Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Jembatan Mbah Guru

Nur Wachid • Sabtu, 6 Januari 2024 | 20:22 WIB

(ILUSTRASI: DOKUMEN JAWA POS RADAR MADIUN)
(ILUSTRASI: DOKUMEN JAWA POS RADAR MADIUN)

Namun sepeninggal generasi-generasi tua di Desa Selasih, ritual tersebut jarang sekali bahkan sekarang tidak pernah digelar lagi. Mereka sudah lupa dengan semua itu, mereka menganggap itu hanya tahayul saja.

Penulis: Andri Istiyawan

Meratapi birunya langit diantara jentera mentari di tengah mega merayu menarikan kelestarian dan ketakjuban kuasa Tuhan. Kerumunan lebah menari-nari mengisap kembang bakung mendonorkan sari-sari kehidupan menasbihkan geliat masa depan bersama kebijakan lebah penuh teladan.

Sementara semak alang-alang berkolaborasi dengan kuatnya akar Teki membangun koloni perdu sendu memandang pilu sosok bimbang diawang-awang pangkuan tangan menyangga dagu. Laki-laki dengan peci putih menghiasi hitam rambut yang mulai tumbuh jarang disapu peluh keringat penuh sesak pikir. Tangan dengan setia menopang dagu menerawang jauh ke dalam kubangan air kali sedikit jernih berhias carang-carang bambu kuning sisa banjir sepekan lalu.

Sudah hampir separuh perjalanan mentari, dia duduk penuh harap di tepian kali di ujung jembatan tua peninggalan Jepang yang orang desa menyebutnya “Jembatan Mbah Guru”. Seluruh pikir seakan-akan tertumpah pada retakan pondasi jembatan tua yang menjadi denyut nadi perekonomian Desa Selasih, sebuah desa kecil di ujung kecamatan terpinggir di lereng Gunung Balong.

Laki-laki penuh gundah dan berusaha menganyam asa tersebut adalah Pranoto, lurah baru di desa itu. Seandainya dia bisa berbicara dengan jembatan tua tersebut, tentu dia akan merayu agar tetap kokoh berdiri walau badan mulai terasa rapuh. Namun, apalah daya Pranoto hampir seharian menatap namun tak ada jawaban. Seandainya kupu-kupu cantik terbang menghinggapi dia bersama segunung solusi jitu memecahkan masalah pelik tentang jembatan tua yang sudah stadium akhir kerusakannya.

Benak dan naluri melayang-layang bagai kapas yang diterpa angin. Hanya melambung beranjak kesana kemari tanpa menemukan alur pasti. Pikir dan lamunannya mencoba membuka-buka segala memori soal perkataan-perkataan orang yang selalu dijumpai tiap hari. Lembar pertama memoarnya tertuju pada Kyai Jogo Wibowo, ulama sepuh di Desa Selasih. Ulama sepuh sekaligus tempat rujukan orang-orang desa ketika mencari solusi semua ihwal permasalahannya. Memang sangat matang tentang seluk beluk Desa Selasih, terhitung sudah 95 tahun beliau menghabiskan waktu di Desa ini.

Pranoto teringat kala masih belia dulu, dia adalah salah satu santri Kyai Jogo Wibowo. Pada suatu malam ketika malam selasa kliwon bertepatan dengan malam satu syuro. Semua santrinya diajak untuk wiridan dan lek-lekan guna menyambut satu syuro.

“Santri-santriku yang diberkahi Gusti, podo elingo yen cikal bakale Desa Selasih jadi desa yang maju begini tidak luput dari jembatane Mbah Guru!” ucap Kyai penuh bijak.

“Nyuwun Sewu, ada apa dengan jembatan itu Kyai?” tanyaku penasaran.

Dulu hasil panen penduduk desa tidak bisa disalurkan ke kota, begitu juga kebutuhan warga desa tidak sepenuhnya terpenuhi dengan maksimal lantaran tidak ada akses masuk ke Desa Selasih yang mudah. Kali itu dipenuhi buaya-buaya liar yang ganas, jadi jarang yang berani menyeberangi kali tersebut. Akhirnya Mbah Guru seorang pinisepuh desa atau akuwu mempunyai gagasan untuk membangun jembatan guna memperlancar akses masuk.

Sebelum membangun jembatan tersebut, Mbah Guru menjalani laku spiritual atau nglakoni laku tirakat selama empat puluh hari empat puluh malam. Mulai dari poso mutih selama tujuh hari, poso ngrowot, dan yang paling tinggi laku poso nglepas dengan cara tidak makan minum, serta tidak tidur selama tujuh hari tujuh malam. Dari laku tersebut, Mbah Guru mendapat wangsit untuk memulai pembangunan jembatan tersebut. Sebelum memulai membangun harus diadakan semacam selametan serta mengorbaankan sepasang kambing kendit yang ditanam atau dikubur di kedua sisi pondasi jembatan tersebut.

Akhirnya dengan gotong royong serta semangat kebersamaan jembatan yang menjadi nadi kehidupan Desa Selasih rampung dibangun. Mbah Guru sebagai penggagas pembangunan jembatan berpesan kepada seluruh warga desa untuk selalu mengadakan upacara brokohan dengan mengorbankan dua kambing kendhit pada setiap 1 syuro di jembatan tersebut. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga serta mengokohkan jembatan tersebut agar tidak lapuk dimakan usia.

Namun sepeninggal generasi-generasi tua di Desa Selasih, ritual tersebut jarang sekali bahkan sekarang tidak pernah digelar lagi. Mereka sudah lupa dengan semua itu, mereka menganggap itu hanya tahayul saja. Dunia sudah modern, untuk apa melakukan ritual-ritual kolot tersebut, hal itulah yang terlintas dalam benak warga desa sekarang.

”Mungkin yang mbahurekso jembatan tersebut murka atau meminta tumbal sehingga jembatan desa itu tidak kuat lagi, bahkan mau roboh sekarang?” telisik Pranoto dalam lamunan kesendiriannya di pinggir kali.

Namun pikiran tersebut masih belum menjadi keyakinan Pranoto. Sepengetahuan dia jembatan tersebut sudah direhab ketika presiden Soeharto mengadakan program Pelita III, beberapa puluh tahun yang lalu.

“Apa mungkin penunggu jembatan dari makhluk dunia lain masih tinggal di situ, padahal jembatan sudah dibongkar habis-habisan? Dari jembatan kayu sekarang sudah menjadi jembatan beton?” pertanyaan itu yang telintas di benak Pranoto untuk menambah ketidakyakinannnya.

Tak mau lama-lama memikirkan kemungkinan yang sulit untuk dilogika, akhirnya Pranoto melanjutkan membuka memoar menuju halaman keduanya.

Pikirnya mulai menapaki pengalaman-pengalamannya ketika masih menjadi pengepul pasir kali. Hal itu dijalani beberapa tahun yang lalu sebelum menjadi Lurah.

Sebagai orang yang memiliki jaringan luas di luar desanya, dia mempunyai gagasan untuk memanfaatkan peluang SDA yang ada di Desa Selasih. Jika musim panen belum datang banyak warga desa yang mencoba mencari atau menambang pasir dari dalam kali desa. Lama-kelamaan hasil tambang pasir tersebut melimpah ruah namun permasalahan baru ditemui. Masalah tersebut adalah tentang pemasaran pasir tersebut. Tidak mungkin mereka menjual pasir tersebut di penduduk desa sendiri karena sebagian besar berprofesi sama.

Beberapa warga desa yang memiliki jaringan di luar desa mempunyai inisiatif untuk memasarkannya, salah satu diantaranya adalah Pranoto. Akhirnya Pranoto menjadi pengepul pasir yang lumayan besar di desanya. Keuntungan yang didapatkannya juga besar. Dia bisa mendapat keuntungan lebih dari separuh harga pasir dari penambang. Kehebatan kualitas pasir Desa Selasih mulai tersiar di seantero Kabupaten. Warga pun tambah giat mencari pasir di kali.

Lama semakin lama pasir pun mulai berkurang, tinggal yang berada di dekat tiang beton peyangga jembatan Mbah Guru. Semula warga desa tidak berani atau merasa takut untuk mengeruk pasir di daerah itu karena jembatan itu dianggap sebagai jembatan keramat atau pepunden desa yang menjaga seluruh desa. Keadaan dan kesempatanlah memaksa warga berani mengeruk pasir di areal tersebut.

Perangkat desa pun seolah tak kuasa menahan keinginan warga desa apalagi setiap ada pembeli dari luar desa masuk ke desanya mereka selalu mendapat uang rokok untuk kelancaran kegiatan. Penambangan pasir semakin liar tanpa mengindahkan dampak yang ditimbulkan. Para wartawan pun mulai mengendus keadaan tersebut.

Berita mengenai keadaan tambang dan Desa Selasih mulai menghiasi koran, majalah, bahkan sampai ke stasiun televisi nasional.

Setelah Pranoto berhasil menduduki kursi Lurah di Desa Selasih, barulah ada sebuah gebrakan baru. Pranoto mengeluarkan Peraturan Desa bahwa untuk sementara waktu tambang pasir dihentikan karena keadaan sungai dan pasir mulai mengkhawatirkan.

“Mengapa Pak Lurah menghentikan atau melarang kegiatan kami? Bukankah dulu Bapak juga pernah menikmati hasil tambang ini?” Tanya seorang warga ketika tahu peraturan tersebut.

“Bukannya melarang kalian mencari pasir tetapi dihentikan dulu untuk sementara karena kalau kita lihat bersama keadaan kali dan jembatan Mbah Guru mulai rawan. Tanggul atau embong kali mulai terkikis apalagi jembatan mulai sedikit goyah kekuatannya. Jadi alangkah lebih bijak jika kita hentikan dulu pencarian pasirnya, kita tanami sekitar kali dengan pohon-pohon agar tanggul kembali kuat. Setelah itu kita bisa menambang pasir kembali, bagaimana para warga?” Jelas Pranoto.

Begitulah kebijakan yang diambil oleh Lurah Pranoto, untuk sementara waktu kali kembali aman. Namun belum tentu semua masalah akan berakhir. Kini ketika musim hujan datang masalah yang ditakutkan pun datang. Pranoto terbangun dari imajinasi tentang jembatan Mbah Guru.

“Wah tidak penting memikirkan mengapa jembatan itu mau roboh? Tetapi bagaimana cara memperbaikinya dengan secepatnya”, ucap Pranoto dalam batin.

Akhirnya Pranoto pun beranjak dari pertapaannya di samping jembatan. Dia bergegas pulang menuju rumah untuk beristirahat sembari memikirkan cara terbaik. Malam harinya dia berbincang dengan Jogoboyo Waskito. Waskito adalah tangan kanan sekaligus kolega akrab Pranoto dari dulu.

“Monggo diminum kopine Kang Waskito!” Ucap Pranoto menyilakan secangkir kopi pada Waskito.

“Enggeh Pak Lurah”. Sahut Waskito sambil menyeruput kopi dalam cangkir.

“Gini Kang, dari kemarin saya kepikiran mengenai jembatan Mbah Guru. Bagaimana tidak jembatan itu sudah rapuh untuk bisa digunakan secara terus menerus. Kalau banjir besar bisa-bisa roboh jembatan itu, kalau sampai hal itu terjadi maka desa kita ini akan mati kutu, akan jadi desa yang terisolasi kembali. Bagaimana caranya agar jembatan itu kembali kokoh lagi Kang?” Papar Pranoto.

“Memang berat permasalahan itu untuk kita pecahkan. Jika kita mau menggalang dana dari warga desa untuk membangun kembali jembatan rasanya itu hal yang mustahil, karena keadaan ekonomi warga lagi paceklik akhir-akhir ini” jawab Waskito.

“Saya punya usul begini, jembatan itu akan bisa diperbaiki jika kita bisa mempublikasikan keadaan ini ke pemerintah”.

“Tapi itu berat Pak Lurah, pemerintah kita sekarang acuh dengan keadaan seperti ini. Mereka cenderung asik berargumen untuk mementintangkan golongan serta kelompoknya masing-masing. Mana mungkin warga desa seperti kita ini akan digubris oleh pemerintah.” Papar Waskito.

Malam itu pembicaraan terus berlangsung dengan berbagai pendapat untuk memecahkan masalah jembatan Mbah Guru. Akhirnya ada sedikit titik terang dari hasil pembicaraan tersebut, yaitu harus mengundang semua elemen masyarakat untuk diajak bermusyawarah.

Esok harinya Pranoto pun mengundangi semua perangkat desa dan tokoh-tokoh masyarakat untuk rapat di balai desa pada malam harinya. Rapat tersebut akan membahas bagaimana cara terbaik untuk mengatasi masalah jembatan yang mau roboh tadi.

Banyak pendapat yang keluar, akhinya keputusan terbaik adalah dengan mengadakan kegiatan bersih desa bulan Syuro depan. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mendapat petunjuk dari Tuhan mengenai cara paling efektif agar Jembatan Mbah Guru segera direnovasi. Serta yang paling penting adalah tolak bala supaya masyarakat Desa Selasih yang akhir-akhir ini ekonominya tersendat karena kerusakan Jembatan Mbah Guru agar segera kembali normal. Kegiatan bersih desa yang dipusatkan di sekitar jembatan Mbah Guru. Kegiatan yang akan diadakan meliputi wayang kulit, panggung hiburan, dan doa bersama. Kegiatan tersebut rencananya juga akan mengundang Camat dan Bupati.

Waktu terus berjalan dan persiapan kegiatan bersih desa sudah rampung, kini waktunya perhelatan akbar Bersih Desa Selasih dimulai. Semua rangkaian acara diikuti oleh seluruh elemen warga Desa Selasih dengan meriah dan lancar. Kini tiba saatnya acara puncak yaitu pagelaran wayang kulit oleh dalang kondang Ki Karyo Wahyuning Mustiko. Pagelaran wayang malam itu mengambil Judul “Petruk Mbangun Kahyangan”. Bupati serta camat pun datang menghadiri acara tersebut. Pengunjung sangat banyak sekali semua tumpah ruah memenuhi lokasi wayang, bahkan sampai meluap di atas jembatan.

Semua pengunjung terhibur dengan suguhan wayang pada malam itu. Bupati juga memberikan sambutan dengan basa basi politik namun semuanya dianggap pas oleh warga desa. Akhirnya wayangpun sampai pada babak Goro-goro, semua pengunjung menunggu babak ini. Ketika Dalang suluk “Goro-goro” semua pengunjung berteriak dengan kerasnya. Semua panik dan berhamburan menyelamatkan diri.

Jembatan Mbah Guru tiba-tiba roboh dan menjatuhkan seluruh pengunjung yang berdiri di atasnya. Kejadian ini disaksikan langsung oleh Bupati dan seluruh pejabat Kabupaten yang tidak mau ketinggalan para kuli tinta dengan bringas mempublikasikan semua peristiwa malam itu. Semua media massa baik cetak, internet, maupun televisi menyorot peristiwa tersebut. Bupati pun tidak luput dari cecaran pertanyaan insan-insan media. Bupati pun kedodoran dengan hal tersebut karena memang bupati kurang paham dan bahkan tidak tahu dengan seluk beluk jembatan sampai bisa roboh itu.

Akhirnya semua kalangan menekan untuk segera diperbaiki jembatan tersebut dan memberi santunan kepada semua korban. Pranoto pun sebagai kepala desa atau lurah di Desa Selasih ikut-ikutan memprovokasi agar segera ditindaklanjuti permasalahan Jembatan Mbah Guru karena jembatan tersebut menjadi denyut nadi perekonomian desanya. Pemerintah pun menyanggupi untuk segera membangun jembatan Mbah Guru dan memberikan santunan kepada seluruh korban.

Sebuah ironi, haruskah Pranoto mengorbankan warganya untuk mendapatkan perhatian pemerintah? Pranoto pun bersyukur dengan dibangunnya jembatan Mbah Guru, namun di satu sisi lain dia juga menangis karena banyak warga desa menjadi korban demi terbangunnya jembatan yang lebih baik lagi. Sebuah pertanyaan terlontar untuk diresapi “Haruskah rakyat kecil jadi korban dulu baru Pemerintah bangun? Bukankah negeri ini menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya?”

TENTANG PENULIS: Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMAN 1 Plosoklaten Kab. Kediri. Penulis merupakan putra asli Ponorogo. Menulis cerpen, puisi, esai dan pernah dimuat di berbagai media massa. Penulis bisa dihubungi di 0082235020644 atau di email: aistiyawan@gmail.com

 


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Salam.

Editor : Nur Wachid
#Mbah #cerpen #guru #jembatan #Andri Istiyawan