MALAM kian pekat menyelimuti Madiun. Kasan masih kedinginan di atas lemari kayu, dikepung banjir di dalam rumah.
Petugas evakuasi warga terdampak banjir dari pemerintah Madiun tak mendatangi Kasan untuk yang kedua kali. Tak ada penyesalan di dadanya.
Di balai desa, tidak semua warga muram di tempat pengungsian itu. Seorang di antaranya mencoba menghangatkan suasana dengan mengisahkan sebuah cerita misteri.
''One upon a time,'' begitu si seorang warga itu membuka cerita misteri yang disampaikannya.
Beberapa pemuda sedikit tersenyum mendengar kalimat pembuka berbahasa Inggris yang disampaikan dengan mimik dan gestur serius itu.
''Bapak, ibu, dan teman-teman semua. Lebih baik menyelamatkan nyawa daripada harta atau benda saat terjadi bencana,'' kata kepala desa (kades) yang tiba-tiba menyela.
Perhatian warga di balai desa seketika beralih ke petugas itu.
''Setelah kami data, ada dua warga yang tidak ada di pengungsian ini,'' lanjut si petugas.
''Bapak, ibu, dan teman-teman semua. Daerah kita langganan banjir. Jangan ada yang nekat menolak evakuasi seperti kejadian sebelum-sebelumnya,'' kades itu terus nerocos dengan nada yang semakin keras.
''Jadi, kami mohon bantuannya untuk membujuk dua warga yang besar kemungkinan masih berada di dalam rumah. Alasannya, khawatir kalau harta benda dimaling,'' ungkap kades.
Tetap atas lemari, Kasan menyulut sebatang rokok kretek terakhirnya.
Isapan pertama dihembuskan. Asap mengepul di depan wajahnya.
Sejurus kemudian, suara perempuan yang kelewat akrab di telinganya memanggil.
Kasan terbelalak seketika atas penggilan mendiang sang istri itu.
Matanya memelototi satu per satu sudut ruangan yang dapat dijangkau.
Tak ada yang didapati Kasan di dalam rumah tergenangi banjir itu.
Namun, gemericik air seperti tersapu langkah kaki terasa semakin mendekat.
''Pergilah bersama orang-orang ke balai desa! Aku saja yang menjaga rumah,''
Baca Juga: CERITA MISTERI, Banjir Madiun Bagian 1, Pertahankan Kenangan saat Bencana Datang
Kasan merasakan mendiang istrinya berbisik amat dekat di telinganya.
Kendati sempat merinding dan bulu kuduk beridiri, tak ada ketakutan sama sekali di dada Kasan.
Mata pria tua yang terdampak banjir Madiun itu malah berkaca-kaca.
Cerita misteri di tempat pengungsian tak berlanjut.
Sejumlah petugas pemerintah Madiun bersama warga sepakat menjemput dan mengevakuasi Kasan dari banjir. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan