LAMA sudah rumpun pohon pisang belakang rumah Sarban tak berbuah. Kalaupun berbuah, tandan kecil. Cuma setangkep alias dua sisir.
Warga mengaitkan kondisi itu dengan kematian Sarban.
''Orangnya sengkala, pohon pisangnya juga merana,'' begitu kata sejumlah tetangga Sarban.
Tak sedikit warga yang percaya bahwa Sarban mati karena tak segera melaksanakan ruwatan.
Salah satu adat, tradisi, dan budaya Jawa, yang dipercaya untuk buang sial.
Warga tak tahu, Sarban telah ngruwat diri sendiri dengan cara lain.
Yakni, memotong kuku tangan dan kaki sesuai ilham yang diperoleh lewat mimpi.
Yang warga tahu, jasad Sarban terbujur kaku dengan menggenggam pisau.
Namun, mereka yang memancikan jenazah, tak mendapati luka sayatan maupun tusukan di tubuh Sarban.
Hari berganti bulan, bahkan tahun, setelah kematian Sarban.
Penyebab kematian pria malang itu masih menjadi cerita dan misteri bagi warga.
Suatu ketika, seorang pria sepuh datang ke rumah Sarban yang sudah tak terawat.
Perkayuan rumah yang lapuk, beberapa sudah diambili warga untuk dibakar.
Si pria sepuh berkaca-kaca mengetahui kondisi itu.
Air matanya tak terbendung setelah masuk ke dalam rumah.
Tubuhnya mendadak lemas ketika melihat rumpun pohon pisang belakang rumah yang kering.
''Itu tempat kesukaanku dulu menghabiskan waktu, memikirkan hidup,'' gumam pria sepuh tersebut terisak-isak. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan