Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Ikan Dewa

Nur Wachid • Jumat, 5 Januari 2024 | 01:42 WIB

(ILUSTRASI: DOKUMEN JAWA POS RADAR MADIUN)
(ILUSTRASI: DOKUMEN JAWA POS RADAR MADIUN)

Malam itu, rembulan tampak bersinar terang. Suasana malam gelap gulita dan senyap. Para warga memang terbiasa mengurung diri di rumah mereka kala petang menjelang.

PenulisPutri Oktaviani

Di awal Desember, desa yang saya singgahi sejak lahir kedatangan sekelompok mahasiswa berjumlah lima orang. Mereka berasal dari Jakarta dan tampak modern dari pakaian hingga wajahnya. Sangat berbeda jauh dengan warga sekitar yang jejaring internet saja belum terpasang. Kedatangan mereka membawa sedikit keramaian di desa saya yang cukup sepi. Hanya terdapat sekitar 127 penduduk, dan jika selepas petang, maka aura mistis seperti menyebar di seluruh pelosok Desa.

Tak bisa dipungkiri jika desa ini masih kental hal-hal mistis. Perempuan masih dibantu dukun beranak untuk melahirkan. Jika ada warga yang sakit keras, maka ada tabib yang dipercaya warga untuk menyembuhkan. Kehidupan kami memang masih kuno, jauh dari peradaban modern. Tapi meski begitu, kami tak pernah kekurangan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Desa ini diberkahi oleh Tuhan. Itulah mengapa Desa kami hampir jarang tidak terkena bencana; banjir, tanah longsor, gempa bumi dan sebagainya.

Baca Juga: Cemas saat Hujan Deras dan Petir Melanda? Baca Doa Ini Bikin Hati Tenang

Sebagai pembimbing mereka, saya membawa kelima mahasiswa berkeliling Desa. Mereka tampak takjub dengan keindahan alam sekitar. Termasuk ikan yang menjamur di sekitaran sungai dengan bebas. Udara dingin menusuk hingga ke tulang-tulang. Saya sudah terbiasa dengan suhu, tapi sepertinya mereka tidak. Bisa dilihat dari jaket yang mereka keluarkan sejak turun dari kendaraan.

“Ini namanya ikan dewa. Dari namanya mungkin kalian bisa tahu bahwa ikan ini milik Dewa,” kata saya memberitahu mereka.

“Ehm, maaf, milik dewa maksudnya bagaimana ya, Pak?” Salah satu dari mereka bertanya dengan raut kebingungan. Diikuti dengan wajah-wajah temannya yang sama.

Sejenak saya menatap ikan-ikan berukuran jumbo itu sebelum menjawab, “Ikan ini milik Dewa. Intinya, kita tidak boleh menangkap ikan-ikan dewa ini dari sungai itu. Atau jika melanggar, maka ada hukuman dari alam yang menimpa si pencuri ikan dewa.”

Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala. Tidak tahu apakah mereka paham apa yang saya jelaskan. Sebenarnya saya sendiri hanya mendapat informasi itu secara turun-temurun dari leluhur. Sebagai masyarakat pribumi di sini, saya hanya mengikuti aturan tanpa banyak bertanya.

Baca Juga: Festival Nasional Reog Ponorogo dan Rontek Pacitan Masuk Event Unggulan Jatim, Diusulkan Bersama Total 10 Event Menjadi KEN 2024, Berikut Daftarnya

“Ayo kita lanjut ke sana!” ajak saya pada mereka. Mengalihkan perhatian dari ikan-ikan itu.

Kami mengitari Desa sambil belajar, bertemu warga yang tengah bekerja dari berbagai bidang. Mulai dari petani gandum, pohon karet, pekerja pabrik gula merah, sampai kerajinan tenun untuk pakaian warga sekitar. Desa kami belum bisa mengekspor hasil-hasil pangan dan sandang tersebut ke luar daerah. Maka itu, dengan kedatangan para mahasiswa diharapkan mampu mengedukasi, terutama warga untuk bisa berbisnis dalam skala besar.

Menjelang sore, kelima mahasiswa yang dibagi menjadi dua kelompok kembali ke rumah warga yang menjadi tempat singgah sementara. Meski mereka semua laki-laki, tapi tetap saja rumah warga tidak muat untuk menampung lima orang sekaligus. Sementara saya pulang ke rumah yang jaraknya sekitar 500 meter dari mereka.

Malam itu, rembulan tampak bersinar terang. Suasana malam gelap gulita dan senyap. Para warga memang terbiasa mengurung diri di rumah mereka kala petang menjelang.

Keesokan paginya, ketika istri saya baru menyiapkan kopi hitam di meja, saya dikejutkan oleh Wawan yang mendatangi rumah saya dan berkata, “Ada mahasiswa kamu yang melanggar aturan desa.”

Baca Juga: JIHADKU

Saya terkejut bukan main. Begitu pun istri saya. Seketika itu juga saya langsung pergi menuju tempat yang diarahkan Wawan. Di sana, sudah ada Kepala Desa, Pak Tohar –sesepuh Desa, kelima mahasiswa, dan beberapa warga yang wajahnya tampak kesal sekaligus cemas.

“Herman! Lihat anak-anak mahasiswa ini sudah melanggar aturan Desa. Kami ‘kan sudah bilang enggak perlu ada orang asing yang masuk ke wilayah ini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang membahayakan Desa kita, kamu mau tanggungjawab, hah?!” Salah satu warga sudah tersulut emosi di pagi hari.

“Tenang dulu, semuanya! Saya memang yang akan bertanggungjawab atas mereka semua. Tapi kita dengarkan dulu penjelasan dari anak itu,” kata saya berusaha bersikap tenang.

“Saya minta maaf, Pak!” kata mahasiswa yang bersalah pada saya.

“Lihat! Dia sendiri yang mengaku salah, karena sudah mencuri ikan dewa. Bagaimana kalau Dewa marah dengan mendatangkan bala bencana seperti banjir, tanah longsor dan lainnya?” Warga itu masih terus mengoceh.

Baca Juga: Hore, Tahun Baru 2024 Gaji PNS, TNI, Polri Naik Delapan Persen, Berlaku untuk Pusat hingga Daerah

Suasana tegang sangat terasa. Pak Tohar dan Kepala Desa menatap saya dan mahasiswa itu bergantian. Kami tidak bisa terus berdebat masalah ini dengan warga secara terbuka.

“Sudah, sudah, biar ini menjadi urusan kita. Warga bisa pulang ke rumah masing-masing!” titah Kepala Desa.

Setelah sahutan kecewa dari warga yang bubar, saya beserta Kepala Desa, Pak Tohar, dan satu mahasiswa itu duduk di ruang tengah rumah Kepala Desa. Kami berempat saling pandang satu sama lain sebelum Kepala Desa berkata, “Sudah, lupakan kejadian itu, dan jangan pernah mencuri ikan itu lagi!”

“Saya tidak kualat ‘kan, Pak?” Mahasiswa itu bertanya.

Baca Juga: Pohon dalam Ancaman Paku di Masa Kampanye Pemilu 2024, Begini Kata Aktivis

“Saya pikir, orang modern seperti kamu tidak percaya hal-hal seperti itu. Sebenarnya, ikan dewa tidak ada hubungannya dengan hal mistis. Tetapi, karna warga sekitar lebih percaya dengan hal mistis dibanding larangan Kades, maka kami sepakat ikan dewa kami keramatkan,” ujar Pak Tohar.

Saya tidak terkejut mendengar penjelasan mereka. Ini memang sudah bagian dari rencana besar kami sebagai pengurus Desa. Termasuk mendatangkan mahasiswa untuk mengembangkan Desa ke arah hal-hal positif. Jika ikan dewa tidak dikeramatkan, maka para warga tentu akan mengambil ikan-ikan itu secara bebas hingga ikan itu habis dan punah.


BIODATA SINGKAT: Penulis kelahiran Tangerang pada tahun 2000. Penggemar cerita horor ini senang menulis novel dan cerpen. Tulisannya terpercik di sejumlah media. Penikmat fiksi genre thriller & misteri.


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Salam.

Editor : Nur Wachid
#misteri #kkn #mistis #Ikan Dewa #mahasiswa #Putri Oktaviani