Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Tenggelam di Kedalaman Kesunyian

Nur Wachid • Rabu, 20 Desember 2023 | 02:43 WIB

(ILUSTRASI DANI ERWANTO/JAWA POS RADAR MADIUN)
(ILUSTRASI DANI ERWANTO/JAWA POS RADAR MADIUN)

Ia memandang hampa pada isi koper di depannya. Dalam sengal napas yang hendak ia atur sedemikian rupa, istrinya pasti akan tertawa jika ia menceritakan kejadian ini.

Penulis: Dody Widianto

SEJAK ia sering menawarkan dagangan cangkulnya menyusur jalan ke rumah-rumah warga, orang-orang tetiba mengganti namanya menjadi ‘kakek cangkul’. Padahal nama aslinya Samawi. Ia akan datang selepas panen, menagih janji pembayaran dari cangkul yang telah dijajakannya. Dalam dua keranjang kayu anyaman bambu yang diikatkan di kanan kiri boncengan sepeda motor bututnya, ada benda peralatan pertanian selain cangkul. Ada sabit, pisau dapur, batu asahan, dan beberapa bilah parang.

Pagi ini, usai berpamitan pada istrinya, ia segera menarik tuas setang motor dan berangkat sekalian menjajakan kembali peralatan pertanian. Buku catatan dan pulpen tak lupa ia selipkan di sakunya. Di sana, daftar nama pengutang dan alamat telah tertera dengan sejumlah nominal harganya.

Sampai di desa pertama, ia menagih dari rumah ke rumah. Namun, jawaban setiap orang yang ditagihnya membuat hatinya agak kecewa sejak hama wereng menghanguskan areal persawahan di sekitar daerah itu. Mereka semua berucap hampir sama. Bayar panen tahun depan. Sudah lima desa ia kunjungi dan hanya satu orang yang membayar cicilannya. Ia lihat keranjangnya hanya terisi gabah sembilan kilo. Ia menelan ludah. Siang makin terik. Kerongkongan telah kering. Perut mulai berbunyi nyaring. Ia belum sarapan.

Ia putuskan mampir ke warung. Namun, di pinggir jalan ia melihat dua orang berpakaian rapi, rambut klimis, keluar dari mobil hitam yang mengilat. Mereka berjalan menuju bank di pinggir jalan. Lalu dalam jarak setengah jam, mereka berdua keluar menenteng koper hitam. Entah apa yang dipikirkannya ketika tetiba dalam kepala kakek cangkul ini ingat utang istrinya yang banyak. Terakhir kemarin ia kedatangan tamu. Apalagi kalau bukan untuk menagih. Ia sedih, walau dalam hati juga telah sekuat tenaga bekerja untuknya.

Kebetulan letak bank ini agak di pinggir sawah di pertigaan jalan masuk desa. Kakek cangkul ini terus memerhatikan gerak-gerik dua orang ini. Ketika mereka berdua keluar lalu meletakkan koper ke dalam pintu samping, seolah sebuah bisikan, ia cepat menyusun sebuah rencana. Kakek cangkul terus membuntuti dari belakang. Hingga di pinggir jalan, dua orang tadi malah meletakkan mobilnya di bawah pohon trembesi. Mereka hendak membeli dawet yang letaknya jauh di ujung tanpa sadar jika pintu samping mobil tidak menutup sempurna. Kakek cangkul segera melangkah pelan, mengendap-endap, mendekati mobil dalam langkah nyaris tak terdengar. Dan seperti kucing diberi umpan ikan asin, ia cepat mengambil koper, lalu gegas kembali ke motor. Ia gesit menarik tuas, lalu segera kabur secepatnya tanpa diketahui pemiliknya.

***

Ia memandang hampa pada isi koper di depannya. Dalam sengal napas yang hendak ia atur sedemikian rupa, istrinya pasti akan tertawa jika ia menceritakan kejadian ini. Bisa juga menempeleng wajahnya karena sudah betindak yang bisa membahayakan nyawanya. Ia ingat ada dua koper dengan warna dan bentuk sama di dalam mobil tadi. Pesan istrinya tetiba menyelinap dalam kepala jika hidup itu tak usah neko-neko, tak usah banyak tingkah, asal dapat rezeki yang halal walau sedikit, hidup akan terasa tenang.

Jika ia kembali menemui pemilik mobil tadi, bisa saja tubuhnya jadi bonyok atau akan berurusan panjang di kantor kepolisian. Ia paham, tidak semua orang bisa sangat pemaaf seperti yang ia lihat di sinetron. Akhirnya, ia gegas kembali menarik tuas gas motor bututnya dalam sesal, sedih, dan malu. Dalam tempias sinar akhir hari yang sedikit teduh, ia mengendarai motor dalam langkah kebingungan. Lalu setengah jam kemudian, sebuah koper terbuka dengan isi pakaian yang sedikit terburai. Mengapung, bergoyang, membentur bebatuan dan rerumputan, kemudian terjungkal di deras aliran pintu air. Tenggelam di kedalaman kesunyian membawa kisahnya yang hilang.

 

Biodata Penulis: Lahir di Surabaya. Karyanya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Rakyat Sultra, Suara NTB, dll. Akun IG: @pa_lurah.

========

MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosio-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul. Adapun kiriman merupakan karya sendiri, bukan hasil plagiasi karya orang lain. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Salam.

Editor : Nur Wachid
#dody widianto #pendek #tenggelam di kedalaman kesunyian #Cerita