DAHULU, hidup Sarban tak semalang sekarang.
Kendati tidak wah, semua dulu serba kecukupan. Semua berubah sejak lima tahun belakangan.
Saking suramnya hari-harinya, orang-orang menyarankan untuk melakoni ruwatan bagi dirinya sendiri.
Sarban, saat ini kelewat miskin.
Dua ekor sapi brahman mati mendadak tanpa sebab, bersamaan.
Kandang ternak lantas diisi sepasang kambing.
Yang jantan miliknya pribadi.
Yang betina titipan tetangga.
Di dusun tempat tinggal Sarban, orang-orang biasa menitipkan kambing dengan sistem bagi hasil.
Aturan mainnya, cempe (anak kambing) menjadi jatah yang memelihara.
Itu jika si betina beranak satu.
Kalau beranak dua atau tiga, bagian pemelihara tetap satu ekor.
Nasib malang yang dialami Sarban tak cuma soal ekonomi.
Mentalnya juga tidk normal.
Tetangga sangat sering mendapati Sarban melamun.
Bonggol kayu randu di bawah rumpun pohon pisang belakang rumah, jadi tempat duduk favoritnya menghabiskan hari dengan kemurungan.
Seperti, yang dilakukannya sore ini.
Sarban kepikiran omongan, cerita, sekaligus saran banyak orang yang tampak peduli kepadanya.
‘’Apa aku harus ngruwat diriku sendiri seperti kata orang-orang?’’ tanya Sarban kepada dirinya sendiri.
Ihwal adat, tradisi, dan budaya Jawa di dusun tempat tinggal Sarban memang masih kental.
Orang-orang menganggap nasib sial yang menimpa Sarban bukan hal yang biasa.
Melainkan, bentuk sengkala, kesialan, kutukan, atau semacamnya yang bersifat mistis.
Sejumlah warga kerap menyarankan Sarban melaksanakan ruwatan bagi dirinya sendiri.
Kini, niat untuk melakukan hal sarat misteri itu bertunas di dadanya.
‘’Apa benar, kalau sudah diruwat semua akan normal kembali? Kata orang-orang, ruwatan itu semacam sial dan nasib malang yang tak henti-henti seperti ini,’’ ujarnya yang masih berada di bawah rumpun pohon pisang. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan