Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Cinta 14 Inci

Mizan Ahsani • Senin, 11 Desember 2023 | 23:00 WIB
Ilustrasi cerpen (DOKUMEN RADAR MADIUN)
Ilustrasi cerpen (DOKUMEN RADAR MADIUN)

Cerpen: Detia Widya Utama

GUBRAKKK! Erika terjatuh di halaman kampus dengan mulut hampir mencium batu yang ada tepat di depan mukanya. Nggak kebayang kan kalau first kiss-nya dengan sebongkah batu? Untungnya dia terselamatkan. Tangannya berhasil menumpu badannya yang seberat 60 kilogram itu. Ciuman pertama yang mengenaskan pun berhasil dihindari.

Tapi, Erika lupa akan satu hal.

“Aduh, sakit,” rintih Erika pelan sambil mengelus-elus tangannya yang berdarah.

Beruntung ada Siska yang kebetulan melihat Erika jatuh. Dia langsung datang menolong.

 “Kamu nggak apa-apa, Rik?”

Belum sempat menjawab pertanyaan dari Siska, Erika langsung histeris, “Laptopku!” Mata Erika melotot dengan wajah mendadak iba. Dia memandangi laptop 14 inci yang jatuh bersamanya.

Laptop Erika pun hang.

***

Perkuliahan selesai siang. Erika bergegas ke ruang teknisi yang ada di kampusnya. Jiwa anak kosnya pun muncul. Servis laptop di kampusnya gratis, tidak dipungut biaya. Mahasiswa lain juga banyak yang memanfaatkan fasilitas tersebut.

Sesampainya di ruang teknisi, Erika melihat Pak Radit sedang serius memandangi layar komputer. Laki-laki berkacamata itu adalah dosen TI di kampus Erika. Pak Radit juga merangkap sebagai teknisi tercanggih abad ke-21. Satu lagi, dia masih muda. Beda 5 tahun dengan Erika. Single. Juga ganteng, begitu menurut Erika. Tak sedikit mahasiswi yang curi pandang. Bahkan, dosen perempuan yang masih lajang tak ingin kalah eksis dengan mahasiswanya.

Suara Erika memecahkan keheningan ruang teknisi.

“Selamat siang, Pak.”

“Siang, ada apa ya Mbak?” tanya Pak Radit sambil membenarkan kacamatanya.

“Begini, Pak. Laptop saya terjatuh. Sekarang tidak bisa nyala,” jawab Erika dengan suara memelas.

“Oh begitu, saya coba cek dulu bagian mana yang rusak.”

“Terima kasih, Pak,” Erika langsung kegirangan. Maklum, laptop kesayangan. Hadiah dari bunda karena berhasil masuk di salah satu universitas ternama.

Setelah beberapa menit menunggu, Pak Radit menghampiri Erika sembari menenteng laptop. “Laptop kamu ada masalah di hard drive-nya karena benturan. Perlu beberapa hari untuk diperbaiki. Jadi, laptopnya harus dirawat inap. Bagaimana?”

“Tidak apa-apa, Pak, yang penting laptop saya bisa normal kembali,” jawab Erika pasrah.

***

Semenjak pertemuan di ruang teknisi, kesempatan untuk mereka bertemu pun semakin sering. Entah itu pada jam istirahat, jam makan siang, hingga suatu hari -tanpa disangka-sangka- mereka janjian pergi berdua. Tidak ada kata ”terlalu cepat” soal cinta, hanya ada kata ”tiba-tiba”. Tiba-tiba Erika dan Pak Radit mulai merasakan kecocokan pada diri masing-masing. Tiba-tiba Pak Radit mengajak Erika nonton. Tiba-tiba Pak Radit mengungkapkan perasaannya pada Erika sepulang nonton bareng.

Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil, keduanya menikmati alunan musik jazz yang diputar di mobil klasik keluaran 80-an. Mereka mengangguk-anggukkan kepala seakan ikut hanyut dalam alunan musik. 

Panggilan mereka pun sudah mulai berganti. Tidak ada lagi sapaan bapak atau mbak. Cukup memanggil nama masing-masing.

Di antara alunan musik jazz, Radit memulai pembicaraan.

“Rik, kok kita bisa sedekat ini ya?”

“Iya Dit, aku juga nggak nyangka,” jawab Erika tersipu.

“Mahasiswiku,” Radit senyum-senyum sambil menggelengkan kepala.

Wajah Erika memerah. Ia salah tingkah.

“Rik,” Radit berbisik pelan sambil tetap konsen menyetir mobil. “Gimana kalau kita pacaran aja?”

“P-pa-pacaran?” Erika syok.

“Iya, pacaran. Aku sama kamu,” tegas Radit.

“K-kamu serius? Aku kan mahasiswimu?”

“Ya, aku serius. Kalau nggak serius, nggak mungkin kan selama beberapa hari ini aku ngajak kamu keluar.”

Hening kemudian. Yang terdengar hanya alunan musik jazz menggelayut lembut di telinga. Erika masih berpikir keras apakah akan menerima tawaran Radit atau tidak.

Gimana Erika?” suara Radit memecah sepi. Sepertinya ia ingin segera mendapat kepastian.

“Baiklah, aku mau,” Erika akhirnya memberi jawaban. Senyumnya mengembang menampakkan lesung pipi yang membuat dia terlihat semakin cantik malam itu. Pantas saja Radit terpesona dibuatnya.

“Terima kasih, mahasiswiku,” Radit ikut tersenyum sambil memegang tangan Erika lembut.

          Mereka berdua akhirnya resmi jadian. Dosen dan mahasiswi. Hanya ada satu masalah sekarang: gosip. Bagaimana nantinya keadaan kampus begitu mengetahui ada dosen memacari mahasiswanya sendiri. Benar saja, gosip beredar begitu cepat. Beberapa mahasiswi histeris begitu mendengar dosen pujaannya berpacaran dengan Erika. Dosen-dosen perempuan yang masih lajang pun tak kalah heboh. Kebanyakan dari mereka tidak percaya Pak Radit bisa jatuh cinta. Apalagi dengan mahasiswa sendiri. Pasalnya, Pak Radit dikenal cuek terhadap mahasiswi-mahasiswi yang menggodanya. Mereka mulai menerka-nerka, kok bisa ya? Mungkin nggak sih? Bahkan, sempat ada gosip yang beredar bahwa  Erika menjual dirinya ke Pak Radit. Ada juga yang bilang, Erika sengaja mendekati Pak Radit agar nilai TI-nya bagus. Semua gosip itu cukup membuat Radit dan Erika tertekan. Tak ingin kesalahpahaman berlanjut, Radit akhirnya angkat bicara. Ia tak tahan lagi mendengar tuduhan-tuduhan palsu. Sementara Erika memasrahkan semua pada kekasihnya.

Siang itu semua dosen berkumpul di ruang rapat. Di forum itulah Radit menyapu bersih semua gosip yang selama ini beredar. Begitu rapat selesai, sebelum dosen-dosen beranjak dari tempat duduknya, Radit pun angkat bicara.

“Selamat siang semuanya, bisakah saya berbicara sebentar?”

Suasana yang tadinya gaduh kini mendadak hening. Di balik keheningan itu Radit mulai merangkai kata untuk membuat rekan-rekannya percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Begini, saya ingin meluruskan gosip yang beredar akhir-akhir ini di kampus, bahwa saya menjalin hubungan dengan mahasiswi bernama Erika.”

Suasana tetap hening. Namun, beberapa dosen terlihat syok. Sementara para dosen perempuan yang cintanya ditolak oleh Pak Radit mencibirkan bibirnya.

Mengetahui respons rekan-rekannya, Radit tak gentar. Ia melanjutkan klarifikasinya. “Saya akui semua itu memang benar, bahwa saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seorang mahasiswi bernama Erika. Yang ingin saya luruskan di sini adalah banyak gosip di luar sana yang mengatakan bahwa Erika menjual diri kepada saya. Jujur, saya marah mendengar itu!” tegas Radit sembari memperlihatkan wajah kesal. “Maka dari itu, saya berdiri di sini ingin menekankan bahwa gosip tersebut tidaklah benar. Saya mohon kepada semuanya untuk menghargai hubungan kami. Terima kasih atas pengertiannya.”

Radit kembali duduk di kursinya dengan muka yang sedikit lebih lega dari sebelumnya. Meskipun tetap nihil respons, namun segelintir dosen tampak mengangguk-anggukkan kepala seakan mereka memahami apa yang baru saja Radit sampaikan.

***

Seiring berjalannya waktu, gosip tak berdasar yang menyerang Radit dan Erika perlahan hilang dengan sendirinya. Kini keduanya dapat menjalani hubungan dengan leluasa, namun tetap tahu waktu dan tempat. Radit sendiri masih sulit mengerti, mengapa dirinya yang secuek itu bisa jatuh cinta pada Erika. Di matanya, Erika begitu istimewa, seistimewa pertemuan keduanya. Jika bukan gara-gara laptop 14 inci milik Erika, keduanya pun tidak akan dekat dan akhirnya jadian. Ya, memang gara-gara laptop berukuran 14 inci awal dari kedekatan mereka. Walaupun sempat mendapat tekanan dari orang-orang di sekitarnya, namun masalah itu berhasil mereka lalui. Memang tak ada yang salah dengan cinta, di mana mereka bertemu, kapan, dalam situasi seperti apa, perbedaan profesi sekalipun. Pun tak ada yang salah dengan laptop berukuran 14 inci yang secara tidak langsung telah mempertemukan mereka, dalam satu kata, yaitu ”cinta”. []

DETIA WIDYA UTAMA. Tinggal di Ponorogo.

Cerpen ini dimuat di koran Jawa Pos Radar Madiun pada 31 Juli 2022

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #laptop #cinta