Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Malaikat Berwujud Manusia

Nur Wachid • Selasa, 12 Maret 2024 | 01:32 WIB

(ILUSTRASI: DOKUMEN JAWA POS RADAR MADIUN)
(ILUSTRASI: DOKUMEN JAWA POS RADAR MADIUN)

Tahajud rutin dan membaca Alquran dengan suara merdu, membuat ayah selalu rindu.

Oleh: Damay Ar Rahman

SEBUAH pemakaman terlihat panjang dan di atasnya terdapat tiga tanaman berbunga indah tumbuh. Seorang pemuda berpakaian serba putih datang berziarah. Ia berdoa dengan tetesan air mata lalu menuangkan air dari dalam kendi.

Dalam kubur ini, terdapat sosok yang begitu berharga baginya. Pemuda bernama Saleh itu mengusap batu nisan dengan lembut. Ia tersenyum dan bercerita semalam baru saja memimpikannya. Di samping pemuda itu, pria tua juga turut hadir. Lalu membuka pembicaraan.

27 tahun lalu...

Terik matahari semakin terik. Angin membelai lembut setiap daun-daun yang gugur dan menguning memutuskan untuk pergi menuju tanah kering. Rumput  hijau membentang luas memberikan kesejukan bagi setiap mata yang memandangnya dengan jeli.

Menurut pakar mental, siapa yang merasa dirinya sedang dilanda banyak masalah, cara sederhana adalah melihat warna hijau di alam bebas. Tidak mesti tempat wisata, bahkan lapangan lokasi Aini membawa sapinya untuk makan juga dapat memberi ketenangan. Tentunya, di samping ada air terjun turun dengan deras tanpa terpatahkan oleh batu-batu di tengahnya. Itu sangat menentramkan.

Lonceng dari kalung kedua sapi Aini, mengisyaratkan bahwa mereka telah kenyang karena puas memakan rumput-rumput subur itu. Aini dengan topi kecapinya segera membawa sapi-sapi itu menuju pohon agar bisa tidur.

Dia sendiri, duduk di kursi panjang yang disediakan pemilik wisata air terjun untuk rehat sejenak dari kelelahan yang sedang dirasakan. Ia belum makan siang, tetapi malas untuk pulang ke rumah. Hanya menambah luka dan dipandang  sinis. Tidak hanya itu, Aini juga akan dilontarkan berbagai  pertanyaan atau pernyataan menyakiti yang akan ia dengar.

Perutnya bergetar hebat. Namun tidak Aini gubris.

"Bisakah kamu bekerjasama denganku seperti hari-hari lalu?" tanya Aini pada perutnya.

"Ah, kemana aku pergi kau akan tetap ikut bukan? Sabarlah, Tuhan sedang melihat kita. Aku yang resah dilanda bimbang dunia penuh sandiwara ini." Ia berkata tanpa lawan bicara. Lalu bertasbih dan Ainipun terlelap saat perutnya keroncongan. Ini lebih baik daripada pulang.

Tidak terasa waktu telah petang. Senja terlihat berwarna violet, lebih indah hari ini. Aini terbangun tanpa tersentak. Ia dibangunkan oleh alam yang tulus mencintainya. Ia duduk sambil menghela nafas perlahan. Lalu tersenyum membalas pandangan kedua sapinya.

"Ayo kita pulang, Bonsai dan Bebok." Panggilnya kepada hewan-hewan itu.

Diperjalanan banyak anak-anak sedang berlari untuk pergi ke balai ngaji. Mereka tertawa dan saling merangkul menandakan sebuah persahabatan yang menyenangkan. Itu mengingatkan Aini pada Burhan anak laki-laki pak Rusdi, pemilik kebun sawit hingga dua puluh lima hektar.

Burhan, sudah pergi ke Amerika untuk malanjutkan studi kedokteran. Sedangkan ia, gadis yang hanya menghabiskan banyak waktu di ladang dan menggembala sapi.

"Woi hitam. Baru pulang." Panggil Kendis dari belakang.

Aini sempat menghentikan langkahnya, panggilan itu akhirnya ia tepis dengan pura-pura tidak tahu. Kendis memang cantik, tetapi sayang sikapnya yang sering melukai perasaan orang lain terutama Aini menjadikannya seorang gadis hanya sebatas paras, namun tidak baik dari hatinya.

Kendis terus menerus mengejeknya. Aini sudah terbiasa, lagipula yang dikatakannya juga ada benarnya. Sebentar lagi juga ibu tirinya akan menghujatnya. Rumah bertingkat dua itu terlihat tidak jauh lagi.

Bercat kuning Dove dan dipagari dengan kenopi berukiran bunga mawar. Di sampingnya, terlihat kandang dan Aini akan lebih dulu masuk ke sana.

"Sudah pulang kamu?" Tanya bapak yang baru pulang dari gudang beras.

"Sudah pak." Jawabnya sambil mencium tangan pria tua itu.

"Lelah sekali kamu. Masuk dan makan dulu. Sekalian ada yang ingin bapak sampaikan."

Aini menatap sayu wajah ayahnya. Ia pun menjawab dengan raut wajah tersenyum yang dipaksakan. Ibu duduk bersama Irna di sofa ruang tamu. Melihat Aini yang kucel dengan setelan baju petani dipandang sebelah mata oleh kedua-duanya.

Dengan perut lapar segera ia buka penutup makanan di meja makan. Hanya sepotong tempe dan tahu tersisa untuknya. Seingatnya, tadi pagi ada ayam direndam di kamar mandi. Tapi sudahlah, ia sudah biasa dengan apa adanya.

Baik baju, makanan, dan haknya sebagai seorang anak perempuan. Irna sama jahilnya seperti Kendis, suka menumpahkan makanan dan nanti akan dituduhkan kepada Aini. Gadis itu hanya bisa diam. Pernah ia berontak, tetapi jantung bapak lemah dan khawatir akan meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Setelah makan, ia membersihkan diri. Lalu menuju ruang tamu untuk berkumpul.

"Jadi begini Aini, adikmu Irna akan dilamar orang." Wajah Aini berubah sumringah mendengar kabar itu.

"Alhamdulillah pak. Saya turut bahagia."

"Memang kayak kamu yang belum menikah sampai usia sekarang." Irna menatap hina pada Aini.

"Sudah...sudah. Maksud bapak bukan hanya tentang itu nak. Bapak juga mau menanyakan kamu. Apakah sudah ada pria yang mendekatimu?"

"Belum pak."

"Gadis hitam, dekil, mana ada yang mau." Jawab Tuti ibu tirinya. Lagi-lagi Aini hanya bisa diam mendengar itu.

"Ibu hargai Aini dong. Diakan anak kandung bapak. Sayangi dia seperti Irna."

Mendengar ucapan itu, Tuti menunjukkan wajah bodoh amat dan langsung menutup mulutnya. Terkadang, Pak Rudi merasa bersalah telah memberikan ibu tiri yang terus mengintimidasi Aini. Namun, mau bagaimana lagi.

Awal-awal semua orang berhati busuk akan menunjukkan kebaikan palsu mereka pada orang lain, termasuk pada Aini.

"Saya tidak apa pak dilangkahi. Saya senang adik saya menikah. Saya tidak mempermasalahkannya. Tidak perlu pelangkah."

Bapak semakin iba melihat putri berhati malaikat itu. Banyak cobaan telah dilimpahkan tuhan padanya.

Sejak kecil dilahirkan dengan susah payah sampai tiga dokter yang menangani, usia dua tahun jatuh dari ayunan dan membuat kepalanya cidera sehingga lambat dalam menangkap setiap informasi.

 Lalu tak lama setelahnya, ditinggal ibu kandung dan sekarang harus menghadapi lingkungan kejam. Tetapi, hatinya begitu tangguh, segala terpaan masalah sanggup dihadapi dengan lapang dada. Tanpa keluh kesah dan dendam.

Lihatlah fisiknya, gempal dan berkulit gelap. Rambutnya keriting dan pendek. Tetapi, siapa yang mampu menerima pahitnya hidup seperti Aini. Ia adalah manusia terpilih dan akan menjadi wanita berwajah bidadari.

Tahajud rutin dan membaca Alquran dengan suara merdu, membuat ayah selalu rindu. Tepat, dua tahun kemudian, Aini pergi selamanya setelah pernikahannya dengan Burhan dan melahirkan seorang putra tanpa Aini karena meninggal kehabisan darah.

"Aini, kunamakan anak kita Muhammad Saleh ya. Meski kamu sudah tiada, aku bahagia sepanjang hidup." Ucap Burhan dan mencium kening istrinya untuk terakhir kali. Aini. []

BIODATA SINGKAT: Damay Ar-Rahman atau Damayanti, M.Pd., alumni Universitas Malikussaleh dan IAIN Lhokseumawe.  Sehari-hari mengajar, tenaga administrasi, dan sebagai penulis lepas. Memiliki karya Solo berupa buku puisi Aksara Kerinduan 2017,  Serpihan Kata 2018, Senandung Kata 2018, Kumcer Bulan di Mata Airin 2018, Dalam Melodi Rindu 2019, novel Akhir Antara Kisah Aku dan Kamu 2020, Di Bawah Naungan Senja jilid 1&2, dan Musafir 2022. Tulisannya  dimuat oleh surat kabar lokal, nasional, Indonesia dan Malaysia baik dalam bentuk cetak maupun daring. Beberapa kali mengisi kelas menulis dan narasumber sastra. Berdomisili di Lhokseumawe, Aceh. Ig/FB damay_ar-rahman, Hp/WA: 082274515668, alamat Panggoi, Kecamatan Muara, Kota Lhokseumawe, Aceh. 


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.

 

Editor : Nur Wachid
#lhokseumawe #aceh #cerpen #Damay Ar Rahman #Malaikat Berwujud Manusia #lawu #musafir