ATMO menuturkan, pasangan itu menikah di hari terakhir bulan Suro.
Pantangan adat Jawa dilanggar.
Semula rumah tangga berjalan baik-baik saja.
Namun, hal-hal tak masuk akal mulai terjadi setelah setahun menikah.
Diawali dengan usaha pasangan yang yang tinggal di salah satu dusun di kaki Gunung Lawu itu bangkrut.
Duit hasil kirim sayur mandek di banyak pedagang.
Usaha merintis kembali dengan menjual kebun warisan, berakhir sama.
Pasangan pelanggar pantangan itu kena tipu calon rekan kerja sama.
Karena tak punya kemampuan lain selain mengepul sayur dari petani, mereka jatuh miskin.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Tipis, Jadi Rp 1.402.000 per 29 Juli 2024
Hidup serba kekurangan.
Bahkan, sampai utang beras ke tetangga.
Beruntung, mereka tergolong baik di sisi sosial.
Sehingga, banyak warga yang berempati.
''Warga percaya kalau mereka melarat akibat melanggar pantangan itu,'' tutur Atmo.
Janda pemilik warung, Sakat, dan Katno, antusias menyimak cerita Atmo.
''Apakah salah satu dari pasangan yang diceritakan mbah buyutmu itu juga meninggal seperti akibat buruk yang dikatakan orang-orang?'' tanya Katno kepada Sakat.
Atmo lagi-lagi merasa menjadi tokoh utama dalam obrolan di warung itu.
''Sabar-sabar,'' jawab Atmo yang tampak berpikir seraya menyeruput teh miliknya yang tersisa.
Atmo menekankan bahwa tidak ada kepastian bahwa pasangan itu mati atau tidak.
Mbah buyut Atmo hanya memberi penjelasan mengenai terkaan orang-orang dusun kala itu.
Sebab, tak ada yang melihat atau menguburkan jasad pasangan pelanggar pantangan itu.
Mereka hilang tanpa jejak.
''Katanya, mereka dibawa masuk ke alam gaib lewat punden di ujung dusun kita ini,'' ujar Atmo. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan