Tanpa berkata kau sudah bercerita, cara dua jarimu menggamit cerutu. Ketika kautarik lembut dari bibirmu, kau seakan memintaku untuk memandangnya lekat-lekat.
Cerpen: Warok Sutejo
AKU terkejut, ketika lelaki itu bercerita kepadaku bahwa ada pengalaman yang tak terduga jika di balik puntung rokok itu ada rindu. Apa hubungannya? Benar-benar ia menjelma sihir yang mengipnotis, katanya, menyugesti bawah sadar, memijarkan imajinasi ke sembarang waktu. Tidak saja bagi lelaki itu tetapi juga bagiku yang mendengarnya.
“Jika kauizinkan, aku akan simpan bekas puntung rokok itu.” rajuk si perempuan.
“Untuk apa?” tanya lelaki itu menyelidik.
“Pada saatnya, kau akan mengerti.”
Itu percakapan terakhirnya, setelah sepuluh musim sudah berganti, tak ditemui lagi wajah si perempuan. Senyum si gadis senyap di telan waktu, lindap di imajinasi lelaki itu.
***
Kita pernah merokok bersama, hanya beda merek. Kita punya kegilaan sama: tamasya di liuk asap. Katamu, di situlah kita sering bertemu. Kubayangkan dirimu menari, aku penontonnya. Kaubayangkan aku bersyair, kau penikmatnya. Setelah itu, asap-asap rokok itu berpelukan dalam senyap. Lanntas kita pun diam.
Kita duduk berdua, di depan gedung pementasan baca puisi itu, lengan kananmu kautindihkan di paha, sambil meminta, “Nyalakan api untukku, Mas!” Aku tergagap. Di imajinasiku kaubilang, “Nyalakan api cintaku, Mas.” Gila, benar-benar gila! Tanganku spontan melakukan seperti permintaanmu tetapi korek gas itu menyala begitu besar; sehingga mengejutkan kita berdua. Kala itu, kautindih paha kiriku keras-keras, sambil bilang, “Kaukejutkan aku saja, Mas.” Aku tak sengaja kan, bagaimana biasanya korek gas api yang biasa kupakai tak pernah sebesar itu menyala.
Aku sangat tersiksa ketika menyalakan kretek kesayanganmu, mataku terpasung pada cerutu yang menggantung di bibirmu, tepatnya lagi ketika kedua bibir mungilmu menjadi pangkalnya: aku bisa bayangkan gamitan kedua bibir itu. Tiba-tiba saja, aku bermimpi jadi cerutu, bergerak-gerak kecil, melompat, dan berlari menggoda. Lipstik tipismu berbicara tentang karakter lembut sebagai penari. Kretek-cerutu itu kemudian menari-nari lembut, kaulupa tak membayangkan aku jika cerutu itu menari-nari pelan menggantikan kau menari. Kuberitahu ya, aku sungguh sangat tersiksa malam itu, kepalaku berkelejatan, selusin kenikmatan semu, susah aku menceritakan; benci, sangat benci aku kepadamu; tetapi aku rindu situasi itu.
Tanpa berkata kau sudah bercerita, cara dua jarimu menggamit cerutu. Ketika kautarik lembut dari bibirmu, kau seakan memintaku untuk memandangnya lekat-lekat. Sejurus aku hanyut pelan. Kala jarimu menarik cerutu itu, kauhembuskan asap ke udara, meliuk-menari, aku membayangkan kau gemulai lembut menggerakkan tarian erotis yang menyiksaku. Menggoda. Berulang-ulang, aku menikmati bagaimana kaugamit, jarimu menarik lagi, hingga melepaskan asap eksotik itu lagi.
Saat kautarik cerutu itu terjepit di jarimu, ah, nakalnya tanganmu kautindihkan di paha kiriku. Aku khawatir, letupan apinya jatuh mengenai celana kesayanganku. Sama sekali, kau tak mengkhawatirkannya, aku berhati-hati mengamatinya, jika sewaktu-waktu api rokokmu jatuh, secepat kilat akan kutepis dengan lembut tangan kiriku. Aneh, aku khawatirkan jika itu menyinggung perasaanmu.
Sementara, sejumlah penyair yang membersamai kita, hampir semuanya tak ada yang menyalakan api bergantian. Hanya kau yang meminta bantuan menyalakan rokok itu. Mereka asyik dengan perbincangan masing-masing, sesekali pula masuk ke perbincangan kita. Sama sekali aku tak fokus pada dialog yang melebar mereka itu, aku terhipnotis pada gayamu merokok. Sesekali aku mengalihkan pandangan satu persatu ke wajah teman-teman penyair itu: ada Marhan yang turis, Munajati yang genit, Hamdan yang kebapakan, Mawarti yang montok, Radar yang berbinar mata, Pujiharman yang dermawan, Kundari yang berhati, dan Matajiwa yang bergaya orang kaya.
Tak ada satu pun di antara mereka curiga pada imajinasiku yang berkelejatan, melompat, dan substil kejam ke dunia paling erotis. Aku ganti memintamu menyulut rokokku karena rokok putihanku telah habis beberapa waktu lalu. Jelas, cerutu berkelasmu awet, jauh lebih lama menghabiskannya dibanding rokokku. Bisa satu dibanding tiga batang jika diukur waktu lama menghisap. Aku berpikir, kau adalah perempuan ekonomis, karena sebungkus rokok kita harganya hampir sama, sehingga perbatang tentu harga ecerannya tak jauh berbeda.
Tangan kananmu agak nakal, sikumu kauletakkan di paha kiriku, kemudian kauminta agar kepalaku menunduk menuju api yang kaunyalakan. Bukan kauikuti arah bibirku yang menggamit sebatang rokok tetapi aku yang kauminta mengikuti arah api yang kaunyalakan. Hem. Aku membayangkan kau perempuan kreatif dan itu kutahu, dari caramu menyalakan korek api untukku. Pun, cara kaumain-mainkan batang rokok cerutu yang masih panjang, cara menghisapmu, serta beberapa adegan melepaskan asap lembut, lepas begitu pelan dari bibir mungilmu.
***
Kini waktu menjadi hakim yang paling menakutkan bagiku, memutus dan melemparku di rentang lehernya yang panjang. Kini kurindui pertemuan itu kembali.
Saat-saat seperti itu di mana lagi sayang, kapan lagi. Sepuluh musim bukan waktu yang pendek kan? Aku menunggu. Teriris sembilu rindu di leher waktu. Tega, begitu tega dirimu. Aku tak bisa lupa, gayamu menghisap cerutu kesayangan itu. Hal itu sering kaulakukan dulu, 5 atau 10 menit sebelum kaunari. Asap itu punya energi menggerakkan lembut gemulai tanganmu. Aku juga masih ingat, selendang kuning emas atau merah menjadi penawanku.
Kau di mana, ke mana.
Mengapa musik tradisional pengiring tarianmu itu sering kudengar samar dalam kesendirianku. Saat seperti itulah, kuhabiskan berbatang-batang rokok putihan, bukan cigaret sepertimu. Kadang di depan rumah kontrakan, sambil memandangi kesederhanaan lincak di ujung emper, sisi kanan di mana kita sering menghabiskan waktu. Masih ingat kan, kaukunjung ke kontrakan itu? Ketika kita masih relatif muda, aktif dalam selancar pementasan puisi, juga pementasan tari. Kausertai aku dalam beberapa pementasan. Sementara sebagai imbalan kekerabatan hati kita, aku selalu hadir dalam pementasan tari yang kaulakukan.
***
Ketika masih bersama, kita sering bercakap tentang budaya Jawa, weton, pitutur luhur, hakikat agama, keluarga, etika, cinta, dan perselingkuhan. Aku terkejut ketika kautanya, “Apakah yang kita lakukan ini masuk selingkuh?”
Aku menggeleng, tak tahu. Bukan mengangguk tanda tahu. Sesaat pertanyaan itu, sangat mengacaukan pikiran. Seakan kausadarkan aku, jika aku telah punya istri dengan dua orang anak yang masih kecil, ketiganya selalu menunggu kedatanganku kembali ke rumah.
Sementara, kutahu kau seorang janda, dua kali berpisah dari suami secara dramatik. Kedua suamimu terbakar cemburu, memintamu mengurangi aktivitas keluar, pementasan tari, juga pada aktivitas pembacaan puisi. Kautolak. Kaubilang ingin jadi ‘burung dara’ yang tetap bebas meski telah terkurung dalam sangkar. Kauminta kebebasan itu atas nama pengabdian dan panggilan jiwa seni. Ketika kau menceritakan itu padaku, aku takjub, heran, menggeleng berat, kemudian berhenti dan mengangguk. Dari situ, kutahu bagaimana kau perempuan tangguh yang siap menanggung apa pun risiko ekspresikan kegilaanmu pada dunia tari dan puisi.
Bukankah kita sering nyaman kala bersama, bercerita dari pangkal ke ujung hingga larut waktu usai sebuah pementasan. Entah kau atau aku yang pentas. Dari hulu ke hilir pertemuan, hingga kita tertawa aneh, mengapa itu bisa terjadi. Kau sangat menghargai istri dan anak-anakku, kau hanya mengisi di sela-sela waktu pertemuan demi pertemuan itu. Istriku sama sekali tak curiga kepadamu, bahkan kaumanggil Mbak, istriku mengganggapmu adik temu gedhe. Kau seperti sebuah bidak catur yang cerdas, mampu menempatkan diri dengan permainan yang cantik. Sebuah langkah-langkah kuda yang menipu permainan lawan.
Kala kita berbincang hingga larut malam, kita pulang dengan berat langkah, kita seperti memanggul beban masalah masing-masing. Aneh, ketika kita saling berkisah, semua itu sirna. Kita sering gelisah saat berpisah. Sekadar bercakap sudah terlalu cukup mengobati kerinduan yang kadang datang selaksa taufan. Kauakui itu kepadaku, kuangguki sebagai kejujuran seorang lelaki yang berterima kasih karena selama ini romantisme itu kaulah yang mengisinya, bukan istriku.
Kini, rasanya aku seperti tertimpa bencana. Angin taufan disertai puting beliung, dan hujan deras yang mengirimkan banjir bandang sehingga lumpur-lumpurnya membekas hebat. Itulah metafora keberadaanku usai engkau tak datang lagi, mendampingi kesepianku yang semakin kejam. Mencandu.
Kapan kautolong aku jika semua itu tak mungkin kaulakukan karena kutahu aku tidak lagi tahu keberadaanmu. Nomor yang kauberikan dulu tak lagi aktif. Kejam. Aku hanya bersahabat asap. Rokok kesayanganku menghentakkan kangen. Sesekali aku membeli rokok cigaret kesukaanmu dan kubayangkan itu kamu. Aku masih ingat pada sebuah sela pentas kaubilang, “Cara menghisap rokokmu itu unik Mas, beda dengan umumnya lelaki perokok. Apa itu karena dirimu penyair sufi?” Hem. Aku benar-benar tersanjung oleh dua kalimat itu. Seperti kalimat pembaptisan, pengakuan, pemujaan, dan pengeramatan.
Aneh, aku tiba-tiba ingat awal mula kita dekat, pertama-tama kita saling mengagumi cara kita merokok dalam beberapa pertemuan di pementasan baca puisi. Kita saling silang bermain lingkar asap, kita tarungkan. Asap siapa yang kalah, pemiliknya dihukum dengan ciuman. Hem, kita memang gila saat itu. Padahal kita saling tahu jika kau perempuan dan aku laki-laki. Kau janda dan aku seorang suami yang telah beristri dengan dua anak. Aku kesepian, kau kesepian. Saling mengisi fragmen-fragmen paling subtil di antara kedua jiwa. Mungkin, itu salah satu sebab kita saling rindu untuk merokok bersama.
***
Suatu senja, di halaman kampusku, aku benar-benar diranjam rindu hingga ke sunsum-tulang. Konyol, aku lupa ada jam mengajar, tepatnya terlambat cukup lama masuk ruang kuliah. Mahasiswa pun bertanya, “Mengapa terlambat, Pak?” Aku gelagapan. Aku rasa pertanyaan itu sindiran keras, karena aku baru sadar jika mereka mengetahuiku melamun di bawah pohon Palem, di taman kampus itu. Aku ingat, kau pernah berkunjung ke kampusku, kita berbincang di bawah pohon Palem, yang paling kuingat sorot tajammu menyatakan kekaguman, “Hebat Mas, kau bisa melahirkan penulis di kampus kecil seperti ini. Melahirkan penyair itu susah lho tetapi dari kampusmu sudah belasan penyair. Ada di antara mereka yang merangkap wartawan, ada pula yang merangkap guru berprestasi nasional.”
Pohon Palem itu menjadi motivasiku bekerja, ngampus, dan tentu terus istikomah menulis. Sesekali opini, resensi, cerpen, dan puisi. Aku masih ingat, kaukalungkan penghargaan di leher jiwa sambil berkata, “Jarang lho Mas, orang sekomplit kamu kemampuan menulisnya, beragam produk tulisannya. Setahuku, baru dirimu.”
Karena itu, maafkan aku.
Adelia, aku telah mengabadikan jejakmu, bekas kata-kata, tajam mata pada sebatang Palem paling barat di taman kampus itu. Di bawah Palem itu kita duduk santai, kala itu, sambil mengamati gerbang kampus, tempat mahasiswa keluar masuk. Kita sama sekali tak risih terhadap pandangan mereka yang kadang-kadang terpaku kepada gerak-gerik percakapan kita. Seperti remaja masyuk di telaga asmara.
Aku memasuki ruang kuliah dengan berat langkah, terbebani belasan imajinasi yang saling silang. Yang paling banyak adalah lintasan imajinasi tentangmu. Di ruang kuliah itu, kutemukan sejumlah mahasiswi berwajah dirimu. “Gila, sungguh gila benar pandanganku ini. Tak mungkin, tak mungkin!” teriak batinku. Aku mengajar setengah ketakutan. Gemetar, aku menakutkan, jangan-jangan aku menceritakan ikhwalmu di ruang kuliah. Kehadiranmu di kehidupanku telah menjadi penguasa baru. Apalagi, semester ini di kelas yang kumasuki, aku sedang mengajar Menulis Kreatif.
Baca Juga: Segelas Kopi pada Suatu Malam Minggu
Aku tergagap, ketika mahasiswa bertanya, “Mengapa terlambat, Pak?” Aku ingin menipu, kemudian kutemukan akal, yang paling rasional menjawabnya, “Aku sedang memikirkan tema apa, sumber ide-ide menarik apa, yang bisa kalian eksplorasi jadi materi menulis kreatif. Kemudian, satu contoh cerpen menarik yang kena di imajinasi kamu. Ada sebuah cerpen menarik lho, dan aku mengenal betul cerpenisnya.” Mereka girang bukan kepalang ketika kucontohkan bagaimana asap rokok bisa mengilhami seorang cerpenis untuk menuliskan cerpennya.
Mereka terpukau, penasaran, “Judulnya apa, Pak?”
Kujawab dengan rileks, “Puntung Rokok.”
“Karya siapa?”
“Seorang penari cantik dari Surabaya.”
“Bisa menulis cerpen juga?”
Aku mengangguk.
Aku ingat, puntung rokok yang akan kubuang tetapi kau minta, “Aku ingin menghisapnya sekali dua kali sebelum kau buang, Mas.”
Aku ingat pertemuan demi pertemuan kita tetapi bergerak bak kilat super cepat. Seperti kilatan petir menyambar kepala. Ruang kelas berubah hening. (*)
Tajuk, 2019-2022
BIODATA SINGKAT: Sutejo, budayawan dan sastrawan lahir dan tinggal di Ponorogo.
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.
Editor : Nur Wachid