BANJIR setinggi satu meter kala itu tak cuma memberi nestapa bagi warga Madiun. Namun, juga menyimpan cerita misteri yang datang dari sejumlah korban.
Petaka dan cerita misteri dialami mereka yang nekat tetap di rumah terdampak banjir. Sejumlah warga yang enggan dievakuasi.
Tak sedikit surat kabar memberitakan bencana hebat di Madiun itu. Saking banyaknya korban jadi pertimbangan utama pihak redaksi.
Sore itu, Kasan duduk di kursi rotan tua ruang tamu.
Pria sepuh itu tengah merindukan orang-orang yang dicintai.
Saminten, istrinya yang telah meninggal dua tahun lalu.
Laras, Rahayu, dan Iva. Ketiga anaknya yang kini tinggal di luar kota bersama suami masing-masing.
Kasan rindu suasana rumah yang ramai.
Kadang penuh tawa keceriaan, sesekali tangis terisak.
Iva yang kerap tersedu-sedu usai digoda kedua kakaknya.
Tangisan si bontot itu biasanya diawali bantingan pintu kamar yang kelewat keras.
Selalu, sang ibulah yang berusaha mendamaikan pertengkaran kakak pertama dan kedua melawan si adik itu.
Kasan cuma bisa tersenyum getir mengingat semua.
Masih di kursi rotan, pria asli kelahiran Madiun itu mendadak terperangah.
Bunyi kentongan dibarengi teriak sejumlah tetangga meraung-raung di telinga.
''Banjir bandang!!! Banjir... Tolong... Tolong...''
Suasana genting di sekitar tak membuat Kasan panik berlebihan.
Dia mencoba tenang, berjalan mencari tempat tinggi.
Kursi rotan yang semula diduduki, kini beralih ke pundaknya.
Kaki diayunkan tidak tergesa-gesa. Sementara air berwarna kecokelatan sudah menutupi betis.
Kasan berniat menunggu satu-satunya tempat sarat kenangan indah bersama keluarga. Rumah.
Dia tidak ingin banjir yang melanda sejumlah wilayah Madiun kala itu menyapu sisa masa-masa indah yang telah berlalu. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan