MUNCAK ke Lawu dengan menggunakan pakaian warna hijau sama artinya menantang Mbah Lawu.
Warga tempat tinggal Sakat meyakini, orang yang nekat melanggar pantangan itu akan tertimpa petaka.
Cerita tentang seorang pendaki berkaos hijau yang hilang dan tak ditemukan hingga sekarang sering jadi topik perbincangan di warung-warung.
Jogoboyo setempat pernah bilang kalau seorang pendaki itu jadi pembantu Mbah Lawu.
Katno, blantik kambing yang dipercaya memimpin selamatan di punden setempat, punya versi lain.
Si pendaki hilang dan tak kembali itu dikutuk jadi pohon.
Sementara Panut, bujang lapuk yang beberapa kali rela tidur di kuburan minta nomor togel, sempat nyeletuk kalau pendaki itu masih hidup sampai sekarang.
Namun, tak bisa keluar gunung karena penglihatannya ditutup oleh penunggu gunung Lawu.
Tiga versi nasib pendaki berkaos hijau yang hilang dan tak kembali itu lestari di kampung tempat tinggal Sakat.
Salah satunya disampaikan bapak Sakat sebagai wejangan.
Yakni, yang dikutuk menjadi pohon.
Bukan tak tahu dua versi lainya, bapak Sakat lebih percaya itu bukan tanpa sebab.
Karena, semasa muda bapak Sakat pernah muncak ke Lawu.
Di area pasar setan, sebuah kawasan sarat kisah horor di puncak, bapak Sakat melihat pohon menyerupai manusia.
Batangnya berliuk-liuk menyerupai orang bersimpuh.
Konon, pohon itu merupakan jelmaan soerang pendaki yang melanggar pantangan. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan