SEBELUM melintasi tanjakan pertama, Anom berhenti di warung kopi langganannya.
Kebetulan, warung kopi di persimpangan antara jalur baru dan lama menuju Telaga Sarangan itu masih buka.
Beberapa pembeli yang semula meneduh, belum selesai ngopi.
Anom akrab betul dia dengan pedagangnya.
Pedagang yang pernah melihatnya turun dari tanjakan Ngwolo dengan ditumpangi sosok perempuan serba putih.
''Mau lewat tanjakan lagi?'' tanya si pedagang.
''Iya, topiku tertinggal,'' jawab Anom.
Si pedagang paham makna topi itu.
Sebab, Anom sempat cerita banyak tentang topi tersebut.
''Saran saya, biar saja topimu hilang, daripada hal seperti sebelumnya terjadi lagi,'' ujar pedagang.
''Beberapa waktu lalu kau hilang selama seminggu. Ibumu dan semua kerabat mencarimu. Akhirnya, kau ditemukan pingsan di bawah pohon randu di tanjakan itu,'' lanjutnya.
Anom lantas mengingat-ingat kejadian itu.
Saat orang-orang bilang dia hilang selama tujuh hari, Anom cuma merasa sekitar tujuh menit.
Selama sekitar tujuh menit itu, dia seperti berada di jalan tak berujung.
Seorang diri dan terus berlari.
Ayunan kaki Anom di momen janggal itu terhentikan oleh suara jeritan yang kelewat keras.
Cuma jeritan, tanpa melihat sumber suaranya.
Anom menduga bahwa itu merupakan lengkingan suara perempuan serba putih.
Sosok yang dibilang orang lain sering menumpangiku saat mengendarai motor. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan