramugari kepadanya.
"Oh maaf, terimakasih. Tadi sudah ditegur cuma saya lupa. Sekali lagi mohon maaf." Jawab Icut sbil mengangguk.
"Baik nona."
Pramugari itu berlalu dihadapannya dan Icut telah siap menggunakan atribut pesawat. Ia kembali melayang pada masa lalu.
Di saat pagi sehari sebelum dua puluh empat Desember, harum daun pandan tercium hingga menusuk rongga hidung Icut.
Ia dengan lincahnya segera berlari lalu membuka sendalnya, mencuci kaki air dari kendi dan masuk menuju dapur.
Ibu terlihat sedang mengaduk bubur. Daster yang dikenakannya sesekali terbang terbawa angin sore itu. Icut memeluk betis ibu dengan manja sambil memohon untuk diberikan bubur.
"Sebentar adek. Belum matang buburnya. Nanti gigi kamu sakit nak." Ucap ibu sambil memulas rambut ikal Icut.
"Emak, Icut sayang emak." Gadis kecil dengan wajah manis itu mengeratkan pergelangan kedua tangannya di kaki ibu.
"Harus sayang nak. Sama hewan aja kita harus sayang apalagi manusia. Kalau nanti dewasa, ingat ya. Jangan pernah merasa tinggi, rendahlah pada siapapun. Karena, kita tidak tahu, siapa diantara kita yang akan masuk surga."
Icut memandang wajah ibu yang penuh keringat dengan mata nanar. Ia tersenyum, dan kembali memeluk.
Keringat ibu lebih harum daripada aroma kasturi. Icut masih mengenang pada masa itu. Ia tersenyum sambil memulas pipinya yang basah.
Apakah ibu sedang melihatnya. Ia merasa ada detakan jantung dada ibu di denyut nadi tangan kanannya. Karena, saat pagi Minggu tangan mungilnya menyentuh dada ibu, yang baru saja shalat fajar.
Apakah benar kata kakek, jika saat membayangkan seseorang, lalu tidak terasa air mata berlinang, adalah tanda rindu?
Minggu adalah hari libur. Anak-anak begitu senang. Mereka tidak telat bangun, selepas subuh langsung mandi dan siap-siap ke surau untuk ikut ibu kajian pagi. Tidak lama, hanya satu jam.
Lalu masak dan kakak menyapu. Icut bermain dakon ditemani adik paling kecil si Ipeh. Ipeh selalu unggul soal permainan. Seandainya ia masih ada, mungkin jadi atlet.
"Hahahah kalah lagi kamu Icut." Ungkap Ipeh sambil becanda.
"Dasar ya, suka kali ejek kakaknya."
Saat mereka saling adu bicara, tiba-tiba tanah bergoyang. Awalnya ringan, lama-lama tinggi. Sangking tingginya, seluruh perabotan rumah pada jatuh dan televisi pecah. Lima belas menit berlalu.
Belum tenang dengan kondisi gempa, orang-orang berlari ketakutan. Ada yang menggunakan daster dan lelakinya memakai kain sarung.
Ibu panik, meminta aku dan Ipeh segera berlari ikut Buk Nur tetangga kami. Ibu cari Salwa di ladang, karena setengah jam lalu berangkat untuk membeli cabai.
"Pergilah nak, ibu akan menyusul. Ipeh ibu titip Icut ya. "
Mata Ipeh berkaca-kaca. Tanpa berlama-lama Icut ditariknya untuk ikut Buk Nur. Sayang air telah dekat bahkan sudah menyeret keduanya.
Demi Icut, Ipeh rela mengorbankan dirinya agar rambut Icut terlepas dari atap yang terbawa gelombang.
Lagi-lagi takdir berkata lain, hempasan air yang tiba-tiba datang telah membawa Ipeh tidak tahu ke mana. Bahkan Icut saat itu juga telah tidak sadarkan diri.
Suara petugas menyampaikan bahwa penerbangan akan sampai dua puluh menit lagi. Barusan yang berada dalam tidur Icut bukan kenangan, tapi luka.
"Duhai yang maha kuasa, apabila aku diberi waktu, ingin kujamah wajah sendu saudara dan ibuku". Ucapnya dalam hati.
BIODATA SINGKAT: Damay Ar Rahman, sehari-hari bekerja di Museum Tsunami Aceh dan menulis. Penulis buku Aksara Kerinduan (2017), Serpihan Kata (2018), Senandung Kata (2018), Bulan di Mata Airin (2018), Dalam Melodi Rindu (2018), novel Akhir Antara Kisah Aku dan Kamu (2020), Di Bawah Naungan Senja (2022), Musafir (2022), dan Hati Yang Kembali. Tulisannya dimuat oleh surat kabar lokal, nasional Indonesia dan Malaysia baik dalam bentuk cetak maupun online. Terdapat juga dalam majalah sastra serta antologi bersama. Berdomisili di Lhokseumawe, Aceh. Hp/wa :082274515668
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.
Editor : Nur Wachid