MISTERI kematian Burhan yang sarat kejanggalan bukan satu-satunya topik pergunjingan warga kala itu.
Gantari mulai disebut-sebut sebagai perempuan bahu laweyan. Itu setelah suami pertama dan keduanya mati.
Namun, julukan tersebut masih samar-samar. Warga belum segamblang sekarang.
Enam suami Gantari seluruhnya sudah meninggal.
Kini, perempuan itu hidup bersama Atmo, suami ke-7.
Predikat perempuan bahu laweyan bakal segera komplet disematkan kepada Gantari.
Konon, kutukan atau nasib sial berupa suami meninggal akan terputus setelah suami yang ketujuh tutup usia.
Namun, Gantari dan Atmo kini tampak seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Mulai mengantar ke pasar sampai berdua mendatangi kondangan.
Pergunjingan yang sebelumnya seputar misteri tentang bahu laweyan, berangsur menjadi iri dan dengki.
Sebab, Gantari dan Atmo selalu mesra.
Rasa iri dialami tetangga yang acap bertengkar.
Seperti, Karsi yang selalu memarahi Topo yang keranjingan mancing di telaga tak jauh dari desa.
Bentakan Karsi kepada Topo kelewat keras.
Apalagi, saat Topo pulang sempoyongan bau miras, plus tak membawa ikan.
Namun, rumput tetangga akan selalu tampak lebih hijau.
Sejatinya, batin Atmo tertekan.
''Kuterima dan kumengerti semua cerita tentang kematian suami-suamimu terdahulu. Tapi, bertahun-tahun mengapa kau terus seperti ini?,'' kata Atmo.
''Kau tak mau kusentuh selama ini, misteri apa yang kau simpan Gantari?'' lanjutnya.
''Apakah adat dan budaya Jawa seperti ini?'' Atmo terus mendesak Gantari.
Gantari tak menjawab ucapan suaminya.
Perempuan bahu laweyan itu merespons dengan membuka seluruh pakaian yang dikenakan.
Atmo terperangah.
Dia baru pertama kali melihat Gantari seperti itu.
Rambut yang selalu disanggul atau diikat, kini dibiarkan terurai panjang. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan