TERSISA beberapa potong jenang, berdampingan dengan jadah daln lain-lain, di sebuah nampan, di meja dapur.
Makanan yang identik dengan adat dan budaya Jawa di acara pernikahan Gantari dan Atmo itu belum habis. Namun, pergunjingan tentang pasangan itu telah beranak pinak.
Atmo sudah mendengarkan banyak cerita dari Gantari.
Tak terkecuali tentang keadaannya yang sudah janda enam kali.
Namun, Gantari tidak sepenuhnya jujur.
Ada hal yang sengaja dia simpan dan sembunyikan dengan rapi.
Atmo tak boleh tahu kalau status janda yang disandangnya disebabkan kematian.
Seluruh suami Gantari meninggal tak wajar, sarat kejanggalan.
Cerita kematian suami-suaminya terdahulu dibelokkan.
Seperti kematian Kaslan, suami pertama.
Pria yang bekerja di pelayaran itu sebenarnya mati di laut.
Kepada Atmo, Gantari mengatakan bahwa Kaslan menikah lagi.
Atmo mudah percaya karena merasa senasib.
Yakni, ditinggal pasangan yang memilih orang lain.
Padahal, Gantari sengaja mengarang cerita dengan memanfaatkan kondisi psikis Atmo.
Perempuan tersebut lihai menyesuaikan posisi sebagai orang tersakiti.
Sementara di luar sana, Atmo jadi bahan pergunjingan.
Orang-orang desa tempat tinggal Gantari amat khawatir dengan hidup pria dari tanah seberang itu.
''Jangan terus-terusan membicarakan Atmo,'' kata pemilik warung yang kesal karena para pembeli terus-terusan bergunjing.
''Semoga kutukan, mitos, misteri, atau apalah istilahnya, tentang Gantari yang bahu laweyan itu tak benar adanya,'' imbuh si pemilik warung.
''Jangan sembarangan ngomong, perempuan bahu laweyan itu memang nyata. Orang Jawa harus percaya adat dan budaya,'' tukas seorang pembeli. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan