Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

HARI-HARI YANG PANJANG

Nur Wachid • Senin, 5 Februari 2024 | 15:35 WIB
(ILUSTRASI: DANI ERWANTO/JAWA POS RADAR CARUBAN)
(ILUSTRASI: DANI ERWANTO/JAWA POS RADAR CARUBAN)

Oleh: Yeni Kartikasari

 

Dinamo dipacu kuat. Mesin jahit menderu-deru. Dari kejauhan, Mariyem berteriak kencang. Suaranya serak, menggerong, dan nyaris tercekik. Hani geram, tapi ia mencoba tak hirau. Matanya terus menatap gerak naik turun jarum jahit. Terus ditatap sampai benang-benang terkait di atas kain. Beberapa saat, terdengar pintu digebrak dan lemparan barang-barang alumunium.

“Han!” pekik Mariyem. Bagi Hani, mertuanya terlalu berisik. Jika harus dibandingkan, orang itu serupa kambing-kambing yang mengembik atau sekawanan bebek yang mengoek di samping rumahnya.

“Mimpi apa, Sudar bisa kawin sama kamu!” cercanya keras-keras. “Kerja terus! Kerja terus! Pergi sana!”

Suara itu membuat kaki Hani berpindah dari dinamo. Selama ini, Hani tak pernah merasa diusir, meski berkali-kali Mariyem menyuruhnya pergi. Mendiang suaminya yang dulu terkena asam lambung akut selalu meyakinkan bahwa hati ibunya akan luluh seiring waktu berjalan. Sebagaimana yang diyakini oleh Sudar, Hani juga percaya bahwa cinta dapat mengalahkan banyak hal; kebencian, kekecewaan, dan berbagai keburukan. Hani menguatkan dirinya. Ia berjanji menjaga kesetiaan pada keluarga Sudar, meskipun ia kerap disisihkan.

Teriring keluh Mariyem yang tiada habis, terbayang di benak Hani, masa-masa memuakkan sejak ia menginjakkan kaki di rumah Sudar—rumah yang sampai saat ini tak pernah memberinya kenyamanan.  Hani merasa keberadaanya sebagai istri masih terkalahkan dengan keistimewaan mantan kekasih suaminya. Ia teringat, bagaimana Sudar dulu pernah bercerita tentang seorang perempuan yang kerap datang ke rumahnya. Ibunya sangat senang dengan onde-onde, molen, dan roti goreng yang dibawanya. Terlebih, saat perempuan berambut lurus itu, membawakan daster dan beberapa pakaian dengan model terbaru. Kelewat gembira, ibunya sering membelai, memuji, dan memasak ayam goreng, lalu menyuapi kekasihnya itu. Sudar risi, sebab ia tak mencintai kekasihnya sepenuh hati. Ketika ibunya berharap menyegerakan pernikahan, permintaan itu ditolak terang-terangan. Ia menjelaskan bahwa perempuan itu hanya bisa dijadikan pacar, bukan istri.

“Aku juga tidak pantas.”

Hani mengingat kalimat itu. Kalimat yang sering ia ucapkan berkali-kali sejak Sudar hendak melamarnya. Kini, Kalimat itu seperti bergema—menambah berisik suara-suara di kepalanya.

Hani tak bisa lupa, di hari ketika ia diajak ke rumah dan dikenalkan sebagai pendamping hidup, Sudar meyakinkan Mariyem, bahwa dibandingkan dengan mantan kekasihnya, Hani lebih mengetahui cara mengurus rumah tangga. Namun, pertama kali melihat, Mariyem justru bermuka masam. Hal itu bukan karena Hani tak menawan, melainkan saat itu, Hani membawa sawi sebagai buah tangan. Mariyem membenci sawi dan semua jenis sayur yang memiliki rasa pahit. Ia menganggap Hani tak pengertian. Mariyem hanya duduk sekilas, kemudian pergi ke pekarangan. Sat itu, Hani sempat berpikir, jika calon mertuanya tak menyukainya, hidup yang ia jalani akan diliputi banyak masalah. Ia merasa akan sulit bahagia, apalagi ketika Mariyem mengetahui rahasia besar yang disimpannya.

Menjelang pesta pernikahan, kegaduhan terjadi di ruang tamu. Mariyem memaki para perewang karena daging rawon yang dimasak masih alot. Ia memanggil Sudar, bertanya keberadaan Hani, lantas memberitahunya bahwa kemungkinan besar Hani tidak bisa memasak. Ia memegang daging itu sambil mengatakan bahwa setiap orang yang memasak harus memiliki ilmu. Ia menjelaskan proses pengolahan daging yang benar; dimulai dari cara pemotongan sampai langkah-langkah perebusan. Mariyem bersungut-sungut. Ia khawatir, jika setelah menikah, Hani tak mampu mengurus rumah tangga. Di malam itulah, Mariyem menguliti keburukan calon menantunya dan mengenang kebaikan mantan kekasih anaknya di hadapan tetangga dan saudara yang menginap di rumahnya. Ia merendahkan pekerjaan Hani. Baginya, gaji guru sangat tak layak dan upah menjahit teramat sedikit. Hani mengetahui perkara ini, sebab Sudar telah menceritakannya setelah menikah. Meski disampaikan dalam bentuk lelucon, ada satu pernyataan yang sempat membuatnya tertegun; Mariyem mengatakan bahwa ia bukan menantu idamannya.

Kini, Hani menginjak dinamo sekencang-kencangnya untuk mengimbangi suara mertuanya. Hani sudah bosan mendengar omelan Mariyem. Ia berpikir, meladeni mertuanya sepanjang waktu sama dengan menghabiskan hidupnya untuk hal tak berguna. Saat Sudar masih ada, Mariyem tak pernah memakinya secara langsung. Ia hanya menunjukkan muka masam, tak bertegur sapa saat bersimpangan, dan sengaja menaruh barang-barang dengan keras. Hal paling parah hanyalah saat Mariyem tak mau memakan masakannya. Hani tak bisa lupa ketika satu panci sayur lodeh buatannya berceceran di meja. Meski tidak melihat penyebabnya, Hani bisa menerka bahwa mertuanya sengaja menumpahkannya. 

Mula-mula, Sudar merayu ibunya supaya tidak bertingkah seperti itu. Ia memohon agar Mariyem menganggap Hani seperti anak kandungnya sendiri. Tetapi, Mariyem terus menolak. Bila Hani berangkat mengajar, Mariyem mendekati Sudar untuk membicarakan kekurangan Hani; telat menjemur pakaian, mencuci piring tak bersih, menumpuk cucian di dekat kamar mandi, atau kebanyakan menakar garam dalam masakan. Kemungkinan-kemungkinan perilaku menyimpang di sekolah turut diucapkan; Hani memiliki peluang besar untuk selingkuh. Saat Sudar merasa perbuatan ibunya kelewat batas, suatu kali ia menegur ibunya dengan lantang. Percekcokan pun terjadi. Tangis Mariyem meraung-raung dan menyebut Sudar telah durhaka. Sejak saat itu, asam lambung Sudar kerap kambuh, sementara penyakit jantung yang semula dideritanya tak kunjung membaik. Ia tak bisa lagi mencetak batu bata di pabrik. Atas permintaan suaminya, Hani tak lagi mengajar di sekolah, ia beralih menjahit di rumah.

Mujur bagi Hani, pelanggan membludak di tahun ajaran baru. Ia menerima jahitan seragam sekolah dan berbagai baju dinas. Hampir setiap hari ia melayani orang-orang, hingga kresek-kresek berisi kain menumpuk di ruang tamu—menunggu antri diproduksi. Belum lagi, saat para tetangga membawa pakaian untuk dipermak dan ditunggu saat itu juga. Karena kesibukannya, ia kerap terlambat memasak sarapan, mencuci pakaian, atau mengepel lantai. Hani pernah terkena omelan Mariyem karena keadaan rumah semakin berantakan. Barangkali karena merasa geram, tanpa sepengetahuan Sudar, Mariyem pernah memutus aliran listrik di mesin jahit Hani, hingga Hani tak bisa bekerja. Wajar, apabila Hani merasa lelah. Terkadang, ia berniat mengeluh di pangkuan suaminya, tetapi diurungkan. Hani percaya suaminya akan sembuh dan dapat menafkahinya seperti semula. Ia berpikir harus terus bekerja keras.

“Dasar mandul!” pekik Mariyem. Kata-katanya terbang bersama angin, melintasi dinding, dan menabrak telinga Hani.

Secepat mungkin Hani menghentikan laju mesin jahitnya. Ingatanya berlarian dan tertuju pada satu titik di mana Hani pernah bertanya kepada Sudar tentang kebencian ibunya. Sudar pernah menegaskan bahwa cinta tak selalu ditunjukkan lewat hal-hal menyenangkan, sebagaimana Hani tega menggunting kain-kain bermerek untuk dibuat pakaian yang indah, luka di hati Hani dan goresan di antara serat kain, tak ubahnya hanya rasa sakit sementara. Sudar bilang Hani hanya butuh satu keyakinan untuk melapangkan hatinya.

Hani berdiri, berlari ke dapur. Mengintip dari celah gorden, panci-panci tergeletak berserakan di lantai. Melihat mertuanya menangis, air mata Hani menggenang di pelupuk.

“Dasar mandul!” Sesal Mariyem sambil sesenggukan. “Ibu juga pengen nimang momongan,” ia diam sejenak. “Kenapa kau tidak bilang dari dulu?”

Bayangan Hani tertuju pada peristiwa kesepakatan mereka dulu. Hani mengingat saat Sudar mengungkapkan masalah kesehatannya. Tak hanya penyakit jantung, ususnya telah terinfeksi, dan salah satu ginjalnya tak berfungsi. Penyakit itu menggerogoti organ dalamnya akibat pola makan yang buruk. Selain itu, aa kerap begadang dan menenggak minuman keras bersama teman-temannya. Hani menerima luapan hati Sudar dengan lapang, sebagaimana Sudar menerima kenyataan bahwa Hani tak bisa memberikan keturunan.

“Bu?” Hani menyibak gorden. “Saya mencintai Mas Sudar dan menerima semua kekurangannya.” Suaranya bergetar dan semakin lirih. “Nikah gak harus punya anak, Bu!”

“Tapi ibu juga gak suka kamu kerja terus!” sergah Mariyem.

“Kalau aku gak kerja, siapa yang dulu bantu nebus obat Mas Sudar, Bu?”

“Kau pikir ibumu ini miskin?”

Mariyem membisu. Begitu juga Hani. Embusan udara dari jendela seketika terasa dingin di tubuhnya. Hani menarik napas panjang, meninggalkan ruangan itu.***

 

BIODATA SINGKAT: Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo. Dapat disapa melalui Instagram @yeni_kartikasarii. 


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.

Editor : Nur Wachid
#cerpen #Yeni Kartikasari #hari yang panjang #sastra #ponorogo